Di depan mata berkedip rasa sedih
“mengapa mendung?” suara itu terdengar dari bibir dingin, mengalir ke kepala yang juga dingin, sambil menatap mata orang-orang di jalanan. Pada siang hari Senin, setelah pulang kampus, rasanya hangat berjalan sendirian sambil membawa tas hitam gelap yang sering aku bawa ke kampus. Mendung terus menyebar kabut di jalan dekat kos pink yang berada di dekat jembatan. “Seharusnya siang itu harus panas, bukan dingin,” pikirku dalam hati, sambil melihat pagar rumah kos bapa yang bergoyang maju mundur seolah ada yang baru masuk. Hujan gerimis mulai turun, terasa di alis mataku yang selalu menjadi saksi datangnya hujan. Saat aku memegang bagian kiri pagar depan kos, terlihat sedikit darah seakan ada yang baru bunuh diri (padahal ada seseorang yang membawa anjing mati karena acara penyambutan tetangga baru). Jalan begitu basah (sebuah danau kecil di jalan) tapi tidak terlalu besar seperti danau di Rana Mese yang jauh lebih besar dan dikelilingi sejarah. Mungkin aku gila, berimajinasi sendiri di jalan itu. “Mengapa aku seharusnya ada di sini? Bukankah niatku dulu harus lanjut ke Kupang?” pikiranku terasa melepas beban tugas. Tapi, “Ini adalah bekal untuk masa depanku yang belum datang, dan aku tidak ingin menunggu, aku harus segera menjemput meskipun jalannya rusak parah, aku tidak ingin menyerah!” kataku dengan suara pelan saat akan masuk ke kamar kecil di ujung timur yang berdekatan dengan kamar temanku. “Eh, aku menceritakan ini di kertas kecil buku diary, tapi tidak diketahui oleh banyak orang, (bukan karena aku pendek hehehe) karena aku belum memperkenalkan diri secara lisan maupun tertulis kepada semua orang. Tapi, hari ini aku harus diketahui oleh banyak orang, bahkan seluruh rakyat Indonesia.” Suaraku sendiri di atas kertas putih yang memiliki garis tebal pada celah-celah kotak panjang. “Aku Bia, aku dikelilingi tujuh bersaudara (lima laki-laki dan dua perempuan termasuk aku yang menulis ini). Aku juga salah satu mahasiswi UNIKA St. Paulus Ruteng. Saat masuk awal kampus, aku memilih jurusan Teknik Sipil dan sekarang berjalan lancar meskipun setiap hari aku dikerumuni banyak tugas kampus (itu tidak masalah) karena itulah tugas utama seorang mahasiswa.” Suaraku memperkenalkan diri pada orang-orang meskipun aku menulisnya di atas kertas putih. Sore menjelang senja tiba, pelangi datang karena gerimis yang turun perlahan siang tadi di luar kamar kecil kos pink yang sekarang tinggal sendiri. Awan hitam berkabut sudah hilang, dan bahkan gerimis pun telah lenyap seketika saat aku keluar dari kamar. Cahaya senja menyebar di dinding bagian timur pintu kamarku yang sempit. Aku tersenyum sambil memandang langit yang begitu indah hasil ciptaan Sang Pencipta. Hampir satu jam aku berdiri di halaman depan kamar itu memandang senja yang indah datangnya sore itu, tapi setelah itu aku sedih. “Mengapa cahayanya datang sekejap?” kataku dengan suara kecil, air mata jatuh ke tanah sore itu. Aku direkam oleh seseorang perempuan dari lantai dua kos pink waktu itu. Tapi aku tidak peduli seberapa kesedihan mereka. “Angin memancar terasa pada rambut-rambutku yang kriting (tapi tidak terlalu seperti salah seorang temanku di kampus) seakan menyuruhku untuk masuk ke kamar, mungkin itu angin yang Tuhan beri untuk mendorongku masuk kamar siap-siap belajar,” dalam pikiranku yang selalu memikirkan orang yang sudah menjaga dan memahami apa yang aku rasakan, yaitu Tuhan. Akhirnya aku masuk, melepas resah pada buku belajar yang dosen suruh beli kemarin sore. Aku belajar dengan lampu kecil di atas mejaku. Mungkin diaryku hari itu tidak terlalu panjang, tapi cerita yang istimewa bagiku dengan perasaan resah seakan tidak mau melanjutkannya. “Aku tetap menjadi pribadi yang kuat seperti ayahku waktu masih hidup dan dorongan Tuhan,” kata-kataku di atas meja belajar yang ayah buat dua tahun lalu sebelum dia pergi meninggalkan aku dan keluargaku.
-Tini Bia
-Rahong utara
-Manggarai






















