01
Dari 05
Detak Jantung Janin dan Mitos tentang Jenis Kelamin
Bunda mungkin pernah mendengar bahwa detak jantung janin dapat memprediksi jenis kelaminnya sejak trimester pertama. Namun, apakah hal ini benar? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami lebih dalam mengenai bagaimana detak jantung janin berkembang dan apa yang bisa diinformasikan dari pengukuran tersebut.
Dr. Barry Aron, seorang dokter kandungan dengan keahlian dalam manajemen dan gaya hidup perempuan paruh baya, menjelaskan bahwa jantung bayi mulai berdetak sekitar minggu ke-6 kehamilan. Pada tahap ini, detak jantung janin bisa terlihat melalui USG. Awalnya, detak jantung per menit (bpm) hanya sekitar 90 hingga 110 bpm, lalu meningkat setiap hari. Meskipun begitu, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa detak jantung janin bisa digunakan untuk menentukan jenis kelamin anak.
Menurut Dr. Eric Eichenwald, ketua Komite Janin dan Bayi Baru Lahir dari American Academy of Pediatrics (AAP), tidak ada perbedaan signifikan antara detak jantung janin laki-laki dan perempuan. Anggapan bahwa detak jantung janin bisa memprediksi jenis kelamin hanya merupakan mitos. Banyak orang percaya bahwa jika detak jantung melebihi 140 bpm, maka janin adalah perempuan, sedangkan jika di bawah 140 bpm, maka janin adalah laki-laki. Namun, penelitian menunjukkan bahwa perbedaan ini tidak cukup kuat untuk menjadi indikator yang andal.
02
Dari 05
Perbedaan Detak Jantung Janin Laki-Laki dan Perempuan
Beberapa studi mencoba membandingkan detak jantung janin berdasarkan jenis kelamin. Misalnya, sebuah meta-analisis oleh Nouri et al. (2023) menyimpulkan bahwa perbedaan FHR antara janin laki-laki dan perempuan tidak konsisten secara klinis. Meskipun ada sedikit perbedaan dalam beberapa studi, hal ini tidak cukup untuk digunakan sebagai metode prediksi jenis kelamin.
Penelitian lain juga menemukan bahwa variabilitas detak jantung antara janin laki-laki dan perempuan mungkin sedikit berbeda, tetapi tidak cukup kuat untuk dijadikan indikator. Dengan demikian, perbedaan detak jantung lebih disebabkan oleh faktor fisiologis daripada jenis kelamin janin itu sendiri.
03
Dari 05
Detak Jantung Janin Normal
Menurut American Pregnancy Association, detak jantung janin normal berkisar antara 110 hingga 160 denyut per menit (bpm). Detak jantung ini bisa berubah sesuai dengan aktivitas janin. Contohnya, pada minggu ke-5 kehamilan, detak jantung biasanya sekitar 110 bpm, kemudian meningkat menjadi 170 bpm pada minggu ke-9, dan akhirnya stabil sekitar 150 bpm pada minggu ke-13.
Detak jantung juga bisa berfluktuasi hingga 25 bpm sepanjang hari. Misalnya, detak jantung bisa lebih tinggi saat bayi aktif atau setelah ibu hamil melakukan aktivitas fisik, dan lebih rendah saat istirahat atau tidur.
04
Dari 05
Detak Jantung Janin Tidak Normal
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan detak jantung janin terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur, kondisi ini bisa menjadi tanda masalah pada janin. Beberapa kondisi yang sering ditemukan antara lain:
-
Bradikardia
Bradikardia terjadi jika detak jantung bayi di bawah 110 bpm. Kondisi ini bisa disebabkan oleh gangguan aliran darah plasenta, kompresi tali pusat, hipotermia pada ibu, atau gangguan jantung bawaan pada janin. -
Takikardia
Takikardia terjadi jika detak jantung melebihi 160 bpm. Penyebab umumnya termasuk demam pada ibu, infeksi intrauterin, efek obat tertentu, atau hipoksia ringan pada janin. -
Kontraksi Prematur
Kontraksi prematur bisa menyebabkan fluktuasi detak jantung janin. Dokter mungkin akan melakukan non-stress test (NST) untuk memastikan kesejahteraan janin. -
Blok Atrioventrikular (AV Block)
Kondisi langka ini terjadi ketika sinyal listrik antara atrium dan ventrikel janin terganggu, menyebabkan denyut jantung tidak teratur. AV Block bisa terkait dengan penyakit autoimun pada ibu seperti lupus.
05
Dari 05
Cara Mengetahui Detak Jantung Janin
Untuk mengetahui detak jantung janin, terdapat beberapa metode medis yang bisa digunakan, antara lain:
-
Ultrasonografi (USG Doppler)
Metode ini mulai bisa mendeteksi detak jantung janin pada usia kehamilan 6–8 minggu. -
Doppler Fetal Monitor
Alat ini digunakan oleh tenaga medis untuk mendengarkan detak jantung janin melalui perut ibu. -
Non-Stress Test (NST)
Pemeriksaan dilakukan pada trimester ketiga untuk menilai kesejahteraan janin berdasarkan pola detak jantung dan gerakan janin. -
Cardiotocography (CTG)
Pemeriksaan CTG umumnya dilakukan di rumah sakit, terutama jika ada tanda-tanda stres janin atau komplikasi kehamilan.























