Tahun Baru Imlek adalah perayaan yang paling ditunggu-tunggu. Terlebih, dengan hadirnya berbagai tradisi yang memperindah momen spesial ini. Termasuk, ketika membicarakan sejarah orang Tionghoa dalam menjalani tradisi Yee Sang yang.
Akibatnya, keluarga dan kerabat dapat lebih dekat melalui tradisi menyantap hidangan salad ini. Selanjutnya, bagaimana tradisi Yee Sang? Popbela telah mengumpulkan beberapa informasinya berikut ini.
Apa yang dimaksud dengan tradisi yee sang?
Tahun Baru Imlek ditandai dengan berbagai jenis makanan khusus, salah satunya adalah yee sang. Makanan ini disajikan sebagai hidangan pembuka dan umumnya disantap pada hari Renri (hari ketujuh bulan pertama kalender Imlek).
Yee berasal dari frasa“yu sheng”yang berarti ikan yang masih segar atau belum dimasak“yu”: ikan; “sheng”mentah. Keistimewaannya, “yu sheng” yang berarti ikan mentah diucapkan dengan cara yang sama seperti“yu sheng”yang mengandung makna kelimpahan kehidupan. Oleh karena itu, salad yee pada perayaan Tahun Baru Imlek melambangkan harapan akan kekayaan dalam kehidupan di tahun mendatang.
Cara penyajian yee sang
Dalam penyajian yee sang, saus disajikan terpisah dan dicampur langsung dengan sumpit oleh pengunjung yang akan menikmatinya. Anggota keluarga dan kerabat dekat yang ingin menyantap yee sang akan berkumpul di sekitar meja makan dengan menggunakan sumpit. Menurut tradisi, saat mencampur saus, ikan dan sayuran harus diangkat tinggi di atas piring.
Semakin tinggi yee sang diangkat, maka semakin baik pula nasib yang akan diterima di tahun yang baru. Yee sang diaduk bersama-sama oleh semua orang yang duduk satu meja sembari saling mengucapkan selamat tahun baru Imlek. Tradisi mengaduk yee sang dan mengangkatnya tinggi disebut lo hei (撈起 atau 捞起).
Bahan utama dalam hidangan yee sang
Yee Sang terdiri dari dua bahan utama, yakni irisan ikan mentah segar dan berbagai jenis sayuran yang dipotong tipis. Ikan yang sering digunakan adalah tuna segar yang telah direndam dalam campuran minyak wijen, minyak goreng, dan lada agar cita rasanya semakin nikmat.
Sementara itu, aneka sayuran yang digunakan memiliki makna tersendiri dan mewakili warna-warna simbolis. Misalnya:
- Lobak dan jeruk bali melambangkan warna putih
- Wortel dan kubis brussel melambangkan warna jingga
- Mentimun melambangkan warna hijau
Kombinasi warna ini mempercantik tampilan hidangan sekaligus memperkaya makna simbolik di dalamnya.
Popularitas Yee Sang di Singapura, Malaysia, dan Indonesia
Tradisi Yee Sang telah lama dikenal di Singapura dan Malaysia. Bahkan, Departemen Warisan Nasional Malaysia menetapkan Yee Sang sebagai salah satu makanan warisan budaya. Meski demikian, sejumlah pihak di Singapura juga mengklaim bahwa hidangan ini berkembang di negaranya, khususnya melalui Restoran Lai Wah yang memiliki sejarah panjang dalam penyajian Yee Sang.
Di Indonesia sendiri, tradisi ini mulai populer dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir, terutama di kota-kota besar. Selain versi klasik, Indonesia juga memiliki variasi lain yang berasal dari kuliner Hakka khas Bangka, yakni “Ng-Sang”.
Ng-Sang Bangka menyajikan potongan ikan mentah yang dipadukan dengan saus kacang dan berbagai sayuran segar. Meski berbeda dari versi Malaysia dan Singapura, esensinya tetap sama, yaitu menghadirkan simbol keberuntungan dan kebersamaan.
Simbol Harapan di Tahun yang Baru
Pada akhirnya, Yee Sang bukan hanya soal rasa, melainkan juga makna. Tradisi Lo Hei yang meriah menggambarkan optimisme, kerja sama, dan doa bersama untuk masa depan yang lebih baik.
Melalui setiap irisan ikan dan sayuran yang diangkat tinggi, masyarakat Tionghoa menyampaikan harapan akan rezeki, kesehatan, dan kebahagiaan sepanjang tahun.
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook

























