
MCNNES.ID
Prasasti Batu Tulis merupakan salah satu bukti sejarah paling penting mengenai keberadaan Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran. Prasasti yang kini memiliki status cagar budaya dengan nilai historis yang sangat tinggi ini masih berdiri.in situ(tempat aslinya) berada di Desa Batu Tulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat, dan hingga saat ini masih menjadi tujuan kunjungan masyarakat dari berbagai wilayah.
Secara fisik, Prasasti Batu Tulis terukir pada sebuah monolit batu andesit berwarna kelabu gelap. Bentuknya rata dan menyempit ke atas seperti bentuk gunung, dengan tinggi 1,82 meter, lebar bagian atas 27 sentimeter, lebar bagian bawah 1,52 meter, serta ketebalan sekitar 15 sentimeter.
Di permukaannya terdapat sembilan baris teks yang ditulis dengan aksara Jawa Kuna dan berbahasa Sunda Kuna, menjadikannya sebagai salah satu sumber sejarah utama yang bernilai bagi pengkajian masa lalu Tatar Sunda.
Isi Prasasti Batu Tulis berisi peringatan mengenai Sri Baduga Maharaja, raja besar Kerajaan Sunda yang juga dikenal dengan julukan Prabu Guru Dewataprana. Prasasti ini menyebutkan silsilah sang raja, mulai dari ayahnya, Rahyang Dewa Niskala, hingga kakeknya, Rahyang Niskala Wastu Kancana.
Selain itu, prasasti juga menyebutkan beberapa karya penting Sri Baduga Maharaja, seperti pembangunan parit pertahanan di Pakuan, pembuatan jalan batu, hutan samida, serta Sanghyang Talaga Rena Maha Wijaya. Berdasarkan kalender tahun Saka yang tercantum, prasasti ini ditulis pada tahun 1455 Masehi.
Usaha Melestarikan Prasasti Batu Tulis
Keberadaan Prasasti Batu Tulis tidak hanya memiliki makna sejarah dan akademis, tetapi juga mempunyai nilai sosial dan spiritual. Tempat ini berkembang menjadi ruang umum yang digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari wisata budaya, ziarah, pendidikan, hingga penelitian. Tingginya jumlah pengunjung menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat terhadap warisan sejarah tersebut.
Namun, tingginya jumlah pengunjung juga menimbulkan ancaman terhadap keutuhan fisik prasasti. Beberapa masalah pernah muncul, seperti tindakan vandalisme berupa coretan, penggunaan lilin dan dupa yang tidak terkendali, hingga kebiasaan menyentuh langsung permukaan batu prasasti. Jika tidak ditangani dengan serius, aktivitas semacam ini berisiko mempercepat kerusakan pada batu yang telah bertahun-tahun berdiri.
Selama tahun 2024 hingga 2025, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat, yang merupakan unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan, menjalankan berbagai kegiatan pemantauan dan konservasi terhadap Prasasti Batu Tulis. Upaya ini dilakukan sebagai tindakan perbaikan untuk mengatasi kerusakan yang telah terjadi, sekaligus memastikan stabilitas kondisi fisik prasasti tersebut.
Selain tindakan perbaikan, langkah pencegahan juga dilakukan melalui pembaruan struktur pelindung atau cungkup. Mengingat posisi prasasti berada di area terbuka dan rentan terhadap pengaruh cuaca, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX membangun cungkup baru sebagai pengganti bangunan lama. Pembaruan ini dilakukan tanpa mengubah konteks situs, dengan memperhatikan aspek teknis, karakter wilayah, serta nilai autentisitas cagar budaya.
Hasil dari rangkaian kegiatan yang dilakukan mulai terlihat. Kondisi fisik Prasasti Batu Tulis kini lebih bersih, kerusakan akibat tindakan vandalisme dan benda asing telah ditangani, serta peran perlindungan prasasti melalui keberadaan cungkup mengalami peningkatan yang signifikan. Upaya ini juga menunjukkan adanya kolaborasi antar lembaga pemerintah dalam melestarikan warisan budaya nasional.
Pemeliharaan Prasasti Batu Tulis menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga aset penting bagi bangsa. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan dan partisipasi masyarakat yang bertanggung jawab, warisan sejarah seperti Prasasti Batu Tulis dapat terus dipelihara sebagai dasar pembentukan identitas bangsa di tengah tantangan globalisasi.
Penulis
Shanny Ratman adalah seorang wirausahawan dan pengelola media yang telah menekuni dunia usaha sejak 1997. Berstatus menikah, ia memulai karier sebagai Captain Restaurant di Inasuki Japanese Restaurant, Bandung. Tahun 1999, ia merintis usaha kuliner dengan berjualan makanan Eropa di kawasan Cibadak, Bandung, lalu pada 2001 membuka warung makan di Ciamis.
Pengalamannya berkembang ke bidang event organizer sebagai crew EO di Bandung sejak 2015. Pada 2018, ia mengikuti pelatihan entrepreneur bersama EntrepreneurID secara online dan menjalankan bisnis online hingga 2020. Tahun 2022, ia kembali ke Ciamis untuk mengembangkan bisnis kuliner, dan sejak 2023 aktif berkolaborasi membuka usaha kuliner yang terus berjalan hingga kini.
Selain itu, sejak 2025 Shanny turut membangun dan mengelola portal berita mcnnews.id sebagai admin. Dengan pengalaman di bidang kuliner, event, bisnis digital, dan media, ia dikenal sebagai pribadi adaptif, konsisten, dan berorientasi pada kolaborasi serta pengembangan usaha berkelanjutan.














