MCNNEWS.ID, JAKARTA – Ketidakstabilan situasi geopolitik mendoronginvestormemperketat paparan terhadap aset yang berisiko. Di sisi lain, instrumensafe haven, seperti emas, meningkatnya permintaan pasar. Selanjutnya, apa keputusan investasi yang paling sesuai dalam situasi saat ini?
Perencana Keuangan sekaligus Pendiri Finansialku Melvin Mumpuni menganggap para investor memang perlu berpikir lebih keras dalam memilih strategi investasi yang tepat di tengah ketidakpastian.
Yang paling penting adalah menyesuaikan strategi tersebut dengan tujuan investasi, profil risiko, serta jangka waktu yang dimiliki agar dapat mencapai tujuan tersebut.
Misalnya, untuk jangka pendek kurang dari setahun, pilih instrumen likuid seperti tabungan berjangka, reksa dana pasar uang, emas, dan emas digital. Namun, untuk jangka menengah-panjang, tidak salah jika menggabungkan beberapa saham, reksa dana, dan emas sebagai diversifikasi,” katanya kepadaBisnis, Selasa (16/9/2025).
Menurut Melvin, saat ini emas masih menjadi aset wajib yang harus dimiliki investor baik untuk tujuan jangka pendek maupun panjang. Hal ini karena harga emas diperkirakan masih dalam tren kenaikan yang cukup signifikan, setidaknya hingga akhir tahun ini.
Misalnya, Goldman Sachs telah merancang berbagai kemungkinan skenario.Pertama, emas diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 8% menjadi US$3.100 per ounce pada akhir 2025, didorong oleh permintaan tinggi dari bank sentral dan aliran masuk dana ke ETF emas akibat penurunan suku bunga.
Ada lagi upside scenariojika ketidakpastian kebijakan tetap tinggi, misalnya terkait tarif perdagangan, harga diperkirakan mencapai US$3.300. Perkiraan ini bahkan diubah pada April 2025 dengan menaikkan target menjadi US$3.700 per ounce, dengan rentang perkiraan antara US$3.650—US$3.950.
“Skenario kedua, jika terjadi resesi, kemungkinan kenaikan bisa mencapai US$3.880. Selanjutnya, ada skenario ekstrem di mana investor swasta secara signifikan memindahkan aset mereka, misalnya 1% dari surat utang AS ke emas, maka proyeksi Goldman Sachs bisa mencapai US$5.000 per ounce,” katanya.
Di sisi lain, JP Morgan juga memiliki pandangan optimis namun lebih rasional, dengan prediksi harga emas mungkin mencapai sekitar 3.675 dolar AS per ounce pada kuartal IV/2025 dan bergerak menuju 4.000 dolar AS di pertengahan 2026.
Jika suku bunga The Fed menurun, atau terjadi perubahan geopolitik seperti perang baru, maka kemungkinan besar harga emas akan naik lebih signifikan.
Peristiwa ini pernah terjadi selama Krisis 2008, yaitu dengan adanya penurunan suku bunga yang signifikan, sehingga harga emas meningkat dari sekitar US$800 menjadi US$1.900 pada tahun 2011. Pada masa pandemi sekitar tahun 2020, tindakan The Fed kembali mengurangi suku bunga, membuat harga emas mencapai rekor di atas US$2.000.
“Menurut pendapat saya dengan menggunakan analisis teknis, saya melihat dalam jangka pendek ini, hingga akhir tahun, harga bisa mencapai US$3.650—US$3.700. Angka ini mungkin terlampaui jika terjadi perubahan ekonomi penting, seperti penurunan suku bunga dari The Fed,” katanya.
Selanjutnya, setelah memiliki emas sesuai kebutuhan, lakukan pembagian aset ke beberapa saham untukcapital gain, obligasi untuk cash flow, dan deposito atau RDPU untuk kebutuhan likuiditas. Semua hal ini perlu dilakukan agar risiko dapat tersebar. Tidak bergantung hanya pada satu jenis instrumen.
Melvin melihat bahwa saat ini merupakan momentum yang baik untuk membeli saham perusahaan Indonesia yang secara valuasi masihundervalued, seperti PE ratioIndonesia saat ini memiliki tingkat sekitar 55% berdasarkan Indikator Buffett, yang berarti masih terdapat ruang untuk peningkatan nilai.
Terakhir, pertahankan likuiditas dan dana darurat dalam keadaan yang baik, sehingga ketika terjadishockekonomi, investor memiliki cadangan dana untuk menghindari harus menjual aset dengan harga murah.
Gabungkan antara saham, termasuk yangundervalued, surat utang, dan emas untuk mengurangi ketidakstabilan pasar. Lakukan evaluasi secara berkala dan tetap bersifat fleksibel dengan memantau data ekonomi, inflasi, kebijakan moneter, situasi geopolitik, serta tingkat keuntungan saham.real–time, dan selalu siap rebalancingsaat peluang dan risiko berubah,” tutupnya.






















