MCNNEWS.ID, JAKARTA — Rencana stimulus ekonomi yang diumumkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sekitar pertengahan September 2025 dianggap mampu memberikan semangat baru bagi pasar saham Indonesia. IHSG kembali menargetkan level 8.000 dalam jangka pendek.
Dalam pengumuman pemerintah, paket bantuan ekonomi September 2025 terdiri dari 8 program percepatan pada tahun 2025, 4 program yang dilanjutkan hingga 2026, serta 5 program yang berkaitan dengan prioritas pemerintah dalam penyerapan tenaga kerja.
Setelah peluncuran paket stimulus, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup naik sebesar 1,06% menjadi 7.937,12 pada Senin (15/9/2025). Selama tahun 2025 hingga saat ini, IHSG mengalami kenaikan sebesar 12,11%.
Kemarin, jumlah transaksi yang terjadi mencapai Rp17,04 triliun, volume perdagangan sebesar 36,05 miliar lembar, serta frekuensi transaksi sebanyak 2,13 juta kali. Sementara itu,market capIndonesia pasar modal mencapai angka sebesar Rp14.309 triliun.
Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas menyampaikan bahwa momentum positif ini didukung oleh optimisme para investor terhadap paket stimulus 8+4+5 yang baru saja diumumkan pemerintah, meningkatkan harapan akan percepatan pemulihan ekonomi dan peningkatan kemampuan belanja masyarakat.
Saat ini, IHSG diperkirakan akan kembali naik untuk mencoba zonaresistanceterdekatnya pada 7.970–8.000,” katanya dalam penelitian, Selasa (16/9/2025).
Analis Penelitian Saham Panin Sekuritas Felix Darmawan menyatakan bahwa paket bantuan tersebut jelas akan menjadi angin segar bagi pasar saham. Terlebih lagi, kondisi pasar saham Indonesia saat ini sedang dalam perjalanan naik.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami kenaikan sebesar 1,06% menjadi 7.937,12 pada perdagangan hari ini, Senin (15/9/2025). IHSG tetap berada di area hijau, dengan kenaikan sebesar 12,11% sejak awal tahun ini (year to date/YtD) atau sejak perdagangan perdana tahun 2025.
“Paket stimulus ini memberikan semangat baru bagi pasar saham karena meningkatkan harapan pertumbuhan dalam negeri,” ujar Felix kepadaBisnis pada Senin (15/9/2025).
Jika terdapat bagian yang dialokasikan untuk energi transisi, pertambangan logam juga bisa mengalami peningkatan. Namun menurutnya, terdapat tantangan dalam penerapan paket stimulus ekonomi tersebut, khususnya mengenai masalah pelaksanaan.
“Jika realisasinya terlambat atau justru menyebabkan defisit fiskal membesar, pasar bisa kembali waspada. Jadi, sentimennya positif, tetapi tetap perlu dibuktikan di lapangan,” kata Felix.
Analis Investasi Infovesta Utama Ekky Topan menganggap paket bantuan yang diumumkan pemerintah tentu memberikan sinyal positif terhadap pasar saham secara keseluruhan. Program ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kemampuan beli masyarakat, memperluas peluang kerja, serta meningkatkan produktivitas berbagai sektor.
Di tengah tekanan makro dan meningkatnya persepsi risiko setelahreshuffle, kehadiran stimulus ini dapat berperan sebagai pemicu pemulihan sentimen investor, khususnya jika pelaksanaannya dilakukan secara nyata dan tepat sasaran,” kata Ekky kepada Bisnis pada Senin (15/9/2025).
Senada, Analis Keuangan PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menyatakan bahwa paket bantuan diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pasar saham Indonesia.
Dana stimulus sebesar Rp16,23 triliun pada tahun 2025 ditambah kelanjutan program di 2026 diperkirakan akan memperkuat likuiditas ekonomi dan kemampuan beli masyarakat, mengingat pengeluaran rumah tangga menjadi komponen terbesar dalam produk domestik bruto (PDB) nasional. Hal ini akan menjadi pemicu positif bagi kinerja perusahaan di sektor konsumsi, pariwisata, properti, serta transportasi.
“Selain itu, pasar saham berpeluang mendapat dorongan positif jangka pendek melalui kenaikan sementara, khususnya di sektor-sektor yang terpengaruh langsung oleh stimulus fiskal tersebut,” ujar Hari kepada Bisnis pada Senin (15/9/2025).
