Jurnalis MCNNEWS.ID, Ahmad Syarifudin
MCNNEWS.ID, SOLO– Penutupan Hotel Agas setelah dibangunnya Flyover Manahan Solo menunjukkan sebagian besar bagaimana pengaruh negatif dari pembangunan infrastruktur ini terhadap properti di sekitarnya.
Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Dr. Murtanti Jani Rahayu, menyatakan bahwa akses yang sulit serta kondisi jalan pendamping yang tidak memadai menyebabkan penurunan nilai properti di sekitar Flyover Manahan.
Saya merasa ini tidak diperhatikan. Pembangunan atau perencanaan infrastrukturflyoverDi Manahan tampaknya tidak cukup melakukan kajian yang dilakukan untuk meminimalkan dampak. Seperti tidak ada yang memiliki pemahaman yang sama. Dampak negatif terhadap siapa pun menjadi risiko. Saya hanya melihatnya demikian,” ujar Murtanti Jani Rahayu saat dihubungi MCNNEWS.ID, Senin (25/8/2025).
Bangunan flyoveryang sangat mencolok sehingga keberadaan bangunan di sekitarnya tidak terlihat dari kejauhan.
Bahkan gedung Hotel Agas yang berlantai tiga juga tertutup oleh struktur yang sangat besar. flyover.
“Dengan adanya flyoveryang bersifat desain cenderung tertutup padat sehingga ini kemudian berfungsi sebagai penutup struktur di sekitarnya.Viewpemandangan berbagai properti di sekitarnya menjadi terhalang. Hal ini kemudian menimbulkan dampak negatif terhadap keberadaan properti yang bersifat komersial. Properti yang tidak komersial juga akhirnya mengalami dampak negatif karena akses menuju rumah mereka menjadi lebih sulit. Apalagi jika properti tersebut bersifat komersial, jelas akan sangat berdampak pada penurunan daya tarik properti tersebut bagi masyarakat atau konsumen,” ujar Murtanti Jani Rahayu.
Ia membandingkannya dengan Flyover Purwosari yang masih memiliki jalur samping di sebelah kiri dan kanan yang secara relatif lebih lebar.
Masyarakat masih dapat mengakses secara penuh di sisi kanan dan kiri fly over, sehingga tidak menghentikan penggunaan properti sekitarnya.
Flyover Manahan ini tidak memiliki jalan pendamping, istilahnya jalan pendamping seperti yang ada di Purwosari. Di bawahflyoverterdapat jalur samping yang masih dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pihak luar untuk mengakses bangunan yang berada di sebelah kiri dan kanan rel,” ujarnya.
Di sini hanya terdapat jalan sempit yang kemudian menghalangi berbagai fasilitas pendukung keberadaan hotel.
Tokoh-tokoh menjadi tertutup, kemudian berbagai fasilitas lain yang sebenarnya juga dibutuhkan oleh hotel menjadi tidak dapat diakses dengan bebas,” jelasnya.
Kondisi akan berbeda apabila jalur pendamping di Flyover Manahan dibangun dengan lebih baik.
Menurutnya, hal ini akan melindungi properti di sekitarnya.
“Kalau flyover itu kemudian dibangun semacam frontage roadJadi jalan pendamping yang berada di sampingnya dapat tetap memberikan akses ke properti sekitarnya, mungkin hal itu akan menjadi solusi. Jadi tidak perlu khawatir properti di sekitarnya menjadi tidak terjangkau,” katanya.
Jalur perlintasan datar di bawah Flyover Manahan ditutup sepenuhnya.
Sebaliknya, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dibuat guna melayani para pejalan kaki meskipun posisinya sedikit jauh dari persimpangan.
“Intensitas lalu lintas menurun, baik pejalan kaki maupun kendaraan semuanya terasa lebih pelan. Jika melihat Manahan, sebenarnya sayang jika pintu itu ditutup. Sampai saat ini saya belum melihat fungsi optimal dari JPO tersebut karena yang melewatinya hanya 1-2 orang yang terpaksa harus melewati jembatan itu. Jadi, JPO tidak menjadi daya tarik bagi orang untuk melewatinya karena ada jalan lain yang lebih mudah,” tutup Murtanti Jani Rahayu.
Dilansir dari situs UNS, Dr. Ir. Murtanti Jani Rahayu, S.T., M.T., adalah dosen yang mengajar mata kuliah Perencanaan Perumahan dan Permukiman di UNS Solo.
Jabatan fungsional Murtanti Jani Rahayu di Universitas Negeri Semarang saat ini adalah Lektor Kepala.
Ia berfokus pada tiga bidang penelitian yaitu Perumahan dan Permukiman, Perencanaan Pembangunan Wilayah, serta Sektor Informal Kota.
Murtanti Jani Rahayu lulus dari jurusan S1 Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 1995, kemudian menyelesaikan program S2 di Universitas Diponegoro pada tahun 2001, dan melanjutkan studi S3 di universitas yang sama pada tahun 2019.
Mengenal Hotel Agas
Salah satu hotel tertua dan paling ikonik di Kota Solo adalah Hotel Agas.
Mengawali operasinya sejak tahun 1960-an, hotel ini pertama kali dibangun guna memenuhi kebutuhan penginapan bagi tamu yang datang dari luar kota ke Solo, baik untuk keperluan bisnis, pemerintahan, maupun liburan.
Letaknya di kawasan Manahan menjadikan hotel ini sangat strategis pada masa itu, karena berdekatan dengan pusat kota serta akses mudah ke berbagai wilayah sekitar.
Pada masa tahun 1970 hingga 1980, Hotel Agas menjadi tempat favorit bagi para tamu penting, mulai dari pengusaha, pejabat pemerintah, hingga tokoh masyarakat yang berkunjung ke Solo.
Hotel ini terkenal dengan arsitektur khas yang menggabungkan nuansa klasik Jawa dengan desain yang modern untuk masa itu.
Selain itu, Hotel Agas turut menjadi saksi dari kemajuan sektor pariwisata dan perekonomian Kota Solo.
Banyak acara besar, pertemuan resmi, serta kegiatan keluarga yang diadakan di hotel ini. Bahkan, beberapa selebritas dan tokoh nasional pernah menginap di sini saat berkunjung ke Solo.
Namun, pada masa tahun 2000-an, tingkat ketenaran Hotel Agas mulai menurun.
Persaingan yang sengit dengan hotel-hotel baru yang lebih canggih serta perubahan tata kota menyebabkan posisi Agas semakin sulit.
Kondisi semakin memburuk setelah dibangunnya Flyover Manahan yang secara langsung memengaruhi akses ke hotel.
Meski pernah berpindah manajemen guna berusaha bangkit kembali, usaha tersebut belum mampu mengembalikan kejayaan Hotel Agas.
(*)























