MCNNEWS.ID, SEMARANG
Wabah Covid-19 menjadi salah satu masa paling sulit yang dirasakan masyarakat dunia dalam beberapa dekade terakhir. Tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi dan bekerja, krisis kesehatan ini juga meninggalkan scarring effect, yang memengaruhi kondisi mental seseorang yang merasa cemas saat mengambil keputusan untuk melakukan aktivitas ekonomi.
Pengalaman hidup di tengah ketidakpastian membuat banyak orang semakin waspada, termasuk dalam merencanakan liburan. Meski pembatasan perjalanan mulai dikurangi, kebiasaan merencanakan wisata jauh-jauh hari tidak langsung kembali seperti dulu. Scarring effect akibat pandemi, para wisatawan kini enggan merencanakan perjalanan terlalu jauh sebelumnya dan lebih memilih menunggu hingga mendekati tanggal keberangkatan sebelum memutuskan perjalanan.
Di sektor industri pariwisata, perubahan ini terasa sangat jelas. Salah satu pengelola hotel di Kota Semarang mencatat pergeseran pola permintaan dari para wisatawan. Di Grand Candi Hotel Semarang, perubahan perilaku wisatawan ini mulai terlihat nyata sejak setelah pandemi Covid-19 pada tahun 2022. Tingkat okupansi kamar yang biasanya bisa diprediksi jauh-jauh hari, kini sering bergerak lambat di awal masa liburan, sebelum mengalami lonjakan besar menjelang hari keberangkatan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai sudden travel, yaitu perjalanan yang diambil dalam waktu singkat tanpa adanya perencanaan yang matang. Manager Communication Grand Candi Hotel Semarang, Azkar Rizal Muhammad, menyampaikan bahwa pandemi menjadi titik balik dari perubahan pola kunjungan tamu hotel. Ketidakpastian selama masa pandemi mampu menciptakan kebiasaan baru bagi para wisatawan.
“Dulu, orang-orang bisa merencanakan rencana liburan jauh-jauh hari, mulai dari tiket pesawat, destinasi wisata, hingga penginapan. Nah, entah bagaimana setelah wabah Covid-19, tamu ini lebih memilih untuk” sudden travel. Benar-benar terasa sejak tahun 2022 hingga saat ini,” kata Azkar.
Perubahan pola perilaku menyebabkan ritme bisnis hotel semakin dinamis. Angka pemesanan kamar hotel pada awal masa liburan seringkali terlihat rendah, seakan menunjukkan permintaan yang lambat. Namun, situasi ini bisa berubah secara signifikan dalam waktu singkat. “Saat memasuki tanggal liburan, misalnya sekitar tanggal 20 Desember, tingkat okupansi hotel yang sebelumnya hanya 60% bisa tiba-tiba mencapai 100%. Dan hal ini terjadi hanya dalam satu hari saja,” ujarnya.
Ekonom Universitas Negeri Semarang (Unnes), Bayu Bagas Hapsoro, berpendapat bahwa perubahan ini bukan hanya respon sementara, tetapi merupakan pola baru yang muncul dari pengalaman bersama selama masa pandemi. “Secara umum saya melihat wisata global, termasuk di Indonesia, saat ini tampaknya mendekati sebagai fenomena yang relatif tetap, membentuk pola baru yang dipengaruhi oleh Generasi Z,” kata Bayu.
Menurut Bayu, wabah penyakit juga berhasil mengubah arah perjalanan wisata para pengunjung. Liburan tidak lagi hanya berfokus pada tujuan, tetapi lebih pada pengalaman. “Perjalanan mendadak ini menunjukkan “behavior bagi para wisatawan, kini mereka lebih mengutamakan sesuatu yang bersifat experience. Mereka mengunjungi karena terdapat Mereka melakukan kunjungan dikarenakan ada Mereka datang karena terdapat Mereka melakukan perjalanan karena ada Mereka berkunjung karena terdapat event, bukan karena destinasi,” jelasnya.
Dari sudut pandang ekonomi pariwisata, Bayu menyampaikan bahwa perilaku sudden trave Ia memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, baik bagi pelaku industri pariwisata maupun pemerintah daerah. Dengan pola wisatawan yang kini lebih menginginkan pengalaman, Bayu menilai pelaku usaha dapat menanggapi dengan mengembangkan paket-paket tertentu. bundling antara akomodasi dan tempat tujuan wisata.
