
Hi!Pontianak – Perusahaan Kabar Grup Indonesia bekerja sama dengan AMSI Kalimantan Barat, GRADASI Kalimantan Barat, dan HIPMI Kalimantan Barat berhasil menyelenggarakan Seminar Borneo Intra-Regional Dialogue 2025 dengan topik “Pusat Pertumbuhan Ekonomi di Wilayah Sub-Region Indonesia” pada hari Kamis, 30 Oktober 2025 di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat, Kota Pontianak.
Acara secara resmi dibuka oleh Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan dan dihadiri oleh beberapa kepala daerah serta tokoh penting, seperti Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, Bupati Ketapang Alexander Wilyo, Bupati Sekadau Aron, Konsulat Malaysia di Pontianak Azizul Zekri, Ketua Umum BPD HIPMI Kalbar Ridho Adyt Setiawan, Ekonom Universitas Tanjungpura Dr. Muhammad Fahmi, serta CEO Firman’s Group Hendra Firmansyah. Seminar ini dipandu oleh Dina Prihatini Wardoyo dari AMSI Kalimantan Barat.

Jayadi, Direktur Pembangunan Indonesia Barat sebagai salah satu pembicara dalam seminar, menyoroti potensi Kalimantan Barat sebagai “Pintu Masuk Negara dan Pusat Industri Berkelanjutan dengan Nilai Tambah” serta memiliki peluang besar dalam kerja sama antar daerah.
“Kedudukan strategis Kalbar yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, memberikan kesempatan besar untuk kerja sama regional. Target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029 bisa tercapai jika seluruh pihak terkait bekerja sama meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur sesuai dengan potensi unggulan daerah,” kata Jayadi.
Pada sesi pertama, Bupati Ketapang Alexander Wilyo menyampaikan berbagai kesempatan investasi serta perkembangan ekonomi di wilayah Kabupaten Ketapang. Dengan luas area mencapai 30.012 km² dan jumlah penduduk sekitar 600 ribu jiwa, Ketapang menduduki posisi terdepan sebagai daerah tujuan investasi di Kalbar dengan total nilai mencapai Rp8 triliun.
Alexander menyampaikan bahwa Ketapang memiliki 113 izin pertambangan, 80 perkebunan kelapa sawit, serta 35 pabrik kelapa sawit yang beroperasi. Selain sektor industri, Ketapang juga sedang memperkuat sektor pariwisata dengan mengembangkan destinasi alam, seperti Bukit Batu Daya, Bukit Duri, Sungai Pawan, dan Pulau Sawi.
Bupati Sekadau Aron menekankan pentingnya pendekatan pengelolaan sumber daya daerah dengan mengidentifikasi komoditas andalan. Mayoritas 80 persen penduduknya bekerja di bidang pertanian, dan pemerintah telah mendistribusikan 2.936 bibit kelapa untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Ia menambahkan, “Infrastruktur dasar, seperti pasokan listrik dan jaringan telekomunikasi masih menjadi kendala, di mana beberapa desa belum memiliki akses listrik dan sinyal internet yang terbatas.”
Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan perkembangan struktur ekonomi Kota Pontianak sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan pemerintahan di Kalimantan Barat. Ia menyoroti keterbatasan kemampuan Pelabuhan Dwikora dan berharap adanya percepatan pemindahan kegiatan ke pelabuhan baru guna mendukung kelancaran logistik.
Selain itu, Kota Pontianak terus memperkuat investasi di bidang jasa, perhotelan, dan kuliner, serta memanfaatkan potensi wisata Sungai Kapuas serta sektor kopi, di mana konsumsi kopi masyarakat Pontianak mencapai 400–500 kilogram setiap hari.
Pada sesi berikutnya, Dr. Muhammad Fahmi dari Universitas Tanjungpura Pontianak menekankan peran penting hilirisasi serta penguatan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan ekonomi nasional. Ia menyampaikan bahwa Indonesia saat ini memiliki lebih dari 86 juta penduduk kelas menengah dan 141 juta generasi milenial, komposisi yang memiliki potensi besar dalam mendorong ekonomi kreatif dan wirausaha.
Fahmi juga menyebutkan tentang ketahanan pangan dan energi hijau sebagai isu penting. Contohnya adalah pengembangan pohon kaliandra sebagai sumber energi alternatif menggantikan batu bara serta penanaman bambu oleh investor asal Inggris di Kalimantan Barat yang sesuai dengan inisiatif G20 Bamboo Dome.
Selain itu, pengembangan tanaman serai wangi di Kabupaten Kapuas Hulu serta nilam sebagai bahan baku parfum merupakan bagian dari upaya diversifikasi industri yang berbasis sumber daya alami setempat.
Sesi berikutnya dihadiri oleh Budi Prasetio, sebagai Executive Director II PT Pelindo, yang menyampaikan profil dan peran Pelabuhan Internasional Kijing di Mempawah sebagai pusat logistik modern di Kalimantan Barat. Pelabuhan ini mulai beroperasi pada 9 Agustus 2022 di area seluas 200 hektare dan dirancang untuk memperkuat koneksi laut Kalbar dengan pasar global.
Dengan keunggulan berupa pelabuhan dalam yang minim sedimen, Terminal Kijing diharapkan dapat meningkatkan investasi wilayah, menciptakan kesempatan kerja, memperkuat daya saing ekspor, serta menjadi penggerak pengolahan produk unggulan.
CEO Grup Firman Hendra Firmansyah menyampaikan beberapa inisiatif strategis guna mendukung perekonomian Kalbar.
“Kami akan membangun peternakan telur terbesar di Kalbar yang mulai beroperasi pada Desember mendatang serta menyelenggarakan Borneo Fair Reborn 2025 yang akan diadakan dari tanggal 11 hingga 21 November. Selanjutnya, kami juga akan mengembangkan program Bank Wakaf pertama di dunia yang menawarkan pinjaman modal berdasarkan infak tanpa bunga,” kata Hendra.
Sementara itu, HIPMI Kalbar mengungkapkan kendala utama yang dihadapi pelaku usaha di wilayah tersebut, seperti biaya pengiriman yang tinggi dan keterbatasan jaringan logistik. Meski demikian, HIPMI Kalbar tetap percaya diri dalam memperluas pangsa pasar serta memperkuat hubungan antar pelaku usaha lokal berkat dukungan program pemerintah.
Dengan diadakannya Borneo Intra-Regional Dialogue 2025, forum ini diharapkan menjadi awal dari terbentuknya kerja sama nyata antarwilayah di Pulau Kalimantan, serta memperkuat posisi Kalbar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi hijau dan berkelanjutan.
Kegiatan yang akan berlangsung hingga Oktober 2026 ini menjadi kesempatan penting untuk memperkuat kerja sama antar wilayah dalam menghadapi tantangan dan peluang ekonomi yang baru. Dengan kemitraan antara pemerintah, sektor bisnis, akademisi, dan masyarakat, Kalimantan Barat yakin mampu menjadi poros pengembangan strategis yang kompetitif di tingkat nasional maupun regional.























