,
Jakarta
– Pemasangan
jantung berlapis
atau yang secara medis dikenal sebagai
angioplasti
merupakan salah satu prosedur intervensi non-bedah yang bertujuan untuk membuka sumbatan pada pembuluh darah arteri koroner.
Prosedur ini menjadi alternatif penting dalam penanganan penyakit jantung koroner, yaitu kondisi di mana arteri yang membawa darah ke otot jantung mengalami penyempitan atau tersumbat akibat penumpukan plak. Dengan membuka kembali jalur aliran darah ke jantung, angioplasti membantu mencegah kerusakan lebih lanjut pada jaringan jantung.
Dalam Kondisi Apa Proses Ini Diperlukan?
Mengutip halaman
Medicine Hopkins
, angioplasti umumnya dilakukan pada pasien yang mengalami gejala penyakit jantung koroner seperti nyeri dada yang terus-menerus (angina), sesak napas saat aktivitas ringan, atau ketika pasien mengalami serangan jantung akut. Prosedur ini juga dapat dilakukan jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyempitan pada pembuluh darah jantung, meskipun belum terjadi serangan jantung.
Namun, tidak semua kondisi penyakit jantung dapat ditangani dengan teknik ini. Keputusan apakah angioplasti menjadi pilihan yang tepat akan ditentukan oleh tim medis berdasarkan evaluasi menyeluruh terhadap tingkat keparahan penyumbatan, lokasi arteri yang terkena dampak, serta kondisi umum pasien.
Tahapan Pelaksanaan Prosedur
Dalam pelaksanaannya, angioplasti dilakukan dengan menggunakan kateter, yaitu selang fleksibel berukuran kecil yang dimasukkan melalui pembuluh darah, biasanya di pangkal paha atau pergelangan tangan. Kateter ini memiliki balon kecil di ujungnya yang akan ditiupkan di area arteri yang menyempit. Balon tersebut akan menekan timbunan plak ke dinding pembuluh darah sehingga ruang untuk aliran darah menjadi lebih terbuka.
Di hampir semua prosedur angioplasti saat ini, dokter juga akan memasang stent, yaitu sebuah tabung logam kecil berbentuk jaring yang bersifat elastis. Stent berfungsi untuk menjaga agar pembuluh darah yang sebelumnya sempit tetap terbuka dalam jangka panjang.
Ada dua jenis
stent
yang umum digunakan:
stent
berlapis obat (
stent pelepas obat
) yang melepaskan zat untuk mencegah pertumbuhan jaringan parut di dalam pembuluh darah, serta
stent
tanpa lapisan obat (
stent logam
) yang lebih jarang digunakan karena risiko lebih tinggi mengalami penyempitan kembali.
Proses Pelaksanaan
Angioplasti
Sebelum prosedur dilakukan, pasien akan menjalani sejumlah pemeriksaan awal dan diminta untuk memberikan riwayat kesehatan secara lengkap, termasuk informasi mengenai alergi obat, penggunaan alat medis seperti pacu jantung, serta penggunaan obat-obatan tertentu seperti pengencer darah.
Pasien biasanya diminta untuk berpuasa beberapa jam sebelum tindakan. Dalam beberapa kasus, pasien juga diberikan obat penenang ringan untuk membantu rileksasi, meskipun selama prosedur pasien umumnya tetap dalam kondisi sadar.
Selama tindakan berlangsung, pasien akan berbaring di meja prosedur dan terhubung ke monitor untuk memantau detak jantung, tekanan darah, serta kadar oksigen. Tim medis akan menggunakan teknologi pencitraan khusus berupa fluoroskopi, yaitu sinar-X yang bergerak yang menunjukkan pergerakan kateter di dalam tubuh secara langsung.
Setelah kateter mencapai pembuluh darah koroner, dokter menyuntikkan zat kontras untuk membantu mengidentifikasi lokasi sumbatan. Pasien mungkin akan merasakan sensasi hangat, rasa logam di mulut, atau sedikit sakit kepala saat cairan ini disuntikkan, namun gejala tersebut umumnya bersifat sementara.
Saat posisi penyumbat telah ditemukan, balon di ujung kateter dikembangkan untuk membuka arteri yang menyempit. Jika diperlukan, stent ditempatkan secara bersamaan untuk menjaga agar pembuluh darah tetap terbuka. Prosedur ini dapat memakan waktu antara 30 menit hingga beberapa jam tergantung pada kompleksitas kasus.
Setelah tindakan selesai, kateter akan ditarik dan area penyisipan akan ditutup dengan berbagai metode, seperti tekanan manual, jahitan, atau alat penutup khusus untuk mencegah perdarahan.
Risiko yang Mungkin Muncul
Meskipun angioplasti termasuk aman dan umum dilakukan, tetap ada risiko yang perlu dipertimbangkan. Kemungkinan komplikasi meliputi perdarahan di area pemasangan kateter, pembentukan gumpalan darah di dalam pembuluh darah yang ditangani, infeksi, gangguan irama jantung, reaksi alergi terhadap zat kontras, bahkan serangan jantung atau stroke dalam beberapa kasus. Risiko lain yang mungkin terjadi adalah kerusakan ginjal akibat paparan zat kontras, terutama pada pasien yang sudah memiliki gangguan fungsi ginjal sebelumnya.
Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk secara terbuka mendiskusikan semua kekhawatiran dan riwayat medis dengan dokter sebelum prosedur dilakukan.
Setelah prosedur, pasien biasanya akan dirawat di rumah sakit selama satu malam untuk memastikan tidak ada komplikasi. Pasien akan diminta untuk menghindari aktivitas fisik berat selama beberapa hari dan menjalani terapi obat, khususnya obat antiplatelet, untuk mencegah pembekuan darah di dalam stent yang baru dipasang.
Dalam beberapa kasus, stent dapat mengalami penyempitan kembali akibat pertumbuhan jaringan parut. Jika hal ini terjadi, pasien mungkin membutuhkan tindakan lanjutan seperti angioplasti ulang atau terapi radiasi lokal (
brachyterapi
) untuk membuka kembali pembuluh yang menyempit.
Annisa Firdausi
berkontribusi untuk penulisan artikel ini.





















