MCNNEWS.ID.CO.ID –Warren Buffett merupakan salah satu investor terkemuka dalam sejarah. Lahir pada tahun 1930, pria berusia 95 tahun ini telah menunjukkan bahwa penerapan prinsip yang baik dan konsisten mampu menghasilkan kekayaan yang luar biasa.
Buffett berhasil mengubah perusahaan tekstil yang hampir bangkrut, Berkshire Hathaway, menjadi salah satu perusahaan terbesar di Amerika dengan mengubahnya menjadi perusahaan induk investasi.
Hari ini, nilai pasar Berkshire Hathaway melebihi US$1 triliun. Pendekatan yang digunakan menunjukkan bahwa investasi yang tekun dan berpegang pada prinsip dapat menghasilkan keuntungan jangka panjang yang luar biasa.
Berikut adalah sepuluh prinsip utama yang menjadi dasar dari filosofi investasi dan keberhasilan bisnisnya, dikumpulkan dari situs edukasi trading,New Trader U.
1. Temukan Semangat dan Arah Anda
“Ambil pekerjaan yang ingin Anda lakukan jika Anda sudah menjadi kaya,” kata Buffett. Prinsip ini menjadi dasar filosofinya mengenai kepuasan dan kesuksesan dalam karier.
Ia menemukan semangatnya dalam berinvestasi sejak muda, dimulai saat berusia sebelas tahun ketika ia membaca seluruh buku investasi di Perpustakaan Umum Omaha.
Anak-anak mereka mengikuti pendekatan ini, mengejar minat yang sesungguhnya dibandingkan hanya mencari uang. Ketika Anda bekerja pada sesuatu yang benar-benar Anda cintai, secara alami Anda akan sukses karena pekerjaan itu tidak terasa seperti beban.
Semangat ini menghasilkan energi dan ketekunan yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan jangka panjang dalam segala bidang.
Saya mampu melakukan hal yang saya sukai setiap hari sepanjang tahun… Saya berjingkrak ke tempat kerja, dan ketika tiba di sana, saya merasa ingin berbaring telentang dan mengecat langit-langit. Ini sangat menyenangkan. – Warren Buffett
2. Rekrut Karyawan Berdasarkan Kepribadian Terlebih Dahulu
Saat menilai seseorang, Buffett menilai tiga sifat utama: integritas, kecerdasan, dan semangat, dengan urutan yang benar. Ia memperingatkan bahwa tanpa integritas, dua sifat lainnya bisa menjadi berbahaya.
“Jika mereka tidak memiliki kejujuran, Anda akan menginginkan mereka bodoh dan malas,” katanya, karena seseorang yang cerdas dan penuh semangat tanpa dasar etis bisa menimbulkan kerusakan yang luar biasa.
Filosofi perekrutan ini melebihi aspek bisnis, mencakup berbagai hubungan dan kemitraan. Karakter menjadi dasar dari kepercayaan, dan kepercayaan memungkinkan kerja sama yang efisien.
Dalam dunia bisnis yang saling terkait saat ini, reputasi menyebar dengan cepat, menjadikan integritas lebih bernilai daripada sebelumnya. Perusahaan dan individu yang secara konsisten menunjukkan prinsip etika yang kuat akan menciptakan keberhasilan yang tahan lama.
3. Tetaplah berada di area keahlian Anda
Buffett merujuk pada kebijaksanaan Tom Watson: “Saya bukan seorang jenius, tetapi saya memiliki kecerdasan di beberapa bidang dan saya tetap fokus pada bidang-bidang tersebut.”
Prinsip tetap berada dalam “lingkaran kompetensi” ini telah membantunya menghindari banyak kesalahan yang merugikan. Ia secara terang-terangan mengakui bahwa ada banyak topik yang tidak ia pahami dan ia menghindari bidang-bidang tersebut.
Lebih baik fokus pada sektor dan usaha yang mampu ia pelajari serta pahami secara mendalam daripada mencoba menguasai segala bidang.