Menurutnya, beberapa saham yang diuntungkan meliputi saham di sektor konsumsi dan ritel. Bantuan pangan diperkirakan akan meningkatkan penjualan perusahaan-perusahaan seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), dan PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR).
Kemudian, kebijakan bantuan untuk UMKM dan koperasi berpotensi meningkatkan penyebaran produk FMCG dan ritel. Selanjutnya, kebijakan pajak penghasilan 21 DTP yang diberikan kepada sektor pariwisata dan ojek online BPU dapat memperkuat daya saing serta pengeluaran terhadap beberapa saham seperti PT Bukalapak Tbk. (BUKA), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT Bayu Buana Tbk. (BAYU), dan PT Panorama Sentrawisata Tbk. (PANR).
Selain itu, paket insentif juga memberikan dukungan terhadap saham perusahaan properti dan infrastruktur seperti PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA), PT Adhi Karya Tbk. (ADHI), serta PT PP (PTPP).
Sementara pemerintah menerapkan program stimulus, menurutnya, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan oleh pasar.Pertama, keterbatasan ruang fiskal dan kemungkinan perluasan defisit APBN berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pembiayaan utang negara, yang bisa memengaruhi kenaikan tingkat imbal hasil obligasi.
Kedua, efisiensi pelaksanaan anggaran juga menjadi perhatian, mengingat hambatan birokrasi dan pelaksanaan di lapangan sering kali menyebabkan rendahnya tingkat penyerapan, sehingga mengurangi dampak stimulus terhadap sektor riil maupun pasar saham.
Selain itu, bantuan pangan senilai Rp7 triliun berpotensi meningkatkan pengeluaran masyarakat. Namun, jika pasokan terbatas, hal ini justru dapat menyebabkan risiko kenaikan harga pangan yang pada akhirnya mengurangi margin perusahaan di sektor konsumsi.
Ekky juga menyampaikan beberapa tantangan yang perlu diperhatikan terkait adanya paket stimulus tersebut.Pertama, efektivitas pelaksanaan anggaran tetap menjadi masalah penting. Secara historis, penyerapan belanja pemerintah sering kali tidak maksimal atau terlambat karena hambatan birokrasi, bahkan dalam beberapa kasus rentan terhadap penyimpangan.
Keduakoordinasi antar kementerian dan lembaga pelaksana sangat penting, mengingat banyak program lintas sektor yang memerlukan keterlibatan yang kuat agar dapat mencapai sasaran secara tepat.
Ketigadi tengah pasar, para investor masih menantikan kejelasan mengenai arah kebijakan fiskal dan langkah selanjutnya dari Menteri Keuangan RI yang baru, sehingga efektivitas stimulus akan sangat bergantung pada komunikasi dan kredibilitas kebijakan tersebut.
“Dengan syarat pelaksanaan program berjalan dengan baik, saya yakin program ini bisa menjadi titik balik pemulihan minat investor terhadap sektor dalam negeri, khususnya menjelang akhir tahun,” kata Ekky.
Selain itu, delapan program ekonomi tahun 2025 yang diberi nama Akselerasi Program 2025 memiliki total nilai sebesar Rp16,2 triliun.
Berikut perinciannya:
1. Program Magang Lulusan Perguruan Tinggi (maksimal lulusan baru satu tahun) bagi 20.000 penerima manfaat
2. Pajak Penghasilan (PPh) 21 yang ditanggung pemerintah (DTP) diperluas untuk 552.000 pekerja di sektor yang berkaitan dengan pariwisata
3. Bantuan makanan selama dua bulan untuk 18,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM)
4. Bantuan iuran jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM) untuk pekerja yang tidak menerima upah (BPU), termasuk mitra pengemudi transportasi online/ojek daring, ojek pangkalan, sopir, kurir, dan logistik, yang mencakup sebanyak 731.361 orang
5. Program Manfaat Layanan Tambahan Perumahan BPJS Ketenagakerjaan untuk 1.050 unit
6. Program Padat Karya Tunai (cash for work) dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian PUPR untuk sebanyak 609.465 orang
7. Peningkatan deregulasi Peraturan Pemerintah No.28 (integrasi sistem kementerian/lembaga serta RDTR digital ke OSS) di 50 wilayah pada 2025, dan akan diperluas menjadi 300 wilayah pada 2026.
8. Program Kota (proyek percobaan Jakarta): peningkatan kualitas permukiman serta penyediaan ruang bagi ekonomi gig.






















