MCNNEWS.ID
Untuk pertama kali, Mahkota Binokasih dikirab dan disaksikan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Menurut rencana, 3 Mei 2026, Mahkota Binokasih diarak ke Astana Gede Kawali.
Mahkota bukan sekadar perhiasan kepala bagi seorang raja. Di tanah Sunda, mahkota adalah simbol legitimasi, kesinambungan kekuasaan, sekaligus penanda ruh peradaban. Salah satu yang paling sakral adalah Mahkota Binokasih, pusaka agung yang jejak sejarahnya terhubung erat dengan Kerajaan Galuh dan perjalanan panjang kerajaan-kerajaan Sunda setelahnya.
Baca juga : profil lengkap kabupaten ciamis
Jejak Awal dari Tanah Galuh
Kerajaan Galuh, yang berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Ciamis, merupakan salah satu kerajaan besar di tatar Sunda pada masa klasik. Dalam tradisi lisan dan naskah-naskah kuno, Mahkota Binokasih diyakini sebagai simbol kekuasaan raja-raja Sunda yang diwariskan secara turun-temurun.
Mahkota ini bukan hanya lambang otoritas politik, tetapi juga dianggap memiliki nilai spiritual tinggi, mengandung doa, harapan, dan legitimasi ilahiah bagi pemegangnya.
Nama “Binokasih” sendiri sering dimaknai sebagai “dibina dengan kasih,” mencerminkan filosofi kepemimpinan Sunda yang mengedepankan welas asih, keadilan, dan kebijaksanaan.
Perpindahan Pusaka dan Masa Pajajaran

Seiring runtuhnya pusat-pusat kekuasaan lama dan munculnya kerajaan baru, pusaka ini berpindah tangan. Mahkota Binokasih kemudian dikenal sebagai bagian penting dari simbol kekuasaan di Kerajaan Pajajaran, kerajaan besar yang menjadi penerus tradisi Sunda klasik.
Namun, ketika Pajajaran mengalami keruntuhan pada abad ke-16 akibat tekanan politik dan militer, pusaka-pusaka kerajaan, termasuk Mahkota Binokasih, diselamatkan.
Di sinilah kisah penting terjadi: mahkota tersebut akhirnya sampai ke tangan penguasa Sumedang.
Era Sumedang Larang dan Prabu Geusan Ulun
Mahkota Binokasih kemudian menjadi bagian dari legitimasi kekuasaan di Kerajaan Sumedang Larang.
Sosok penting dalam fase ini adalah Prabu Geusan Ulun, yang diyakini menerima pusaka tersebut sebagai simbol kesinambungan dari Pajajaran.
Di bawah kepemimpinan Prabu Geusan Ulun, Mahkota Binokasih tidak hanya menjadi simbol kekuasaan, tetapi juga alat pemersatu identitas Sunda di tengah perubahan zaman. Pusaka ini menjadi bukti bahwa meskipun pusat kekuasaan berpindah, ruh budaya dan tradisi tetap terjaga.
Makna Filosofis Mahkota Binokasih
Mahkota ini bukan sekadar artefak sejarah. Ia mengandung nilai-nilai luhur:
- Kepemimpinan berbasis kasih sayang
- Keseimbangan antara kekuasaan dan kebijaksanaan
- Tanggung jawab moral terhadap rakyat
Dalam konteks budaya Sunda, pemimpin ideal bukan hanya kuat, tetapi juga mampu mengayomi,sejalan dengan filosofi yang terkandung dalam Binokasih.
Tradisi Kirab Mahkota Binokasih.
Hingga hari ini, Mahkota Binokasih tetap dijaga dan dilestarikan, terutama di Sumedang. Salah satu bentuk pelestarian yang paling menarik adalah Kirab Mahkota Binokasih.
Kirab ini biasanya digelar dalam momen-momen khusus, seperti hari jadi daerah atau peringatan budaya. Dalam kirab, mahkota diarak dengan penuh kehormatan, diiringi oleh:
- Pasukan adat berpakaian tradisional Sunda
- Tarian dan musik tradisional seperti degung
- Ritual doa dan penghormatan kepada leluhur
Prosesi ini bukan sekadar parade budaya, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang peradaban Sunda. Masyarakat yang menyaksikan kirab biasanya larut dalam suasana sakral, ada rasa bangga, haru, sekaligus kesadaran akan akar budaya mereka.
Baca juga : mengenal lebih dekat kabupaten ciamis
Kirab sebagai Jembatan Masa Lalu dan Masa Kini
Kirab Mahkota Binokasih menjadi semacam “jembatan waktu.” Ia menghubungkan generasi sekarang dengan masa lalu yang penuh nilai dan makna. Di tengah modernitas yang sering melupakan akar budaya, tradisi ini justru menjadi pengingat: bahwa identitas tidak lahir dari ruang kosong.
Di wilayah Priangan Timur, termasuk Ciamis yang dulu menjadi bagian penting dari Galuh, kisah Mahkota Binokasih tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Ia bukan sekadar cerita lama, tetapi bagian dari jati diri.
Mahkota Binokasih adalah lebih dari sekadar pusaka kerajaan. Ia adalah simbol perjalanan panjang peradaban Sunda dari Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang Larang.
Sementara kirabnya menjadi cara masyarakat hari ini menjaga agar sejarah tidak sekadar menjadi arsip, tetapi tetap hidup, bergerak, dan dirayakan.
Penulis : Bang Sufi
Editor : Tim mcnnews.id
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Follow Instagram MCNNEWS.ID
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook




















