CIAMIS, MCNNEWS.ID
Ramadhan 2026 di Ciamis
Sore Ramadhan selalu punya cara sendiri untuk mengetuk hati. Di sudut Ciamis, ketika langit mulai meredup dan aroma takjil perlahan menguar dari gerobak-gerobak sederhana, sekelompok orang memilih jalan sunyi yang penuh makna: menghadirkan senyum bagi anak-anak yatim.
Baca juga : Gerimis warnai pembagian 1000 Takjil
Komunitas Baraya Lintas Kota, di bawah pimpinan Dedi Udheng, kembali menghidupkan tradisi berbagi yang telah menjadi denyut nadi mereka setiap Ramadhan. Tahun ini, santunan akan digelar pada 10 Maret 2026 di kawasan Pojok Kuliner Alun-alun Ciamis, menjelang waktu berbuka puasa. Bagi mereka, ini bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan ikhtiar menjemput keberkahan.
Santunan Anak Yatim
Di balik kegiatan itu, ada warisan spiritual panjang yang mereka jaga. Sebuah pesan abadi dari Sunan Gunung Djati, wali besar tanah Jawa, masih terngiang hingga hari ini: “Kula titip tajug lan fakir miskin.” Sebuah amanat sederhana, namun memuat tanggung jawab besar—menjaga tempat ibadah dan memuliakan mereka yang lemah.
Ramadhan memang bukan hanya tentang menahan lapar. Ia adalah madrasah empati. Bulan ketika ibadah tidak berhenti pada sajadah, tetapi menjelma menjadi tangan yang memberi dan hati yang peduli. Anak-anak yatim, yang kehilangan pelukan tempat mereka bersandar, menjadi bagian dari ujian kemanusiaan itu.
Di dalam Al-Qur’an, Allah bahkan mengaitkan kepedulian kepada yatim dengan kualitas iman. Dalam Surah Al-Ma’un, Allah menegaskan bahwa salah satu tanda mendustakan agama ialah menghardik anak yatim. Peringatan itu mengguncang kesadaran kita, karena iman tidak cukup hanya diyakini, tetapi harus diwujudkan melalui kasih sayang yang nyata.
Warisan Wali
Nabi Muhammad lebih dulu mencontohkan teladan tersebut. Dalam hadits riwayat Shahih Bukhari, Nabi Muhammad menegaskan bahwa orang yang menyantuni anak yatim akan bersamanya di surga seperti dua jari yang dirapatkan. Perumpamaan itu menggambarkan kedekatan yang begitu intim sekaligus menegaskan bahwa kepedulian sederhana dapat membuka jalan menuju surga.
Para ulama tasawuf pun memandangnya sebagai jalan penyucian jiwa. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan, menyantuni anak yatim adalah cara melembutkan hati yang keras. Ketika tangan mengusap kepala mereka, sesungguhnya yang disentuh bukan hanya rambut, tetapi juga sisi terdalam kemanusiaan kita sendiri.
Hal senada diungkapkan Imam Nawawi, yang menyebut santunan kepada yatim sebagai amal dengan pahala berlipat. Ia bukan hanya sedekah, tetapi juga bentuk silaturahmi kemanusiaan—terlebih jika dilakukan di bulan Ramadhan, saat setiap amal dilipatgandakan nilainya.
Bagi Baraya Lintas Kota, santunan ini mungkin tampak sederhana. Tidak ada gemerlap panggung, tidak ada gemuruh tepuk tangan. Hanya ada paket-paket bantuan, senyum tulus, dan mata-mata kecil yang kembali berbinar.
Namun justru di situlah letak kemuliaannya.
Sebab bisa jadi, di antara tangan-tangan yang memberi itu, ada jiwa-jiwa yang sedang disembuhkan. Dan di antara senyum anak-anak yatim yang kembali merekah, ada jalan sunyi menuju rahmat Allah yang sedang dibukakan.
Ramadhan selalu mengajarkan satu hal: terkadang, untuk menemukan cahaya, seseorang hanya perlu menjadi cahaya bagi orang lain.
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook




















