Penulis : Shanny Ratman
Editor : Tim mcnnews.id
MCNNEWS.ID
Perkembangan industri otomotif Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berubah sangat cepat. Jika dulu masyarakat hanya dihadapkan pada pilihan mobil bensin atau diesel, kini mobil listrik mulai menjadi primadona baru. Jalanan kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Bali mulai dipenuhi kendaraan listrik dari berbagai merek.
Pemerintah pun terus mendorong penggunaan kendaraan listrik melalui berbagai insentif, mulai dari pajak ringan hingga dukungan pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik umum atau SPKLU. Di sisi lain, mobil bensin masih menjadi pilihan utama sebagian besar masyarakat Indonesia karena dianggap lebih praktis, mudah dirawat, dan cocok untuk perjalanan jarak jauh.
Lalu pertanyaannya, sebenarnya mana yang lebih baik antara mobil listrik dan mobil bensin? Apakah mobil listrik benar-benar lebih hemat? Bagaimana soal biaya perawatan, performa, ketahanan baterai, hingga harga jual kembali?
Perdebatan ini juga ramai dibahas oleh para pengamat otomotif Indonesia seperti Fitra Eri dan Bang Mobi yang kerap memberikan pandangan kritis namun realistis terkait perkembangan kendaraan listrik di Tanah Air.
Perbedaan Dasar Mobil Listrik dan Mobil Bensin
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami perbedaan mendasar dari kedua jenis kendaraan ini.
Mobil bensin menggunakan mesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE). Mesin bekerja dengan membakar bensin untuk menghasilkan tenaga yang kemudian disalurkan ke roda.
Sementara itu, mobil listrik menggunakan motor listrik yang mendapat tenaga dari baterai berkapasitas besar. Tidak ada proses pembakaran bahan bakar seperti pada mobil konvensional.
Perbedaan inilah yang akhirnya memengaruhi hampir semua aspek kendaraan, mulai dari performa, biaya operasional, suara mesin, hingga perawatan.
Performa: Mobil Listrik Lebih Responsif
Salah satu alasan banyak orang mulai tertarik menggunakan mobil listrik adalah performanya yang terasa instan. Mobil listrik mampu menghasilkan torsi maksimal sejak pedal gas diinjak pertama kali.
Akibatnya, akselerasi mobil listrik terasa jauh lebih spontan dibanding mobil bensin. Bahkan beberapa mobil listrik mampu mengalahkan mobil sport bermesin bensin dalam adu akselerasi pendek. (Youtube )
Inilah yang sering disebut para reviewer otomotif sebagai “tarikan tanpa jeda”.
Menurut Fitra Eri, salah satu keunggulan utama mobil listrik adalah karakter berkendaranya yang sangat halus dan nyaman, terutama untuk penggunaan di perkotaan. Namun ia juga menilai sensasi berkendara mobil bensin masih memiliki daya tarik tersendiri bagi pecinta otomotif.
Mobil bensin dinilai memiliki “jiwa” lebih kuat karena suara mesin, perpindahan gigi, dan karakter mesin yang lebih hidup. Bagi sebagian orang, sensasi itu justru menjadi kenikmatan berkendara yang tidak bisa digantikan mobil listrik.
Hal senada juga sering disampaikan Bang Mobi dalam berbagai ulasannya. Ia menyebut mobil listrik unggul dalam kenyamanan harian, tetapi mobil bensin masih lebih menyenangkan untuk pengemudi yang suka sensasi mekanikal dan touring jarak jauh.
Biaya Operasional: Mobil Listrik Jauh Lebih Murah
Jika bicara biaya harian, mobil listrik memang unggul cukup jauh dibanding mobil bensin.
Biaya pengisian daya listrik jauh lebih murah dibanding membeli bensin. Beberapa simulasi menunjukkan biaya perjalanan mobil listrik bisa hanya seperempat dari biaya mobil bensin untuk jarak yang sama. (otomotif kompas )
Bahkan dalam diskusi komunitas otomotif Indonesia di Reddit, banyak pengguna menyebut biaya operasional mobil listrik berada di kisaran Rp200–300 per kilometer, sedangkan mobil bensin bisa mencapai Rp700–1.200 per kilometer tergantung jenis BBM dan kondisi jalan. (Reddit )
Perbandingan sederhana:
Mobil bensin:
- Isi BBM Rp300 ribu
- Jarak tempuh sekitar 350–450 km
Mobil listrik:
- Cas penuh Rp70 ribu–Rp120 ribu
- Jarak tempuh 300–500 km
Artinya, untuk penggunaan harian dalam kota, mobil listrik memang jauh lebih hemat.
