Saat sedang membersihkan kamar, terkadang ada saat-saat di mana waktu terasa berhenti. Tangan terpaku pada suatu benda lama, seperti buku harian dari masa SD, tiket konser pertama, atau benda kecil yang sebenarnya sudah tidak lagi berguna. Logika mengatakan untuk membuangnya, namun perasaan justru menghalangi. Ada cerita, ada kenangan, dan ada rasa takut kehilangan sesuatu yang tidak bisa digantikan.
Kebiasaan menyimpan benda-benda lama sering kali dianggap remeh atau hanya bersifat emosional. Namun, di baliknya mungkin tersembunyi alasan psikologis yang lebih mendalam. Meskipun kita tidak boleh melakukan diagnosis diri sendiri tanpa bantuan ahli, ketidakmampuan ekstrem untuk membuang barang kadang dikaitkan dengan gangguan pengumpulan. Lalu, apa sebenarnya yang membuat kita sulit melepaskan benda-benda tersebut?
1. Kamu beranggapan bahwa benda ini masih bisa diperbaiki, sehingga tidak perlu dibuang
Saat melakukan pembersihan, kamu menemukan sebuah jaket yang zip-nya rusak dan jahitannya agak terlepas. Kamu merasa tidak ingin membuangnya karena masih merasa bisa diperbaiki. Akibatnya, jaket tersebut tetap kamu simpan di lemari dan akhirnya dilupakan seiring berjalannya waktu.
Faktanya, jaket itu tidak pernah diperbaiki dan hanya berada di dalam lemari. Kamu tidak ingin membuangnya, tetapi di sisi lain tidak mencoba untuk memperbaikinya. Menurut laman Asosiasi Kecemasan dan Depresi Amerika Serikat, ini adalah tanda-tanda hoarding disorder.
Untuk mencegah kebiasaan ini terulang kembali, sebaiknya kamu berikan jaket tersebut kepada seseorang yang benar-benar serius ingin memperbaikinya. Atau memberi deadline untuk diri sendiri agar dapat memperbaikinya jika kamu mampu melakukannya sendiri. Dengan demikian, tidak ada barang rusak yang menumpuk di dalam lemari.
2. Kamu berpikir, mungkin suatu saat akan memerlukannya
Apa alasan lain yang membuatmu enggan membuang benda? Kamu mengira bahwa suatu saat nanti kamu akan memerlukan benda tersebut. Contohnya, kamu tidak ingin membuang pakaian yang sudah sempit, karena berpikir mungkin bisa dipakai kembali suatu saat. Padahal, kondisi tubuhmu sekarang dan beberapa bulan lalu mungkin sudah berbeda.
Menurut Asosiasi Kecemasan dan Depresi Amerika Serikat, salah satu ciri hoarding disorder adalah merasa masih memerlukan benda tersebut di masa depan. Bahkan, merasakan rasa cemas yang kuat saat mencoba menghilangkan barang tersebut. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu berencana menggunakan benda ini dalam 6 bulan mendatang? Jika tidak, mungkin sudah waktunya untuk dibuang.
3. Benda tersebut berasal dari seseorang yang istimewa
Apakah kamu masih menyimpan benda yang diberikan oleh mantan kekasihmu? Meskipun hubungan kalian telah berakhir, kamu tetap merawat benda tersebut dengan baik. Salah satu alasan mengapa kamu enggan membuang benda itu adalah karena benda tersebut memiliki kenangan yang istimewa, demikian dikatakan oleh laman tersebut.This Simple Balance.
Tidak apa-apa jika kamu masih memiliki cukup ruang untuk menyimpannya. Namun, jika kamar atau rumahmu sudah penuh dengan barang, sebaiknya kamu memberikannya kepada orang lain. Opsi lainnya, kamu bisa mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya dan meminta maaf karena tidak mampu menyimpannya lagi.
4. Kamu berpikir, barang ini mungkin pada suatu waktu dapat dijual
Banyak tumpukan pakaian ada di dalam lemari kamu, namun kamu enggan membuangnya. Karena kamu merasa pakaian tersebut masih bisa dijual di garage sale atau menjualnya sebagai preloved stuff Namun, kamu belum juga mewujudkannya, sehingga benda tersebut menumpuk dan membuat rumah semakin sempit.
Terdapat dua metode untuk menanganinya. Pertama, tetapkan batas waktu kapan kamu akan menjualnya, baik secara langsung maupun melalui digital marketplace. Kedua, jika kamu tidak berhasil memenuhideadlinesegera berikan barang tersebut kepada orang yang lebih membutuhkan, saran dari laman This Simple Balance.
5. Kamu memiliki area penyimpanan untuk barang tersebut
Karena memiliki kamar atau rumah yang besar, kamu tidak perlu khawatir saat menyimpan barang-barang. Bahkan, meskipun benda tersebut tidak pernah digunakan. Sebaiknya disusun dengan rapi jika sudah tidak diperlukan lagi. Menurut penelitian dari Fokus pada Kehidupan Sehari-hari dan Keluarga (CELF), kekacauan (clutter) akibat benda yang berantakan atau menumpuk dapat memengaruhi suasana hati dan harga diri.
Berdasarkan penelitian tersebut, terdapat hubungan antara tingkat kortisol (hormon stres) dengan kerapatan objek-objek di dalam rumah. Disarankan untuk melakukan decluttering untuk mengurangi tekanan, rasa cemas, dan menenangkan pikiran. Decluttering sendiri berarti mengatur barang-barang yang sudah tidak lagi diperlukan.
6. Benda tersebut memiliki makna emosional
Di dalam gudang rumah, tersimpan sebuah mainan yang telah kamu miliki sejak usia 5 tahun. Mainan ini selalu menemanimu dalam berbagai keadaan, dan selalu kamu peluk saat tidur. Namun, kini kondisinya sudah rusak, kotor, dan sobek. Di satu sisi, kerusakannya hampir tidak bisa diperbaiki, tetapi kamu masih ingin menyimpannya karena mainan itu memiliki makna emosional bagi kamu.
Benda yang memiliki kenangan spesifik atau makna emosional adalah alasan mengapa kamu enggan membuangnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ahli saraf dari Princeton University menyimpan barang secara berlebihan dapat berdampak negatif, yaitu memengaruhi kinerja dan menyebabkan rasa stres. Jadi, kau harus segera melemparkan mereka!
7. Mungkin, kamu telah melupakan bahwa kamu memiliki benda itu
Saat sedang membersihkan kamar, kamu terkejut karena menemukan barang-barang yang tidak pernah kamu gunakan. Misalnya, cangkir kopi atau tas yang didapat dari toko oleh-oleh saat berlibur, lalu terlupakan. Sekarang kamu meragukan apakah sebaiknya menyimpannya atau memberikannya kepada orang lain, karena keberadaannya mengisi ruangan.
Kelalaian yang disebabkan oleh lupa tidak dapat dianggap sebagai sifat atau ciri hoarding disorder. Kecuali, kamu membeli barang, menumpuknya dan melupakannya terlalu sering. Sebaiknya, kebiasaan ini dihentikan karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan, kemarahan, depresi hingga memicu masalah keuangan yang parah, kata Asosiasi Kecemasan dan Depresi Amerika Serikat.


























