GORONTALO, MCNNEWS.ID – Wilayah Pegunungan Tilong Kabila masih tertutup kabut pada hari Minggu (30/11/2025). Begitu pula dengan rangkaian pegunungan Tamuyodaa.
Hujan ringan mulai turun. Agustina Angkomona segera cepat-cepat mengambil pakaian yang baru saja digantung di kawat di samping rumah tempat ia bekerja.
“Sayang jika terkena air hujan, lebih baik dikeringkan di dapur,” ujar Ma Ina -sapaan akrabnya-.
Jalannya hidup memang membawa Ma Ina ke Gorontalo. Di sana ia berjuang dengan tekad agar putranya menjadi seorang sarjana.
Ma Ina adalah perempuan berusia 57 tahun yang rendah hati dan rajin bekerja. Impian itu kini telah tercapai. Meskipun demikian, Ma Ina masih memiliki keinginan untuk menyampaikan nilai-nilai positif kepada anak-anak lain.
Pada dekade 1980-an, Agustina Angkumona merupakan seorang perempuan yang tinggal bersama kedua orang tuanya di Botubang Kecil Pulau Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara.
Pertemuan mereka dengan Suleman Ibrahim, seorang karyawan Badan Urusan Tenaga Sukarela Indonesia (BUTSI) asal Gorontalo, akhirnya membawa mereka ke pernikahan pada tahun 1987.
Sebagai seorang istri, ia juga harus menemani suaminya ke Gorontalo, tinggal di daerah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Di Gorontalo, suaminya bekerja sebagai tukang kayu yang pendapatannya tergantung pada panggilan dan permintaan masyarakat.
“Jika di Pulau Lembeh kami bisa makan dengan menggali umbi dari kebun, ikan segar melimpah, semuanya tersedia kapan saja. Di Gorontalo kami tidak tahu harus bagaimana,” kenang Ma Ina saat memulai kehidupannya di Gorontalo.
Berjuang Menjadi Seorang Ibu
Ibu Ina hidup dalam kehidupan yang sederhana bersama suaminya dan putra pertamanya bernama Yayan Y Ibrahim, yang lahir pada tahun 1988.
Ibu Ina pernah kembali ke Bitung bersama anaknya yang berusia 4 bulan. Di sana, keluarganya mengembangkan perekonomiannya melalui perdagangan, sementara suaminya bekerja di pelabuhan Bitung.
“Kami masih merasa bersyukur karena masih terdapat hasil kebun yang dapat dipanen, seperti umbi dan sayuran, untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Ma Ina.
Namun, perjuangan di kampung halamannya tidaklah mudah. Ia kembali ke Gorontalo ketika anak pertamanya berusia 4 tahun.
Di Gorontalo, ia bersama pasangannya berjuang keras agar bisa mengembangkan anak-anaknya.
Pada tahun 1995, putra kedua mereka yang bernama Yusran Ibrahim lahir.
Penambahan anggota keluarga ini memaksa dirinya bekerja keras agar mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
“Walaupun saya hanya lulus SD, saya berusaha agar anak-anak bisa melanjutkan sekolah hingga menjadi sarjana,” ujar Ma Ina.
Jajanan Ringan, Menumbuhkan Semangat Belajar
Dengan suaminya, ia berupaya memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
Bu Ina sangat percaya bahwa budaya dan kondisi lingkungan sosial Gorontalo sangat baik dalam mendukung perkembangan anak-anak.
Saat anak-anaknya mulai masuk ke taman kanak-kanak, ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjual camilan di sekolah.
Di sekolah ini, ia juga dapat mengawasi dan berkomunikasi dengan anaknya saat istirahat, memberikan saran, serta memberi semangat agar terus belajar.
Saat anaknya lulus ke sekolah dasar, Ma Ina tetap melanjutkan usaha jualan camilan.
Ia melakukan hal tersebut hingga mereka lulus dari sekolah menengah atas. Perkembangan kedua anaknya dapat ia pantau, memberikan kasih sayang yang tak pernah putus.
Ia bangga karena kedua anaknya memiliki semangat dalam belajar. Ma Ina berkomitmen untuk berjuang keras demi keberhasilan masa depan anak-anaknya.
Bagi dirinya, mengejar ilmu dimulai sejak masih berada di ayunan hingga manusia mengakhiri usianya.
Selama masa hidupnya, seseorang perlu banyak belajar, bukan hanya saat mengikuti sekolah resmi, tetapi juga bisa memperoleh ilmu dari situasi yang dihadapi.
Ia selanjutnya memperkuat semangatnya untuk berdagang gorengan bersama suaminya yang bekerja sebagai tukang kayu guna membiayai kebutuhan anak-anaknya.
Termasuk dalam biaya pendidikan anak kedua saat ia pergi ke Jawa.
“Saya menghentikan penjualan gorengan bakwan, tahu isi, dan tempe goreng saat wabah Covid,” kata Ma Ina.
Sekarang kedua anak Ma Ina telah lulus sarjana. Anak pertama bekerja di sebuah perusahaan pembangkit listrik tenaga uap di Gorontalo Utara, sementara anak bungsunya bekerja sebagai seorang konsultan.
Meskipun telah menyelesaikan perjuangannya dalam mendidik anak-anak hingga menjadi sarjana, Ma Ina tetap seperti dulu, terus mencintai dan mendampingi anak-anak di sekitarnya.
Ma Ina, Ibu yang Baik bagi Siapa Saja
Saat ini Ma Ina masih bekerja di rumah keluarga kerabatnya di Kabila, Bone Bolango. Setiap hari ia mengurus anak-anak dan kebutuhan mereka.
Sebenarnya, Ma Ina seharusnya beristirahat di rumah dan menikmati masa tuanya. Namun, naluri sebagai ibu mengatakan hal yang berbeda. Ia merasa anak-anak kerabatnya perlu didampingi.
Bukan hanya memenuhi kebutuhan, Ma Ina juga mengajarkan tentang makna kasih sayang dan perhatian.
Ibu Ina terkenal sebagai sosok yang baik bagi semua orang.
Dewi, penduduk Kabila, Bone Bolango, tempat Ma Ina bekerja mengalami langsung peran Ma Ina.
“Banyak ibu-ibu lain di luar sana yang menjadi benteng belakang bagi banyak keluarga yang seharusnya kita hargai,” katanya.
Di tengah persaingan yang semakin ketat dalam mencari penghidupan, banyak kepala keluarga yang harus meninggalkan anak-anaknya.
Beberapa bentuk bimbingan dan perawatan anak-anak kini dilakukan oleh individu-individu seperti Ma Ina ini.






















