MCNNEWS.ID
Banjir dan longsor yang terjadi di Tapanuli Selatan menyisakan duka bagi warga. Namun di tengah kerusakan dan keterbatasan, semangat kebersamaan tetap terlihat.
Martabe dianggap sebagai kearifan lokal yang menghargai martabat, persatuan, dan tanggung jawab sosial. Nilai budaya martabe berperan sebagai perekat yang mempersatukan.
Ketua Martabe Research Centre Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan, Lucy Widasari menyaksikan martabe terwujud dalam sikap untuk hadir, melayani, dan berbagi tanpa batas. Hal ini tampak dari kampus yang berubah menjadi posko penanggulangan bencana, posko kesehatan, hingga dapur umum. Lucy melihat budaya ini menjadikan kemanusiaan sebagai inti dari tindakan.
“Gizi menjadi garis depan dalam menghadapi bencana. Tanpa asupan yang cukup, risiko penyakit meningkat, kekebalan tubuh menurun, dan proses pemulihan masyarakat akan berlangsung jauh lebih lambat, khususnya bagi anak-anak, ibu hamil, dan lansia,” ujar Lucy dalam pernyataannya pada Kamis (1/1/2026).
Pernyataan tersebut terlihat jelas dalam tindakan nyata yang dilakukan Lucy di lapangan. Di titik-titik pengungsian, dapur umum yang menggunakan bahan pangan lokal dihidupkan sebagai penopang utama kebutuhan pokok. Menu makanan bergizi tinggi disiapkan dari bahan yang sudah dikenal dan mudah diterima oleh masyarakat, seperti ubi, jagung, dan telur.
Selain itu, bantuan berupa makanan dan paket kebutuhan pokok didistribusikan secara khusus kepada kelompok yang rentan, seperti balita, ibu hamil, dan lansia, agar memastikan kecukupan gizi tetap terjaga dalam kondisi darurat.
Di dalam tenda-tenda pengungsian, ruang layanan psikososial, maupun titik-titik penyaluran bantuan, martabe muncul melalui rasa empati yang tulus dan kerja sama yang berkelanjutan.
“Krisis tidak menghilangkan rasa peduli, justru membangkitkan kembali nilai persatuan yang sudah lama tertanam dalam kehidupan masyarakat,” kata Lucy.
Sementara itu, Lucy mengatakan tim lapangan memberikan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari perlengkapan higiene, alat pembersih, tenda pengungsi, peralatan memasak, hingga fasilitas air bersih seperti tangki, ember, generator, dan pompa air. Di bidang kesehatan, pemeriksaan rutin dan layanan pengobatan terus dilakukan guna mencegah penyakit pasca-banjir, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang sering mengancam para korban bencana.
Ketua Yayasan Universitas Aufa Royhan, Henniyati Harahap, yang turut serta langsung ke lokasi bencana, menegaskan bahwa kehadiran perguruan tinggi tidak boleh hanya sebatas memberikan bantuan. Pada kondisi bencana, masyarakat membutuhkan lebih dari logistik, yaitu kehadiran, perhatian, dan pendampingan yang berkelanjutan.
“Kami berharap para korban dapat merasa tidak kesepian saat menghadapi masa sulit ini,” kata Henniyati.
Henniyati menganggap partisipasi langsung dari pimpinan dan komunitas akademik sebagai bentuk komitmen kemanusiaan serta tanggung jawab moral lembaga pendidikan untuk hadir di tengah masyarakat saat paling dibutuhkan.
Henni mengatakan bahwa keterlibatan akademisi, mahasiswa, relawan, dan masyarakat menunjukkan bahwa di tengah keterbatasan akibat bencana, rasa solidaritas justru semakin kuat. Dalam kerangka budaya martabe, menurutnya, harapan dapat kembali pulih.
“Kepercayaan kembali terbangun, dan semangat untuk bangkit bersama muncul dari kepedulian yang nyata,” kata Henniyati.
Rektor Universitas Aufa Royhan, Anto J. Hadi mengatakan bahwa bencana tidak boleh menghilangkan harapan masyarakat. Pada masa krisis ini, Anto percaya bahwa perguruan tinggi harus berada di garis depan dalam upaya kemanusiaan.
“Martabe mengajarkan kita tidak hanya datang membawa ilmu, tetapi juga perasaan—bersama masyarakat, hingga mereka benar-benar bangkit,” kata Anto.
Anto memastikan nilai martabe di Tapanuli Selatan bukan hanya menjadi ucapan belaka, tetapi menjadi pedoman etika yang mengarahkan langkah pemulihan.
“Daripada kampus, ke desa, demi masa depan yang lebih tangguh dan mandiri,” kata Anto.





















