Gunung Muria: Habitat Kaya akan Fauna Endemik
Gunung Muria, yang berada di wilayah Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati, merupakan salah satu gunung paling terkenal di daerah utara Pulau Jawa. Meskipun tingginya hanya 1.606 mdpl, pengunjung menjadikan Gunung Muria destinasi wisata populer karena keindahan alamnya dan sering dikunjungi para peziarah. Selain itu, Gunung Muria masih menjaga keasriannya dan menjadi rumah bagi banyak satwa endemik yang unik.
Berikut adalah beberapa hewan endemik yang hidup di kawasan Gunung Muria:
1. Macan Tutul Jawa
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) adalah satwa endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa. Ia merupakan predator puncak di ekosistem Pulau Jawa dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan alam. Saat ini, alam liar hanya menampung sekitar 188–571 individu macan tutul Jawa, sehingga pihak berwenang mengkategorikannya sebagai hewan terancam punah dan melindunginya.
Di Gunung Muria, macan tutul jawa sering terlihat di hutan, semak-semak, area lembap, dan pepohonan. Hewan ini mampu memanjat pohon, tebing, bahkan berenang. Namun, terkadang ia masuk ke area pemukiman dan memangsa ternak seperti ayam, kambing, dan sapi. Hal ini menyebabkan konflik dengan masyarakat setempat.
2. Lutung Jawa
Lutung jawa (Trachypithecus auratus) adalah salah satu spesies primata yang hidup di Gunung Muria. Hewan ini memiliki ekor yang panjang, mencapai lebih dari 1 meter, dan bobot maksimal sekitar 7 kilogram. Populasi lutung jawa saat ini sangat terancam akibat kerusakan habitat, perburuan liar, dan konflik dengan manusia.
Di Gunung Muria, lutung jawa sering terlihat bergelantungan di pepohonan atau kebun. Populasinya cukup besar di Desa Kejajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Hewan ini tidak berbahaya dan biasanya memakan buah-buahan serta sayuran. Jika makanan langka, lutung jawa bisa masuk ke area pemukiman.
3. Cecak Batu Muria
Para peneliti menemukan cecak batu Muria (Cnemaspis muria) sebagai spesies baru pada tahun 2019. Hewan ini berwarna cokelat dan hidup di lereng selatan Gunung Muria. Berbeda dengan cecak lainnya, cecak batu muria tidak memiliki kaki lengket, tetapi mampu memanjat menggunakan cakarnya yang tajam. Di alam liar, hewan ini sering ditemukan di pepohonan dan bebatuan, mencari makanan berupa serangga kecil.
4. Elang Jawa
Elang jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satu burung yang terancam punah. Selain itu, populasinya saat ini hanya sekitar 300–500 individu dan terus menurun akibat kerusakan habitat, perburuan, serta deforestasi. Elang jawa memiliki tubuh berwarna cokelat dan jambul yang menjadi ciri khasnya. Ia tinggal di hutan lebat, kebun, dan pepohonan tinggi. Terkadang, elang jawa juga turun ke permukiman untuk mencari makanan. Hewan ini membantu petani dengan membasmi tikus.
5. Kobra Jawa
Kobra jawa (Naja sputatrix) adalah ular berbisa yang sering ditemukan di kawasan Gunung Muria. Hewan ini aktif pada malam hari dan memangsa kodok, katak, tikus, dan telur hewan lain. Populasinya cukup besar, baik di hutan maupun area pemukiman. Jika merasa terancam, kobra jawa bisa mengangkat kepala, mendesis, melebarkan tudung, dan menyemburkan racun. Oleh karena itu, pengunjung harus berhati-hati saat berada di sekitar kawasan Gunung Muria.
Pentingnya Melestarikan Ekosistem Gunung Muria
Keberadaan satwa endemik di Gunung Muria menunjukkan bahwa kawasan ini sangat ideal sebagai habitat hewan liar. Sayangnya, banyak hewan yang populasinya terancam dan sering berkonflik dengan manusia. Untuk mencegah hal tersebut, kita harus menjaga ekosistem di hutan Gunung Muria. Jangan ganggu kehidupan hewan, lestarikan alam, dan hindari merusak habitat hewan endemik. Dengan demikian, kita bisa menjaga keanekaragaman hayati yang ada di Gunung Muria.























