Melihat anak yang mudah menghafal, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua. Namun seringkali muncul pertanyaan, mengapa ada anak yang cepat menghafal, sedangkan yang lain membutuhkan usaha lebih?
Menurut dr. Asyam Syafiq Hasbullah melalui edukasinya di Instagram, kemampuan menghafal bukan hanya bakat yang diwariskan, Ma, Pa. Namun, sebuah keterampilan yang dapat diasah sejak dini dengan pendekatan neurosains.
Dijelaskan bahwa otak anak memiliki hippocampus dan korteks prefrontal, dua bagian penting yang berkaitan dengan perkembangan memori, yang berkembang pesat pada usia 4-10 tahun. Masa emas ini dapat kita manfaatkan untuk memperkuat kemampuan ingat anak.
Lalu, bagaimana cara melatihnya? Berdasarkan unggahan dr. Asyam, berikut MCNNEWS.ID beberapa strategi berbasis ilmu saraf yang dapat diterapkan orang tua pada anak.
1. Ajak anak untuk mengingat tanpa membaca teks
Sebagian besar orang masih memakai metode membaca berulang-ulang untuk menghafal. Padahal, terdapat cara lain yang justru dianggap lebih efektif dibandingkan dengan membaca berulang, Ma.
Ajak anak untuk menghafal tanpa melihat teks. Misalnya, setelah membaca beberapa kali, tutup bukunya dan minta dia mengucapkan apa yang diingatnya. Saat anak berusaha mengingat, jalur memori di otak menjadi semakin kuat.
Jika anak lupa, boleh saja bukunya dilihat kembali. Ternyata metode ini justru lebih efektif dalam memperkuat ingatan jangka panjang anak, loh.
2. Lakukan secara bertahap namun teratur
Kita sering merasa cemas ketika anak belum menghafal semua materi, lalu memaksa mereka belajar dalam waktu yang sangat lama. Lebih baik hindari pendekatan ini, Ibu dan Bapak.
Ternyata, metode yang lebih efektif adalah belajar perlahan namun tetap konsisten dan dilakukan secara teratur. Coba buat jadwal untuk mengulang hafalan, misalnya diulang keesokan harinya, kemudian tiga hari berikutnya, seminggu setelahnya, dan seterusnya.
Dengan jarak waktu yang semakin lama, otak anak memiliki kesempatan untuk memperkuat ingatannya sebelum benar-benar melupakan materi yang sedang dipelajari.
3. Potong menjadi potongan kecil agar tidak terlalu banyak
Coba Ibu bayangkan jika kita diminta menghafal satu halaman penuh, pasti akan merasa pusing, bukan? Demikian pula dengan anak-anak.
Lebih baik informasi disajikan dalam bagian-bagian kecil daripada harus menghafal teks yang panjang.
Oleh karena itu, Ibu dapat membantu anak untuk membagi teks yang panjang menjadi beberapa bagian kecil. Contohnya, satu sesi cukup untuk menghafal dua kalimat. Setelah lancar, baru tambahkan lagi.
Ya, sama seperti metode sebelumnya, perlahan namun pasti, nanti semuanya akan menyatu secara alami.
4. Jangan hanya dihafal, tetapi juga jelaskan maknanya
Pada masa emas anak-anak, mereka sangat cerdas dan mulai berpikir secara kritis, Ma. Mereka membutuhkan alasan “mengapa” sesuatu harus diingat.
Oleh karena itu, tugas kita sebagai orang tua bukan hanya membiarkan anak menghafal, tetapi memberikan penjelasan mengenai apa yang mereka hafal karena otak akan lebih mudah mengingatnya ketika ada cerita dan perasaan di baliknya.
Pastikan Ibu selalu menyisihkan waktu untuk menjelaskan makna dengan bahasa yang mudah sehingga mereka lebih mudah memahaminya. Ibu juga dapat mengaitkannya dengan pengalaman sehari-hari mereka berupa cerita yang dapat dipahami oleh anak-anak.
5. Penghafalan yang melibatkan seluruh indra
Ternyata, menghafal tidak hanya dilakukan melalui indra penglihatan dengan membaca saja, Bu. Coba gunakan sebanyak mungkin indra yang ada agar hafalan menjadi sesuatu yang tidak membosankan.
Ajak anak tidak hanya sekadar melihat dan membaca, tetapi juga mendengar (dengan memainkan rekaman), bergerak (memberi)gesture atau isyarat tangan, atau bahkan menulis hafalannya.
Mempelajari dengan metode yang menyenangkan dan beragam seperti ini dianggap lebih efektif dalam menyimpan informasi ke berbagai bagian otak, sehingga lebih sulit untuk dihilangkan dari ingatan.
6. Pastikan anak mendapatkan istirahat yang memadai
Kami sebagai orang tua sering kali diberi peringatan untuk memberikan waktu istirahat yang cukup kepada anak. Faktanya, hal ini memang sangat bermanfaat bagi perkembangan mereka, Bu, termasuk kemampuan memorisnya.
Saat beristirahat, otak anak justru aktif dalam mengatur dan memperkuat seluruh informasi yang telah dipelajari sepanjang hari. Anak yang mendapatkan tidur yang cukup umumnya memiliki kemampuan ingatan yang lebih baik.
Itulah sebabnya anak-anak membutuhkan waktu tidur yang cukup, minimal 9-12 jam setiap hari, dan jika diperlukan, Ibu dapat membantu anak mengulang pelan-pelan hafalannya sebelum tidur agar mendapatkan hasil terbaik.
7. Sesuaikan cara menghafal sesuai dengan usia anak
Harus diingat bahwa setiap anak memiliki kemampuan berbeda dalam menghafal, sesuai dengan usia masing-masing. Oleh karena itu, cara menghafal juga perlu disesuaikan dengan tingkat usianya.
-
Usia 4-7 tahun:Gunakan sesi singkat (10-15 menit), sering bernyanyi dan bergerak, serta berikan apresiasi langsung. Fokus pada pemahaman, bukan hanya menghafal.
-
Usia 8-12 tahunBisa dimulai dengan diajak berdiskusi, diajarkan cara menguji pemahamannya sendiri, serta dilatih untuk menjadi disiplin dalam melakukan pengulangan secara mandiri.
-
Usia minimal 13 tahunTingkatkan kemandirian dengan meminta dia menyusun jadwal belajarnya sendiri, ajak mereka menghubungkan pengetahuan dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari, serta diskusikan makna dan relevansi materi akan membuat hafalan lebih bermakna.
Berdasarkan penjelasan dr. Asyam dalam unggahan terbarunya tentang metode menghafal berdasarkan Neurosains, ternyata faktor utama yang membuat hafalan menjadi kuat bukanlah dengan memaksa, melainkan menciptakan suasana yang positif, aman, dan menyenangkan.
Dengan menerapkan metode di atas yang lebih bermakna, anak tidak hanya memiliki pengetahuan yang tertanam di otak, tetapi juga di hati. Semoga informasinya berguna dan selamat mencoba ya, Ma, Pa!




























