MCNNEWS.ID – ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disordermerupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh kesulitan dalam berkonsentrasi, tindakan impulsif, serta tingkat aktivitas fisik yang terlalu tinggi. Kondisi ini bisa berdampak pada prestasi akademik dan mengganggu hubungan sosial individu yang menderitanya.
ADHD bukan hanya masalah ketidakmampuan untuk fokus, tetapi merupakan gangguan yang memengaruhi cara otak mengelola perhatian dan tingkah laku. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan gangguan dalam fungsi otak, yang berperan dalam mengatur konsentrasi, perilaku, serta kemampuan mengontrol dorongan impulsif.
Kondisi ini biasanya mulai terlihat sejak masa kecil dan bisa berlangsung hingga dewasa. Gejala ADHD sering kali dianggap sebagai ciri anak yang terlalu dinamis atau sulit dikendalikan, sehingga kondisi ini seringkali tidak segera diketahui atau ditangani dengan benar.
Penyebab ADHD
Sampai saat ini, para ahli masih belum bisa menentukan secara pasti penyebab ADHD. Namun, gangguan ini diduga berkaitan dengan ketidakseimbangan neurotransmiter atau bahan kimia di otak.
Dikutip dari Halodoc, fPenyebab utama ADHD adalah faktor genetik. Selain itu, kondisi ini sering kali terjadi dalam keluarga. Dalam berbagai kasus, para pakar percaya bahwa faktor genetik dari salah satu atau kedua orang tua memiliki peran besar dalam munculnya gangguan ini.
Faktor penyebab berikutnya adalah perbedaan bentuk otak. Penelitian menggunakan pemindaian otak menemukan adanya perbedaan struktur dan aktivitas otak pada penderita ADHD dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami kondisi ini.
Beberapa bagian otak terlihat lebih kecil atau justru lebih besar, serta diduga terjadi ketidakseimbangan dalam kadar neurotransmiter. Selain itu, kemungkinan besar bahan kimia di otak tersebut tidak berfungsi secara maksimal.
Selain itu, faktor penyebab terakhir adalah paparan bahan kimia selama masa kehamilan. Para ahli mengira ada hubungan antara ADHD dengan paparan zat kimia beracun, seperti timbal dan beberapa jenis pestisida.
Penelitian mengungkapkan bahwa paparan bahan kimia seperti timbal dapat memengaruhi kemampuan belajar anak. Di sisi lain, pestisida yang sering digunakan dalam pertanian diduga berkaitan dengan gangguan saraf pada anak.
Gejala ADHD Pada Penderitanya
ADHD ditandai oleh kesulitan dalam mengalokasikan perhatian, diikuti dengan tingkah laku yang terlalu aktif dan cenderung tidak terkendali. Dikutip dariAlodokter, anak yang mengalami ADHD umumnya menunjukkan 2 jenis gejala.
Jenis pertama adalah gejala kesulitan berkonsentrasi, seperti tidak mampu fokus saat melakukan sesuatu, mudah terganggu perhatiannya, kurang memperhatikan saat diberi penjelasan, serta cenderung ceroboh dan tidak memperhatikan hal-hal kecil.
Gejala ADHD pada anak yang kedua cenderung menunjukkan perilaku hiperaktif dan impulsif. Umumnya, gejala yang terlihat adalah kesulitan duduk diam, kebiasaan menggerakkan tangan atau kaki saat duduk, sering berbicara, kadang memotong percakapan orang lain, serta sering mengganggu aktivitas orang sekitar.
ADHD juga dapat dialami oleh orang dewasa dengan gejala yang hampir sama seperti pada anak-anak. Secara umum, gejala yang muncul meliputi tindakan tanpa berpikir terlebih dahulu, kesulitan mengatur waktu, sering terlambat, sulit menentukan urutan kepentingan, mudah terganggu, serta sering menunda-nunda tugas.
Tindakan Pengelolaan Kondisi ADHD
Tujuan utama pengobatan ADHD adalah mengurangi gejala serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Umumnya cara yang digunakan untuk mengatasi kondisi ini melibatkan penggunaan obat-obatan atau terapi.
Pemberian obat pada penderita ADHD biasanya bertujuan untuk meningkatkan kadar dopamin dan norepinefrin di dalam tubuh. Dilaporkan dariAlodokter, jbeberapa jenis obat yang dapat diberikan oleh dokter meliputi obat stimulan sepertimethylphenidate dan amfetamin, serta obat non-stimulan seperti atomoxetine atau clonidine.
Selain obat-obatan, metode psikoterapi juga dapat diterapkan dalam upaya mengatasi kondisi ADHD. Salah satu jenis psikoterapi yang bisa digunakan adalah terapi kognitif perilaku, yang bertujuan untuk membantu pasien mengubah cara berpikir dan tingkah laku saat menghadapi tantangan atau situasi tertentu.
Di sisi lain, terapi psikoedukasi dilaksanakan agar pasien mampu menemukan pendekatan yang tepat untuk mengontrol gejalanya. Terdapat juga terapi interaksi sosial, yang bertujuan pada pengajaran perilaku sosial yang sesuai dalam berbagai situasi. (*)






















