Kasus Jeffrey Epstein kembali mengguncang dunia pada 2026. Meski ia dilaporkan meninggal dunia di dalam penjara pada 2019, namanya tetap menjadi sorotan publik. Sejak pertama kali mencuat pada 2006, kasus ini terus memicu spekulasi, kemarahan, hingga teori konspirasi yang tak kunjung mereda.
Kini, publik kembali mempertanyakan transparansi pemerintah Amerika Serikat setelah polemik seputar peluncuran Epstein Files—kumpulan dokumen yang telah lama dinantikan.
Lantas, apa saja fakta penting sebelum dan sesudah kontroversi rilis dokumen tersebut?
1. Pam Bondi Pastikan Dokumen Dirilis, Lalu Berubah Arah
Pada Februari 2025, Jaksa Agung AS Pam Bondi mengumumkan pengungkapan tahap pertama dokumen yang sebelumnya berstatus rahasia. Namun, rilis tersebut memicu kritik karena dinilai tidak memuat informasi baru.
Tim Komite Pengawasan DPR bahkan menyatakan belum meninjau dokumen tersebut sebelum dipublikasikan. Bondi kemudian menyebut kasus Epstein sebagai “puncak gunung es” dan mengklaim masih banyak informasi yang sedang diteliti.
Ketika ditanya soal daftar klien Epstein, Bondi sempat menyebut daftar itu ada di mejanya dan merupakan perintah Presiden Donald Trump. Namun, pada Juli 2025, Departemen Kehakiman AS (DOJ) justru menyatakan tidak ada daftar klien dan tidak ada dokumen tambahan yang akan dirilis. Pernyataan ini memicu kebingungan publik.
2. Ketidakjelasan Bukti dan Daftar Klien
Beberapa bulan sebelum pembatalan rilis lanjutan, Bondi menyatakan terdapat ribuan berkas yang harus diperiksa, termasuk materi ilegal yang tidak akan dipublikasikan demi melindungi korban.
Namun, ia kemudian mengklarifikasi bahwa yang dimaksud bukan “daftar klien” melainkan berkas kasus umum. Di sisi lain, memo DOJ menyebut tidak ada daftar klien yang merugikan pihak tertentu.
Ketidakjelasan ini memicu pertanyaan: Apakah bukti tersebut sama dengan yang digunakan dalam persidangan Epstein dan Ghislaine Maxwell? Ataukah ada temuan baru yang belum pernah diungkap?
3. Memo Resmi Tanpa Tanda Tangan dan Tanggal
Kontroversi semakin memanas setelah muncul memo dua halaman berstempel DOJ dan FBI. Meski bertujuan menunjukkan transparansi, dokumen tersebut tidak mencantumkan nama penanggung jawab, tanda tangan resmi, maupun tanggal penerbitan.
Akibatnya, publik mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab atas isi memo tersebut dan mengapa detail administratif penting justru dihilangkan.
4. Alan Dershowitz dan Pernyataan yang Berubah
Pada Maret 2025, pengacara Alan Dershowitz mengklaim mengetahui adanya dokumen yang disembunyikan demi melindungi pihak tertentu. Ia menyebut daftar nama tokoh terkenal memang ada, namun ia terikat kerahasiaan.
Namun, pada Juli 2025, ia menyatakan sebaliknya: tidak pernah ada daftar klien resmi. Menurutnya, yang ada hanyalah laporan FBI yang telah disunting untuk melindungi identitas.
Perubahan sikap ini semakin memperkuat spekulasi publik.
5. Pernyataan Kontroversial Alina Habba
Sekretaris Presiden AS, Alina Habba, juga ikut memicu polemik. Dalam wawancara Februari 2025, ia menyebut pemerintah memiliki catatan penerbangan, data, dan nama-nama yang akan diungkap.
Namun setelah DOJ menyatakan tidak ada dokumen tambahan, publik mempertanyakan konsistensi pernyataannya. Video wawancara tersebut bahkan ditonton jutaan kali di media sosial tanpa klarifikasi lanjutan.
6. Perubahan Sikap Donald Trump
Saat kampanye periode keduanya, Donald Trump berjanji akan membuka dokumen rahasia Epstein dan membongkar elite yang terlibat. Namun, setelah namanya ikut disebut dalam buku hitam Epstein, sikap Trump berubah drastis.
Ia bahkan mengkritik jurnalis dan anggota partainya yang terus menanyakan kasus tersebut. Perubahan sikap ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pendukung maupun pengkritiknya.
7. Polemik Rekaman CCTV di Penjara
DOJ menyatakan Epstein meninggal karena bunuh diri, didukung rekaman CCTV yang menunjukkan tidak ada orang masuk atau keluar selnya.
Namun, analis menemukan rekaman tersebut terdiri dari dua file yang digabungkan dan telah disimpan ulang beberapa kali. Meski DOJ menyebut rekaman itu lengkap dan asli, temuan teknis ini menambah daftar kontroversi yang belum terjawab.
8. Banyak Pejabat Mendadak Bungkam
Sebelumnya, sejumlah tokoh seperti JD Vance, Kash Patel, dan Dan Bongino lantang menuntut transparansi kasus Epstein. Namun setelah memo resmi dirilis, banyak pejabat memilih diam.
Perubahan sikap ini membuat publik semakin curiga bahwa ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi.
9. Pemecatan Pengacara Etika DOJ
Di tengah polemik Epstein Files, Jaksa Agung Pam Bondi memberhentikan pengacara etika senior DOJ, Joseph Tirrell. Pemecatan tanpa alasan jelas ini menarik perhatian karena terjadi bersamaan dengan kontroversi dokumen Epstein.
Keterkaitan Tirrell dengan kasus hukum lain yang melibatkan Donald Trump semakin memperkeruh situasi.
Epstein Files: Transparansi atau Misteri Baru?
Epstein Files awalnya diharapkan menjadi titik terang atas berbagai spekulasi selama bertahun-tahun. Namun, pembatalan rilis lanjutan, pernyataan yang saling bertentangan, hingga dokumen tanpa tanda tangan justru memperdalam misteri.
Publik kini tidak hanya mempertanyakan isi dokumen, tetapi juga komitmen pemerintah dalam menjunjung transparansi dan akuntabilitas.
Kasus Jeffrey Epstein mungkin telah lama berlalu, tetapi pertanyaan tentang siapa yang terlibat dan apa yang sebenarnya terjadi masih terus menggema hingga 2026.
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook










