Jakarta, MCNNEWS.ID – Industri perbankan Indonesia mulai menunjukkan perlambatan dalam pertumbuhan kredit. Bank-bank besar mencatatkan penurunan penyaluran kredit dalam beberapa bulan terakhir, terutama pada sektor konsumsi dan investasi.
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa pada kuartal II tahun 2025, pertumbuhan kredit hanya mencapai 7,2 persen secara tahunan (year-on-year), menurun dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 9 persen. Perlambatan ini memicu kekhawatiran akan mulai melemahnya daya beli masyarakat serta menurunnya aktivitas ekonomi secara umum.
1 Bank Indonesia dan OJK Soroti Penurunan Kredit
Bank Indonesia mengakui bahwa tren penurunan ini terjadi akibat kombinasi beberapa faktor, mulai dari tingginya suku bunga kredit, hingga meningkatnya risiko global yang membuat pelaku usaha menunda ekspansi.
“Bank cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit karena risiko ketidakpastian global masih cukup tinggi,” ujar Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, dalam konferensi pers terbaru.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat peningkatan kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) di sejumlah sektor. Hal ini menyebabkan perbankan memperketat syarat pinjaman, yang berdampak langsung pada volume kredit yang disalurkan.

Ekonom Perlambatan Kredit Bisa Jadi Sinyal Awal
Sejumlah ekonom menilai perlambatan pertumbuhan kredit perbankan bisa menjadi indikator awal melemahnya ekonomi nasional. Jika masyarakat dan pelaku usaha mulai mengurangi aktivitas pinjaman, maka roda ekonomi pun bisa melambat.
“Penurunan kredit konsumsi menandakan masyarakat mulai menahan belanja, terutama untuk kebutuhan non-primer. Ini bisa berdampak pada sektor-sektor lain seperti perdagangan, manufaktur, dan jasa,” ungkap Bhima Yudhistira, Direktur CELIOS.
2 Pemerintah Diminta Ambil Langkah Stimulus
Melihat tren ini, para pengamat ekonomi mendorong pemerintah untuk segera mengeluarkan kebijakan stimulus fiskal yang lebih agresif. Salah satunya dengan mempercepat belanja negara dan memberikan insentif pajak kepada sektor usaha kecil dan menengah (UMKM).
Selain itu, pelonggaran suku bunga kredit juga perlu menjadi perhatian agar masyarakat dan pelaku usaha lebih terdorong untuk mengambil pembiayaan.
Sektor UMKM dan Konsumsi Jadi Kunci Pemulihan
Pemerintah menegaskan bahwa sektor UMKM dan konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Oleh karena itu, upaya pemulihan harus difokuskan pada peningkatan daya beli masyarakat dan kemudahan akses kredit bagi pelaku usaha kecil.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan perbankan dan pelaku usaha untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.