Pendekatan ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan fokus serta pengambilan keputusan yang lebih efektif.
Kuncinya adalah mengakui secara jujur batasan pengetahuan Anda dan memiliki disiplin untuk bekerja di dalamnya, bukan menjelajahi wilayah yang tidak dikenal.
4. Peluk Pembelajaran Berkelanjutan
Buffett menghabiskan lima hingga enam jam setiap hari untuk membaca, termasuk koran, majalah, laporan tahunan, dan biografi. “Saya hanya duduk di kantor saya dan membaca sepanjang hari,” ujarnya.
Minat membaca yang besar ini tetap bertahan sepanjang kariernya. Ia sangat menikmati biografi, belajar bagaimana orang lain menghadapi tantangan dan kesempatan.
Membaca memberikan bahan dasar untuk pengambilan keputusan yang lebih baik, menyediakan wawasan dari berbagai sumber dan pengalaman.
Dampak gabungan dari pembelajaran yang berkelanjutan membentuk dasar pengetahuan yang terus berkembang, sehingga meningkatkan kemampuan penilaian seiring berjalannya waktu.
Buffett menjelaskan bahwa pengetahuan berkembang secara mandiri, menghasilkan pertumbuhan eksponensial dibandingkan pertumbuhan linear dalam pemahaman.
5. Terapkan “Kelongompokan Keselamatan”
Buffett menjelaskan konsep ini melalui perumpamaan jembatan: “Anda tidak mengemudikan truk seberat 9.900 pon melewati jembatan yang memiliki batas muatan 10.000 pon.”
Sebaliknya, carilah jembatan yang memiliki kapasitas 20.000 pon untuk memastikan keselamatan. Prinsip ini berlaku lebih luas daripada investasi dalam semua keputusan penting.
Menciptakan “margin of safety” melindungi dari situasi yang tidak terduga serta memberikan ruang untuk kesalahan dalam penilaian.
Baik dalam perencanaan keuangan, operasional bisnis, maupun keputusan pribadi, menyisakan ruang untuk hal-hal yang tidak terduga dapat menghindari konsekuensi yang merugikan.
Prinsip ini mengakui bahwa manusia bisa melakukan kesalahan dan sistem memiliki sifat yang sulit diprediksi, sehingga menyarankan pendekatan yang hati-hati dan mampu bertahan dalam situasi yang tidak menguntungkan.
6. Bangun “Parit Ekonomi”
“Kapitalisme adalah ketika seseorang datang dan berusaha merebut kastil,” jelas Buffett. Keberhasilan menarik persaingan, sehingga membuat keunggulan kompetitif yang stabil menjadi penting.
Ia mencari bisnis yang memiliki “parit ekonomi” (economic moats) yang melindungi mereka dari persaingan melalui kepemimpinan biaya, bakat unggul, merek yang kuat, atau efek jaringan.
Produsen dengan biaya rendah memiliki salah satu “parit” paling kuat, tetapi keunggulan yang berasal dari bakat bisa sebanding. Kemampuan Steven Spielberg dalam menghasilkan film menciptakan nilai ekonomi yang sangat besar karena sedikit orang yang mampu meniru bakatnya.
Keunggulan kompetitif ini perlu bertahan lama dan sulit untuk diikuti oleh pesaing. Menciptakan “parit” memerlukan pengenalan serta penguatan keunggulan khusus sementara lawan terus berusaha mengejar.
7. Pertahankan Jadwal yang Tidak Teratur
“Tidak ada pertemuan,” tegas Buffett mengenai kegiatannya sehari-hari. Harinya tetap sangat tidak teratur, memberi kesempatan untuk membaca, berpikir, dan berbicara melalui telepon tanpa adanya jadwal yang padat.
Pendekatan ini memungkinkan pengamatan mendalam terhadap distribusi modal, yang ia anggap sebagai tugas utamanya.