Tidak heran jika banyak pengemudi taksi online mulai beralih ke mobil listrik karena penghematan biaya operasional sangat terasa.
Perawatan: Mobil Listrik Lebih Simpel
Mobil bensin memiliki ribuan komponen bergerak. Ada oli mesin, filter udara, busi, radiator, timing belt, injektor, knalpot, hingga transmisi kompleks.
Semua komponen itu membutuhkan perawatan rutin.
Sebaliknya, mobil listrik memiliki sistem yang jauh lebih sederhana. Tidak ada oli mesin, tidak ada busi, dan tidak ada sistem pembakaran. (gakorpan.com )
Karena itulah biaya servis mobil listrik cenderung lebih murah.
Baca juga : mengenal lebih dekat kabupaten ciamis
Beberapa pengguna mobil listrik bahkan mengaku hanya melakukan pengecekan ringan dan penggantian filter AC dalam servis berkala.
Namun bukan berarti mobil listrik bebas masalah.
Komponen paling mahal dalam mobil listrik adalah baterai. Harga penggantian baterai masih sangat mahal dan menjadi kekhawatiran utama banyak calon pembeli.
Menurut Fitra Eri, umur baterai menjadi salah satu hal yang masih perlu diperhatikan sebelum membeli mobil listrik. Ia juga menyoroti belum stabilnya harga jual kembali kendaraan listrik di Indonesia. (Banten raya )
Meski begitu, sebagian besar produsen kini memberikan garansi baterai hingga 8 tahun atau 160 ribu kilometer sehingga cukup memberi rasa aman bagi konsumen.
Infrastruktur: Mobil Bensin Masih Menang
Di Indonesia, salah satu tantangan terbesar mobil listrik adalah infrastruktur pengisian daya.
SPBU bensin sudah tersedia hampir di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan di daerah terpencil pun masyarakat masih bisa menemukan pom bensin.
Sebaliknya, SPKLU masih terkonsentrasi di kota besar dan jalur tertentu.
Ini membuat mobil bensin masih jauh lebih unggul untuk kebutuhan perjalanan lintas kota atau daerah terpencil.
Mobil listrik juga membutuhkan waktu pengisian daya yang lebih lama dibanding isi bensin.
Mengisi bensin hanya butuh sekitar 5 menit. Sedangkan mobil listrik bisa membutuhkan waktu 30 menit hingga beberapa jam tergantung jenis charger yang digunakan.
Karena itu, pengguna mobil listrik perlu memiliki perencanaan perjalanan yang lebih matang.
Dalam berbagai podcast dan wawancara, Fitra Eri menilai mobil listrik sangat cocok untuk penggunaan dalam kota, terutama jika pengguna memiliki fasilitas charging di rumah. Namun untuk perjalanan jauh dan kondisi darurat, mobil bensin masih lebih praktis. (Banten raya )
Jarak Tempuh: Mobil Bensin Lebih Fleksibel
Mobil bensin rata-rata mampu menempuh 600–900 kilometer dalam satu kali pengisian BBM.
Sementara mobil listrik umumnya berada di kisaran 300–500 kilometer tergantung kapasitas baterai dan gaya berkendara. (BI Finance )
Inilah yang memunculkan istilah range anxiety atau rasa khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan.
Meski teknologi baterai terus berkembang, banyak masyarakat Indonesia masih merasa lebih nyaman menggunakan mobil bensin karena tidak perlu memikirkan lokasi charging station.
Apalagi budaya mudik dan perjalanan antarkota di Indonesia cukup tinggi.
Dampak Lingkungan: Mobil Listrik Lebih Ramah
Dari sisi lingkungan, mobil listrik jelas lebih unggul karena tidak menghasilkan emisi gas buang langsung.
Mobil bensin menghasilkan karbon dioksida dan polusi udara dari proses pembakaran bahan bakar.
Karena itulah pemerintah di berbagai negara mulai mendorong transisi kendaraan listrik demi mengurangi emisi karbon global. (BI Finance )
Namun ada satu hal yang sering menjadi perdebatan.
Sebagian pengamat menilai mobil listrik belum sepenuhnya “hijau” karena listrik di Indonesia masih banyak berasal dari pembangkit berbahan batu bara.
Selain itu, proses produksi baterai juga membutuhkan material tambang seperti nikel dan lithium yang memiliki dampak lingkungan tersendiri.
Meski demikian, secara umum mobil listrik tetap dianggap lebih ramah lingkungan dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.
