Ilham Hidayat
Kab Pangandaran, MCNNEWS.ID
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pangandaran melontarkan kritik keras terhadap Program Pendidikan Karakter Melesat, program unggulan Pemerintah Kabupaten Pangandaran yang digagas Bupati Pangandaran Hj. Citra Pitriyami bersama Wakil Bupati Ino Darsono. Selasa (10/02/2026)
PMII Pangandaran menilai Program Pendidikan Karakter Melesat mengedepankan pencitraan dan gagal menawarkan solusi nyata atas krisis pendidikan di Pangandaran.
Ketua PMII Pangandaran, Ridwan Fauzi, menilai Program Pendidikan Karakter Melesat sejak Juni 2025 gagal menyentuh akar persoalan pendidikan dan hanya menumpuk simbolisme keagamaan tanpa dampak nyata.
Mutu Pendidikan Pangandaran
“Pendidikan karakter tidak bisa direduksi menjadi barisan seremonial ibadah. Ketika ruang kelas rusak, guru honorer digaji tidak layak, dan literasi digital siswa tertinggal jauh, maka klaim keberhasilan program ini patut dipertanyakan,” tegas Ridwan.
Ia menilai Pendidikan Karakter Melesat justru berpotensi menyesatkan arah kebijakan pendidikan. Pemangku kebijakan menjadikan rutinitas salat berjamaah, pembacaan doa, dan aktivitas keagamaan lain sebagai indikator keberhasilan, sementara aspek kualitas pembelajaran akademik, nalar kritis siswa, dan kesiapan menghadapi tantangan global kurang mendapat perhatian.
“Anak-anak Pangandaran dibiasakan taat secara ritual, tetapi dibiarkan tertatih menghadapi dunia nyata. Lulus sekolah, mereka gagap teknologi, kalah bersaing, dan tidak dibekali keterampilan abad ke-21. Ini bukan pendidikan karakter, ini kegagalan kebijakan yang dibungkus narasi religius,” ujarnya.
Ridwan juga menyoroti kondisi faktual sekolah-sekolah di wilayah pelosok Pangandaran yang hingga kini masih kekurangan ruang kelas, minim sarana pembelajaran, serta bergantung pada guru honorer dengan kesejahteraan jauh dari kata layak.
PMII Pangandaran kritik
Ia menegaskan bahwa selama pemerintah mengabaikan persoalan-persoalan dasar tersebut, setiap program hanya akan berakhir sebagai slogan kosong. PMII Pangandaran juga mengkritik Dewan Pendidikan Kabupaten Pangandaran yang mereka nilai telah kehilangan daya kritis.
Ridwan menyebut Dewan Pendidikan lebih sering berperan sebagai penguat legitimasi kebijakan eksekutif daripada pengawas independen.
“Dewan Pendidikan seolah berubah menjadi ‘tukang stempel’ kebijakan. Ketika program bermasalah tidak dikritisi, publik berhak curiga bahwa fungsi pengawasan telah lumpuh,” kata Ridwan dengan nada tegas.
Program Pendidikan Karakter Melesat diluncurkan pada 23 Juni 2025 dan diterapkan dari PAUD hingga SMP dengan penekanan pada pembiasaan ibadah.
Kritik Kebijakan Pendidikan
PMII Pangandaran menyebut klaim keberhasilan Program Pendidikan Karakter Melesat belum terukur dan transparan.
PMII Pangandaran menegaskan akan terus mengawal kebijakan pendidikan daerah dan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut.
Ridwan menilai keberhasilan pendidikan ditentukan oleh kualitas akademik, karakter kritis, dan kesejahteraan pendidik, bukan ritual.
“Jika pendidikan terus dijalankan dengan logika seremonial dan pencitraan, maka masa depan generasi Pangandaran benar-benar dipertaruhkan,” pungkasnya.
Reporter Ilham Hidayat
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook
















