Berita duka datang dari dunia bisnis Indonesia. The Ning King, pendiri Argo Manunggal Group dan tokoh yang memimpin pengembangan kawasan kota mandiri Alam Sutera, meninggal pada 2 November 2025 pada usia 92 tahun.
Dalam pernyataan resmi dari keluarga, pria yang lahir di Bandung pada 20 April 1931 digambarkan sebagai sosok yang hangat, penuh kasih sayang, dan rendah hati. Ia meninggalkan seorang istri, Lie Ang Sioe Nio, anak-anak, menantu, serta cucu-cucu yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
“Seluruh keluarga besar Alam Sutera Group menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Semoga damai dan cahaya kasih Kristus senantiasa menyertai serta memberi penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan,” tulis manajemen Alam Sutera dalam pengumuman yang diumumkan pada hari Minggu (2/11).
Ning King terkenal sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia, meskipun selama hidupnya ia lebih memilih tetap rendah hati. Ia memulai usahanya dari nol, mendirikan bisnis tekstil di Salatiga pada tahun 1961 setelah belajar dagang dari ayahnya, seorang pedagang yang berasal dari Fujian, Tiongkok.
Pada tahun 1977, ia membangun PT Argo Pantes Tbk (ARGO), sebuah pabrik tekstil yang kemudian terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dari titik ini, kerajaan bisnisnya berkembang menjadi Argo Manunggal Group, konglomerasi yang mencakup lebih dari 30 perusahaan dalam berbagai bidang seperti tekstil, baja, konstruksi, properti, kawasan industri, asuransi, serta agribisnis.
Saat ini, Argo Manunggal Group mengelola beberapa lini utama seperti Industrial by Argo Manunggal (IAM), sebuah holding yang menaungi Cakrasteel, Pralon, dan Fumira. Grup ini juga mengelola Lifestyle by Argo Manunggal Group, yang meliputi berbagai pabrik tekstil di Tangerang, Salatiga, Bandung, dan Semarang.
Warisan terbesar The Ning King di bidang properti adalah PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), pengembang kota mandiri di Serpong, Tangerang, yang didirikan olehnya bersama menantunya, Haryanto Tirtohadiguno, pada tahun 1993. Setelah melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2007, Alam Sutera terus berkembang menjadi salah satu area permukiman dan komersial paling bergengsi di wilayah barat Jakarta.
Proyek-proyek besar seperti Mall @ Alam Sutera, Flavor Bliss, The Tower, serta Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali menjadi tanda keberhasilan visinya. Dalam laporan tahunan 2022, The Ning King tercatat sebagai pemegang saham utama melalui PT Tangerang Fajar Industrial Estate, PT Manunggal Prime Development, dan PT Argo Manunggal Land Development.
Selain Alam Sutera, keluarga The Ning King juga memiliki saham sebesar sekitar 64 persen di PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST), pengembang kawasan industri MM2100 di Cikarang Barat.
Tokoh Berprofil Rendah yang Muncul dari Kekacauan Figur Berpenampilan Sederhana yang Bangkit dari Kegagalan Orang Biasa yang Melalui Masa Sulit dan Berhasil Kisah Seorang Pribadi yang Mengatasi Tantangan Hidup Sosok yang Tidak Dikenal Namun Berhasil Melewati Kesulitan
Perjalanan The Ning King tidak dapat dipisahkan dari badai krisis keuangan Asia 1997–1998 yang mengguncang dunia bisnis nasional. Ia pernah menjadi salah satu pengusaha besar yang terkena dampak utang dolar dan akhirnya harus menutup Bank Danahutama, bank miliknya yang terdampak krisis tersebut.
Namun, ketekunan dan keberaniannya dalam memperbaiki diri membuat Argo Manunggal Group kembali bangkit. Ia menyelesaikan kewajibannya terhadap Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan perlahan memulihkan kredibilitas perusahaannya.
“Di masa depan, kita perlu lebih waspada,” katanya pada saat itu, menunjukkan sikap yang penuh pertimbangan, yang menjadi ciri khasnya.
Meski kekayaannya diperkirakan mencapai US$1,8 miliar berdasarkan indeks Bloomberg Billionaires Index, The Ning King jarang muncul di media atau berusaha memperoleh popularitas. Forbes pernah memasukkannya dalam daftar 50 Orang Terkaya Indonesia pada tahun 2017 dengan jumlah kekayaan sekitar US$450 juta.
“Memang dia sosok yang rendah hati. Tidak banyak orang membicarakan hal itu, tetapi semua tahu dampaknya,” ujar Soni Wibowo, Direktur PT Bahana TCW Investment Management, dalam wawancara lama.
Warisan terbesarnya tidak hanya berupa bangunan dan kawasan megah yang ia dirikan, tetapi juga semangat kerja keras, kehidupan sederhana, serta komitmen jangka panjang terhadap pembangunan bangsa.
Dalam pernyataan kematian, keluarga menyampaikan bahwa informasi mengenai acara penghormatan dan pemakaman akan diberitahukan lebih lanjut.
Penulis
Berusaha untuk menjadi lebih baik dengan membangun bisnis kuliner dan menjalankan dunia website yang memang menjadi konsen selama ini sejak tahun 1998






