Perusahaan-perusahaan yang ada di dalam Berkshire Hathaway beroperasi secara mandiri, memungkinkannya untuk fokus pada pengambilan keputusan strategis.
Waktu yang tidak teratur memberikan kesempatan untuk merenung dan berpikir secara strategis yang sering kali terlewatkan karena jadwal yang sibuk.
Pendekatan ini menolak kecenderungan masa kini yang menganggap kesibukan sebagai tanda produktivitas.
8. Mengatasi Rasa Percaya Diri yang Berlebihan
“Kesombongan adalah hal terbesar yang menghancurkan bisnis besar,” kata Buffett memperingatkan. Ia menyarankan untuk selalu merasa cemas dan menyadari bahwa pesaing selalu mendekati Anda, yang mengharuskan pergerakan terus-menerus.
Bahaya yang dihadapi perusahaan yang telah sukses terletak pada kebiasaan berhenti berusaha setelah mencapai kesuksesan sebelumnya, daripada menjaga tingkat persaingan yang tinggi.
Ia mengambil Coca-Cola sebagai contoh, mencatat bahwa mereka harus bersaing dengan tingkat yang sama baik saat melayani sepuluh pelanggan maupun 1,8 miliar porsi setiap hari.
Kekhawatiran ini perlu menyelusup ke seluruh organisasi, membentuk budaya yang melihat besok lebih menarik daripada hari ini. Memelihara keunggulan kompetitif memerlukan setiap hari diperlakukan seolah-olah bisnis masih kecil dan rentan.
Tonton: Cadangan Devisa Bank Sentral Global Berupa Emas Mencatat Rekor, Melebihi Surat Utang AS
9. Pelajari Kegagalan
Pendekatan Charlie Munger dalam belajar sejalan dengan Buffett: “Yang ingin saya ketahui hanyalah tempat di mana saya akan meninggal, agar saya tidak pernah pergi ke sana.”
Mereka secara terstruktur meneliti kegagalan perusahaan agar dapat memahami faktor-faktor yang menyebabkan bisnis gagal. Analisis mengenai kegagalan ini memberikan pelajaran penting untuk mencegah kesalahan yang sama terulang.
Mempelajari kesalahan orang lain lebih hemat daripada mengalami kesalahan sendiri. Menganalisis kegagalan menunjukkan pola dan tanda-tanda yang bisa dikenali serta dihindari oleh perusahaan yang berhasil.
Prinsip ini berlaku tidak hanya dalam bisnis tetapi juga dalam pengembangan diri, di mana memahami pola kegagalan dapat membantu menciptakan strategi yang lebih baik.
Mempelajari hal-hal yang gagal sering kali memberikan pemahaman yang lebih jelas dibanding hanya meninjau keberhasilan.
10. Lakukan hal yang Anda sukai bersama seseorang yang Anda hargai
Buffett merenungkan keberuntungannya: “Kami benar-benar mampu melakukan apa yang kami sukai dengan cara yang kami inginkan bersama orang-orang yang kami pilih untuk berada di sekitar kami.”
Prinsip ini memandu kerja sama yang berlangsung puluhan tahun dengan Charlie Munger serta membentuk pendekatannya dalam mengelola hubungan bisnis.
Bekerja bersama dengan seseorang yang Anda hargai dan percayai membentuk suasana di mana setiap individu mampu menunjukkan kinerja terbaiknya.
Kemampuan memilih mitra kerja dan mengatur tugas sesuai dengan keinginan pribadi meningkatkan rasa puas dan efisiensi kerja.
Pendekatan ini mengakui bahwa keberhasilan yang berkelanjutan memerlukan kesesuaian antara nilai pribadi, cara kerja, dan individu yang terlibat.
Menciptakan situasi ini semakin memungkinkan dengan kesuksesan yang memberikan lebih banyak pilihan serta kebebasan.






















