Perayaan Tahun Baru telah dilakukan oleh masyarakat peradaban Mesopotamia sejak abad ke-20 SM. Masuknya tradisi ini ke Indonesia tentu saja disebabkan oleh penjajahan.
—
MCNNEWS.ID hadir di channel WhatsApp, ikuti dan peroleh berita terkini kami di sini
—
MCNNEWS.ID
Pernahkah kita memikirkan asal usul perayaan Tahun Baru? Bangsa apa yang pertama kali merayakannya?
Secara umum, tidak ada peristiwa alam yang khusus terjadi pada tanggal 1 Januari. Pada waktu itu, matahari tidak berada di posisi tertentu yang berlaku bagi seluruh penduduk bumi, dan musim juga berbeda-beda di setiap belahan dunia.
Dari sana akhirnya disimpulkan bahwa penentuan 1 Januari sebagai awal tahun sesungguhnya bukan berasal dari hukum alam. Namun, seperti yang dikutip dari Kompas.com, merupakan hasil dari politik, agama, dan perbaikan matematika selama ribuan tahun.
Awalnya, perayaan tahun baru dilaksanakan pada tanggal yang berbeda-beda. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa perayaan tahun baru merupakan tradisi yang sangat lama, yang tidak selalu sesuai dengan kalender yang digunakan saat ini.
Seperti yang dilaporkan oleh Britannica, catatan terdini mengenai perayaan tahun baru berasal dari sekitar 2000 SM di Mesopotamia. Pada masa itu, Babilonia merayakan Akitu pada bulan baru setelah ekuinoks musim semi (sekitar awal musim semi), sedangkan Assyria memperingati tahun baru dekat ekuinoks musim gugur.
Selain masyarakat Babilonia dan Assyria, bangsa-bangsa purba lainnya juga memiliki perayaan tahun baru yang berbeda-beda.
Misalnya, penduduk Mesir dan Fenisia merayakan tahun baru dengan menghubungkan awal tahun dengan ekuinoks musim gugur. Sementara masyarakat Persia kuno memulainya pada ekuinoks musim semi.
Perbedaan ini terjadi karena setiap wilayah menggunakan kalender yang berbeda. Beberapa menggunakan kalender matahari, bulan, atau kombinasi keduanya. Sistem kalender yang beragam ini menyebabkan perayaan awal tahun tidak dilakukan secara bersamaan di seluruh dunia.
Peran Julius Caesar
Kaisar Romawi Kuno yang paling terkenal, Julius Caesar, menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun. Sebelumnya, masyarakat Romawi Kuno merayakan pergantian tahun pada 1 Maret.
Dulunya, kalender Romawi kuno hanya terdiri dari 10 bulan yang dimulai dari Maret hingga Desember. Hal ini menjelaskan mengapa bulan September (berasal dari kata septem yang berarti tujuh) dan Desember (berasal dari kata decem yang berarti sepuluh) sekarang berada di urutan ke-9 dan ke-12.
Raja Romawi yang kedua, Numa Pompilius, kemudian menambahkan bulan Januari (Ianuarius) dan Februari (Februarius) agar kalender lengkap sesuai dengan siklus bulan. Namun, penentuan 1 Januari sebagai awal tahun secara resmi baru terjadi ratusan tahun setelahnya.
Pada tahun 46 SM, Julius Caesar melakukan perubahan besar yang kemudian dikenal sebagai kalender Julian. Dalam sistem kalender ini, Caesar mengubah kalender Romawi yang sebelumnya sering tidak sesuai dengan musim.
Ia kemudian menetapkan sistem yang menghitung tahun sebagai 365 hari lebih tiga perempat serta menambahkan satu hari tambahan secara berkala. Kalender ini selanjutnya menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun.
Pemilihan bulan Januari sebagai awal tahun dilakukan karena Janus, dewa yang menjadi inspirasi bagi bulan ini, digambarkan memiliki dua wajah yang menghadap ke masa lalu dan masa depan. Makna filosofis ini kemudian dianggap sangat sesuai untuk memperingati dimulainya sebuah periode baru.
Berdasarkan informasi dari History.com, pada tahun 45 SM, perayaan Tahun Baru pertama kali diadakan pada 1 Januari ketika kalender Julian mulai digunakan. Seiring dengan penyebaran pengaruh Kekaisaran Romawi, penggunaan kalender Julian juga semakin meluas.
Pada abad kelima, Kekaisaran Romawi berakhir. Bersamaan dengan itu, pengaruh agama Kristen semakin meningkat di Eropa yang memasuki Masa Abad Pertengahan. Pada masa itu, penggunaan 1 Januari sebagai awal tahun pernah dihentikan.
Para pemimpin gereja pada masa Abad Pertengah memandang perayaan 1 Januari terlalu penuh dengan nuansapagan (penyembahan berhala). Mengutip On This Dayselama masa ini, banyak negara Eropa beralih merayakan tahun baru pada tanggal-tanggal yang memiliki makna keagamaan, seperti 25 Maret (Hari Raya Kabar Sukacita) atau 25 Desember (Natal).
Pada masa itu, Eropa selama ratusan tahun tidak memiliki keseragaman dalam menentukan kapan tahun baru dimulai. Kekacauan dalam administrasi yang disebabkan oleh perbedaan tanggal tahun baru berakhir ketika Paus Gregorius XIII memperkenalkan Kalender Gregorian pada tahun 1582.
Masalah utama dalam Kalender Julian terletak pada perhitungan tahun surya yang sedikit tidak akurat, sehingga menyebabkan kalender “ketinggalan” sekitar 10 hari pada abad ke-16. Untuk mengatasi hal ini, Paus Gregorius XIII tidak hanya menghapus hari yang berlebihan, tetapi juga menetapkan kembali 1 Januari sebagai awal tahun secara universal bagi negara-negara Katolik.
Meskipun kalender Gregorian diperkenalkan pada tahun 1582, penerimaannya tidak segera merata. Italia, Prancis, dan Spanyol merupakan negara-negara yang lebih dulu menerima sistem kalender yang baru ini.
Ternyata negara-negara yang beragama Protestan dan Ortodoks pada awalnya menolak perubahan tersebut. Inggris dan koloninya (termasuk Amerika Serikat) baru mulai merayakan tahun baru pada 1 Januari pada tahun 1752 setelah diberlakukannya Undang-Undang Kalender (New Style) di akhir tahun 1750-an.
Akhirnya, karena kalender Gregorian digunakan secara luas sebagai kalender sipil, 1 Januari menjadi titik awal tahun yang ditetapkan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Penerimaan 1 Januari sebagai awal tahun baru di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh sejarah kolonial. Sebagai negara yang pernah dikuasai oleh bangsa Eropa, khususnya Belanda, Indonesia menerapkan Kalender Gregorian yang telah menjadi standar global dalam hal administrasi dan kehidupan sipil.
Namun demikian, masyarakat Indonesia yang beragam tetap mempertahankan kalender yang berbasis budaya dan agama lainnya, seperti Tahun Baru Hijriah bagi umat Islam atau Tahun Baru Saka bagi umat Hindu di Bali, yang masing-masing memiliki sistem perhitungan astronomi tersendiri.





