“Bisa dibuat paket bundling dengan perjalanan menuju lokasi wisata yang menarik dan mampu memberikan kenangan tak terlupakan bagi para pengunjung. Contohnya, terdapat paket bundling dengan tujuan wisata ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), di mana para pengunjung dapat memperoleh pengalaman baru, seperti memetik buah melon,” kata Bayu.
Sejalan dengan pernyataan Bayu, konsultan pariwisata Bambang Mintosih juga menyampaikan bahwa tren perilaku sudden travel juga diinisiasi oleh generasi muda, khususnya Gen Z. Bambang menjelaskan bahwa terdapat perbedaan yang jelas dalam pola perencanaan perjalanan antar generasi. “Yang sudden travel ini umumnya diisi oleh generasi Z karena saat ini hotel semakin banyak di berbagai tempat, mereka juga menunggu flash sale.Sementara yang biasanya melakukan reservasi jauh-jauh hari adalah generasi tersebut baby boomer,” ujar Bambang.
Dalam menghadapi tren sudden travel, Bambang menyampaikan bahwa kota-kota yang biasanya menjadi tujuan wisata harus terus berubah menghadapi perubahan pola perilaku para pengunjung yang semakin tidak terduga. Saat ini, Bambang melihat beberapa wilayah telah cukup berhasil dalam memanfaatkan perkembangan tersebutsudden travel.“Contohnya Kota Semarang, Solo, Yogyakarta, Bandung, dan kota-kota lainnya berhasil memanfaatkan tren ini,” katanya.
Tidak hanya memengaruhi reservasi hotel, trensudden traveljuga memengaruhi cara para wisatawan menikmati destinasi tersebut. Ketua Forum Rumpun Komunitas (FRK) Pariwisata Borobudur, Kirno Prasojo mengungkapkan bahwa di kawasan Borobudur, saat ini wisatawan tidak hanya melakukan kunjungan ke Candi Borobudur, tetapi juga menjelajahi wisata desa di sekitar Borobudur.
“Jika pola kunjungannya memang sedikit berbeda. Dulu, orang yang berasal dari keluarga harus naik ke Candi. Sekarang mereka lebih memilih datang ke Borobudur untuk melakukan perjalanan wisata desa dengan menggunakan mobil VW Safari Klasik atau Andong, dan Borobudur hanya menjadi latar belakang foto selfie dari jauh,” ujar Kirno.
Selain perubahan perilaku, Kirno juga menyebutkan bahwa adanya pembatasan jumlah pengunjung, kenaikan harga tiket, serta aturan yang melarang naik ke puncak candi menjadi faktor lain yang membuat para wisatawan beralih mengunjungi area sekitar yang lebih mudah dicapai.
Jadi yang pertama, dulu pernah muncul isu bahwa tiket Candi Borobudur terlalu mahal. Mereka tidak datang karena mengira tiketnya mahal, padahal sebenarnya harga tiket tetap normal. Selanjutnya, yang kedua karena adanya pembatasan. Dulu jumlah pengunjung yang boleh naik ke Candi hanya 120 orang dalam satu jam, sehingga para wisatawan harus…booking Dulunya. Sekarang sudah dibuka, satu hari bisa ribuan orang masuk. Namun memang butuh waktu untuk mengubah citra yang sudah terbentuk bahwa tidak bisa naik ke Borobudur,” tambahnya.
Dampak nyata yang dirasakan oleh pelaku industri pariwisata, mulai dari sektor perhotelan hingga destinasi wisata, menunjukkan bahwa scarring effect Pengaruh pandemi Covid-19 dan meningkatnya tren sudden travel menjadi tantangan baru bagi sektor pariwisata. Perilaku perjalanan yang semakin tidak terduga membuat perencanaan bisnis semakin sulit untuk diprediksi, sementara permintaan bisa meningkat secara tiba-tiba dalam waktu singkat. Kondisi ini memaksa pelaku usaha untuk cepat merespons perubahan perilaku wisatawan yang bergerak cepat dan dinamis, serta melakukan penyesuaian operasional agar lebih fleksibel.
Di tengah ketidakpastian ini, kemampuan beradaptasi menjadi kunci kelangsungan hidup bagi sektor pariwisata. Ketika para wisatawan tidak lagi menginginkan rencana jangka panjang, destinasi dan pelaku usaha diharuskan menyediakan pengalaman yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan siap dinikmati kapan saja. Pada titik ini, terlihat bahwa traveling mendadak bukan hanya sebuah tantangan, tetapi juga ujian bagi industri pariwisata untuk tetap bertahan dan berkembang di masa pasca-pandemi Covid-19. (Fadya Jasmin Malihah)






















