https://mcnnews.id, PEKANBARU
– Pada hari Minggu (20/7/2025) pagi ini, kualitas udara di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, masuk kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut diduga terjadi karena asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah kabupaten dan kota, bahkan termasuk di Pekanbaru sendiri sebagai ibu kota Provinsi Riau.
Kualitas udara yang tidak sehat di Kota Pekanbaru ini diketahui berdasarkan data dari situs web pengukur indeks kualitas udara iqair.com pada pukul 07.00 WIB.
Disebutkan bahwa indeks kualitas udara Kota Pekanbaru berada di angka 103.
Angka yang cukup tinggi ini menunjukkan kualitas udara di Kota Pekanbaru sedang tidak sehat, terutama untuk kelompok yang rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Adapun polutan utama pencemaran udara, yaitu partikel halus (PM) 2,5, yang merupakan partikel berukuran 2,5 mikrometer atau kurang dalam diameter, dan merupakan jenis pencemaran udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Konsentrasi PM2.5 saat ini 7,3 kali lipat dari panduan tahunan WHO untuk PM2.5, yaitu sebesar 36,3 mikrogram per meter kubik.
Padahal nilai panduan tahunan PM2.5 WHO hanya 5 mikrogram per meter kubik.
Berdasarkan kondisi ini, situs web iqair mengeluarkan sejumlah rekomendasi.
Di antaranya, untuk mengurangi aktivitas luar ruangan, menutup jendela agar mengurangi masuknya udara kotor, menyalakan penyaring udara, serta menggunakan masker jika tetap ingin berkegiatan di luar, terutama bagi kelompok yang rentan.
Kondisi asap yang mulai tebal, mulai dikeluhkan oleh warga.
Seorang warga Arengka, Pekanbaru, Siska mengatakan, bau asap tercium cukup menyengat saat ia melintas di kawasan Jalan Soekarno Hatta.
“Karena asap ini mata saya perih dan membuat napas saya sesak,” katanya, Sabtu (19/7/2025) malam.
Siska juga menyarankan kepada warga lainnya untuk menggunakan masker jika beraktivitas di luar ruangan.
“Jangan lupa pakai masker. Karena asap ini berbahaya bagi kesehatan,” katanya.
Provinsi Riau kini menjadi perhatian setelah citra satelit terbaru pada 18 Juli 2025, pukul 23.00 WIB, menunjukkan peningkatan drastis jumlah hotspot atau titik panas.
Sebanyak 259 hotspot terdeteksi di Riau, dari total 694 hotspot di seluruh Pulau Sumatera.
Angka ini merupakan rekor tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia.
Kondisi ini tergolong mengkhawatirkan, karena juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dapat menyebar dengan cepat.
Lonjakan hotspot di Riau sangat signifikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Pada tanggal 17 Juli, hanya terdeteksi 48 hotspot, jumlah ini turun dari tanggal 16 Juli yang mencapai 70 hotspot.
Sementara pada 15 Juli, hanya 11 hotspot yang terdeteksi.
Peningkatan jumlah hotspot hari ini menunjukkan kondisi darurat yang memerlukan perhatian serius.
Data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mengungkap, dari 259 hotspot yang terdeteksi hari ini, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dan Rokan Hilir (Rohil)
menjadi penyumbang terbesar titik panas di Riau. Selain dua wilayah ini, hotspot juga terpantau di Kota Dumai, Kabupaten Siak, Kabupaten Kampar, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dan Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).
Tingkat kepercayaan (confidence level) dari distribusi titik panas yang diawasi oleh satelit menunjukkan bahwa Kabupaten Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Kota Dumai memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, yang menunjukkan adanya kebakaran aktif di lokasi tersebut.
Peningkatan hotspot ini tidak terlepas dari kondisi cuaca yang kering ekstrem dalam beberapa hari terakhir.
“Curah hujan di Riau mengalami penurunan drastis sejak empat hari yang lalu. Hal ini menyebabkan tanah dan hutan menjadi sangat kering dan rentan terbakar,” kata seorang forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.
Ia menambahkan, prakiraan cuaca selama tiga hari ke depan menunjukkan bahwa curah hujan di sebagian besar wilayah Riau masih akan tetap rendah.
“Meskipun terdapat potensi hujan ringan di wilayah pesisir pada malam atau dini hari, secara umum kondisi kering masih akan mendominasi,” katanya.
Kondisi ini, tentu saja semakin memperburuk risiko kebakaran hutan dan lahan di Riau.
Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar.
(https://mcnnews.id/Rizky Armanda)






















