Cerita dari Pagi yang Gelisah di Pasar Manis Ciamis
Ramadhan baru beberapa hari. Namun harga kebutuhan pokok di Pasar Manis Ciamis mengalami peningkatan tajam. Salah satu komoditas yang naik drastis adalah cabe merah.
Dalam dua pekan dua kali kenaikan, sebelum Ramadhan dari harga Rp 40 ribu ke Rp 44 ribu/kg, dan awal pekan sekarang dari Rp 55 ribu naik menjadi Rp 60 ribu/kg.
Pagi belum sepenuhnya matang ketika langkah-langkah tergesa mulai memenuhi lorong sayur di Pasar Manis Ciamis, Kabupaten Ciamis. Di antara aroma daun bawang dan kol basah, warna merah cabe justru terasa paling mencolok, bukan karena segarnya, tapi karena harganya yang membuat orang menarik napas panjang.
Harga Cabe Merah
“Sekarang mahal, Bu. Naik lagi,” kata seorang pedagang, lirih, seolah harga itu adalah kabar duka yang harus disampaikan berulang-ulang.
Di hadapannya, seorang ibu rumah tangga mematung sejenak. Tangannya menggantung di atas tumpukan cabe merah keriting. Ia tidak jadi mengambil sekilo seperti biasanya. Hanya seperempat kilo. Itu pun setelah menimbang lama antara kebutuhan dapur dan isi dompet.
Baca juga : Longsor di Sukahaji Cihaurbeuti
“Padahal cabe itu bukan pelengkap. Itu jiwa masakan,” katanya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Bagi pedagang, kenaikan harga bukan selalu kabar baik. Memang, nilai jual meningkat. Tapi pembeli berkurang. Banyak yang datang, melihat, bertanya, lalu pergi tanpa membawa apa-apa. Cabe merah tetap merah, tapi kehilangan kepastian untuk pulang ke dapur siapa.
Pasar Manis Ciamis
Di sudut lain pasar, seorang pedagang mengaku harus menjelaskan hal yang sama puluhan kali setiap hari. Ia memahami kegelisahan pembeli, karena ia sendiri merasakannya saat harus membeli stok dari pemasok dengan harga yang sudah lebih dulu melonjak.
Kepala UPTD Pasar Manis Ciamis, Dana Sudiana, memahami denyut kegelisahan itu. Menurutnya, kenaikan harga cabe merah saat ini bukan sekadar angka di papan informasi, tetapi bagian dari rantai panjang yang dimulai dari ladang.
“Cabai merah keriting sekarang naik dari sekitar Rp 55 ribu menjadi Rp 60 ribu per kilogram. Ini terjadi karena pasokan dari petani berkurang, sementara permintaan meningkat,” ujarnya.
Cuaca, kata dia, menjadi salah satu penyebab utama. Panen tidak sebanyak biasanya. Sementara kebutuhan masyarakat tetap, bahkan cenderung meningkat.
Kenaikan Harga Cabai
Di pasar, hukum ekonomi itu terasa sangat manusiawi. Ia bukan grafik, tapi raut wajah yang berubah. Ia bukan teori, tapi tangan-tangan yang akhirnya mengurangi belanja.
Menjelang siang, matahari mulai menembus sela atap pasar. Cabe-cabe itu masih tersusun rapi. Merah, menyala, indah. Tapi hari itu, warnanya seperti menyimpan cerita lain,tentang dapur yang harus berhemat, tentang pedagang yang menunggu pembeli, dan tentang harapan sederhana: semoga harga segera kembali bersahabat.
Sebab di kota kecil ini, cabe merah bukan sekadar komoditas. Ia adalah bagian dari kehidupan. Dan ketika harganya melonjak, yang ikut terasa pedih bukan hanya lidah, tetapi juga hati.
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook
Penulis
Konten Kreator yang aktif di media sosial dan video YT dengan channel Bunga Sufi Media dan aktif menulis berbagai informasi tentang Ciamis serta kreator penulis bidang Budaya dan Sejarah.