Harga Beli: Mobil Listrik Masih Relatif Mahal
Faktor harga masih menjadi kendala terbesar adopsi mobil listrik di Indonesia.
Mobil listrik rata-rata dijual lebih mahal dibanding mobil bensin dengan ukuran setara.
Meski kini mulai banyak mobil listrik murah dari China, harga awalnya tetap lebih tinggi dibanding mobil bensin entry level.
Namun selisih harga itu sebenarnya bisa tertutupi dalam jangka panjang melalui penghematan biaya operasional dan servis. (gakorpan.com )
Karena itu, mobil listrik lebih cocok untuk pengguna dengan mobilitas tinggi.
Semakin sering kendaraan digunakan, semakin terasa penghematan biaya hariannya.
Harga Jual Kembali: Mobil Bensin Masih Stabil
Salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat Indonesia adalah resale value atau harga jual kembali.
Mobil bensin saat ini masih memiliki harga jual yang lebih stabil dibanding mobil listrik.
Pasar mobil bekas untuk kendaraan listrik masih berkembang dan belum sepenuhnya dipercaya masyarakat. (gakorpan.com )
Banyak orang khawatir terhadap kondisi baterai bekas serta biaya penggantian di masa depan.
Karena itu, depresiasi mobil listrik saat ini masih tergolong tinggi.
Hal ini juga menjadi perhatian Fitra Eri yang menilai calon pembeli perlu mempertimbangkan faktor penyusutan harga sebelum membeli EV.
Baca juga : profil lengkap kabupaten ciamis
Mobil Listrik Cocok untuk Siapa?
Mobil listrik cocok untuk:
- Pengguna harian dalam kota
- Orang yang memiliki akses charging di rumah
- Pengguna dengan mobilitas tinggi
- Pengemudi taksi online
- Orang yang ingin kendaraan senyap dan nyaman
- Konsumen yang peduli lingkungan
Jika aktivitas Anda lebih banyak di perkotaan seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, mobil listrik bisa menjadi pilihan yang sangat rasional.
Mobil Bensin Cocok untuk Siapa?
Mobil bensin lebih cocok untuk:
- Pengguna yang sering bepergian jauh
- Masyarakat di daerah dengan SPKLU terbatas
- Pengguna yang hanya memiliki satu mobil
- Pecinta sensasi berkendara konvensional
- Orang yang mengutamakan resale value
Mobil bensin juga masih menjadi pilihan aman bagi masyarakat yang belum siap menghadapi perubahan teknologi kendaraan listrik.
Bagaimana Masa Depan Mobil Listrik di Indonesia?
Tren global menunjukkan mobil listrik akan terus berkembang.
Banyak negara bahkan sudah mulai merencanakan penghentian penjualan mobil bensin dalam beberapa dekade mendatang.
Indonesia sendiri memiliki potensi besar karena memiliki cadangan nikel yang sangat melimpah, bahan utama pembuatan baterai kendaraan listrik.
Produsen otomotif dunia juga mulai agresif menghadirkan kendaraan listrik dengan harga lebih terjangkau.
Namun transisi menuju kendaraan listrik di Indonesia kemungkinan tidak akan terjadi secara instan.
Mobil bensin masih akan tetap mendominasi dalam beberapa tahun ke depan karena infrastruktur dan budaya penggunaan kendaraan di Indonesia masih sangat bergantung pada BBM.
Kesimpulan: Mana yang Lebih Baik?
Jawabannya tergantung kebutuhan.
Mobil listrik unggul dalam biaya operasional, kenyamanan, akselerasi, dan efisiensi harian.
Sementara mobil bensin unggul dalam fleksibilitas, kemudahan pengisian energi, perjalanan jauh, dan harga jual kembali.
Pendapat para pengamat otomotif seperti Fitra Eri dan Bang Mobi juga menunjukkan bahwa tidak ada kendaraan yang benar-benar sempurna untuk semua orang.
Jika Anda tinggal di kota besar dan memiliki akses charging pribadi, mobil listrik bisa menjadi investasi menarik untuk jangka panjang.
Namun jika Anda sering melakukan perjalanan lintas kota, tinggal di daerah dengan infrastruktur charging terbatas, atau ingin kendaraan yang praktis tanpa banyak penyesuaian, mobil bensin masih menjadi pilihan paling realistis saat ini.
Yang jelas, persaingan mobil listrik dan mobil bensin akan terus memanaskan industri otomotif Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. (BI Finance )
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Follow Instagram MCNNEWS.ID
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook




















