CIAMIS, MCNNEWS.ID.
Kisah harap Pagi itu, udara di Ciamis terasa sedikit berbeda. Di Gedung KH. Irfan Hielmy, Islamic Center, ratusan orang berkumpul bukan sekadar untuk sebuah acara seremonial, melainkan untuk menata niat, menuju perjalanan spiritual yang telah lama mereka tunggu. Ada yang datang dengan langkah mantap, ada pula yang perlahan, bertumpu pada tongkat. Semuanya menyimpan satu harapan yang sama: berangkat ke Tanah Suci.
Bimbingan Manasik Haji tingkat Kabupaten Ciamis yang digelar Rabu (1/4/2026) menjadi ruang pertemuan antara harapan dan persiapan. Di sinilah para calon jemaah mulai merajut pemahaman, mengulang kembali tata cara ibadah, sekaligus menguatkan mental untuk perjalanan panjang yang tak hanya menguji fisik, tetapi juga kesabaran.

Bupati Ciamis, H. Herdiat Sunarya, berdiri di hadapan mereka dengan pesan yang sederhana namun membumi. Bahwa haji bukan sekadar perjalanan jauh, melainkan panggilan iman yang harus disiapkan dengan sungguh-sungguh. Ia mengingatkan, kesempurnaan ibadah lahir dari pemahaman yang utuh, tentang rukun, tentang kesabaran, dan tentang keikhlasan.
Baca juga : deteksi dini kanker payudara
Namun, di balik nasihat spiritual, terselip pesan yang sangat manusiawi: soal kesehatan. Di tengah suhu Mekkah yang bisa melampaui 40 derajat Celsius, tubuh menjadi ujian pertama yang harus dijaga. “Banyak makan, banyak minum,” pesannya, terdengar sederhana, tetapi justru itulah bekal paling nyata agar para jemaah mampu bertahan di tengah cuaca ekstrem.
Di antara para peserta, ada cerita-cerita kecil yang tak tertulis dalam data resmi. Seorang remaja 17 tahun yang mungkin masih canggung mengenakan kain ihram untuk pertama kalinya. Di sisi lain, seorang lansia berusia 96 tahun duduk tenang, matanya menyimpan perjalanan panjang hidup yang akhirnya bermuara pada panggilan haji. Rentang usia ini bukan sekadar angka, tetapi potret betapa ibadah ini melampaui batas generasi.
Kepala Kementrian Haji dan Umrah Kabupaten Ciamis, H. Nana Supriatna,S.Ag, MA, mengatakan, tahun ini sebanyak 856 jemaah siap diberangkatkan. Mereka akan terbagi dalam dua kelompok terbang, kloter 15 dan kloter 31. Angka-angka ini terdengar administratif, tetapi di baliknya ada ratusan kisah tentang penantian, tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun, dan doa yang tak pernah putus.
Baca juga : alumni ponpes alfatah muftahul ulum
Persiapan teknis pun terus dimatangkan. Paspor telah rampung, sementara visa untuk petugas masih dalam proses. Maskapai, baik Saudi Airlines maupun Garuda Indonesia, dipastikan siap. Semua bergerak dalam ritme yang terukur, seolah memastikan bahwa setiap jemaah bisa berangkat tanpa beban yang tersisa.

Meski demikian, suasana global yang tengah bergejolak turut menjadi perhatian. Bupati mengajak para jemaah untuk memperbanyak doa, berharap agar kondisi di Tanah Suci tetap aman dan kondusif. Sebab pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya tentang fisik yang berpindah tempat, tetapi juga tentang hati yang mencari ketenangan.
Manasik haji di Ciamis tahun ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. Ia adalah ruang belajar, ruang berbagi, dan ruang menguatkan. Di dalamnya, para calon jemaah tidak hanya dipersiapkan secara administratif, tetapi juga ditempa secara mental dan spiritual.
Baca juga : mengenal lebih dekat kabupaten ciamis
Ketika acara usai, para jemaah pulang membawa lebih dari sekadar materi bimbingan. Mereka membawa keyakinan baru, bahwa perjalanan ini bukan lagi sekadar impian. Ia sudah di depan mata, tinggal menunggu waktu untuk benar-benar melangkah menuju Tanah Suci, dengan tubuh yang siap, hati yang lapang, dan doa yang terus terucap.
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Follow Instagram MCNNEWS.ID
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook





















