Kebiasaan mengunyah permen karet sudah dikenal sejak dahulu, mulai dari masa Yunani kuno. Berikut adalah sejarah permen karet.
MCNNEWS.ID
Bagi Anda yang menyukai serial Lupus, baik dalam bentuk buku, sinetron, maupun film, pasti sudah tidak asing dengan kebiasaan tokoh utamanya, yaitu Lupus, yang suka mengunyah permen karet. Namun, artikel ini tidak akan membahas tentang tokoh tersebut, melainkan tentang permen karet itu sendiri.
Lebih akurat lagi, sejarah karet.
Permen karet memiliki berbagai manfaat. Selain digunakan untuk menghilangkan rasa bosan, permen karet juga disebut mampu meningkatkan fokus. Bahkan menurut hasil penelitian, mengunyah permen karet dapat mengurangi stres.
Lalu bagaimana kisah perkembangan permen karet?
Tradisi mengunyah permen karet sudah lama dikenal. Bahkan istilah mastic atau mengunyah diduga berasal dari kebiasaan masyarakat Yunani kuno. Mereka biasanya mengunyah-kunyah mastiche, “permen karet” dari getah pohonmastic, Pistacia atlantica untuk membersihkan gigi dan mengharumkan napas.
Dengan tujuan yang sama, baik yang menggunakan damar segar dan harum, seperti masyarakat Indian, yang kemudian ditiru oleh masyarakat koloni New England, Amerika Serikat. Berbeda dengan penduduk asli Semenanjung Yucatan, antara Meksiko dan Karibia, yang selama ratusan tahun mengunyah getah pohon. sapodilla (Achras zapota yang berkembang pesat di hutan hujan daerah tersebut.
Suku Indian Maya di Meksiko telah mengenalnya sejak 1000 tahun yang lalu. Selama musim hujan, para pekerja melakukan penyadapan getah.sapodilla dengan menggambar garis V pada batangnya.
Chewing gumse benarnya sudah dikenal sejak abad ke-19. Pada masa itu, beberapa bagianchicledari Meksiko dibawa ke Amerika Serikat untuk dijual sebagai karet.
Namun, penemu asal New York bernama Thomas Adams, Sr., tidak berhasil mengolahnya menjadi karet yang keras dan kuat. Justru, ketika merebus bahan tersebut, ia melihat bahan itu sangat lunak dan mudah dibentuk atau dicetak.
Maka menurutnya, chicle sangat cocok sebagai bahan permen karet. Bahkan, dalam proses pembuatan,chicle yang diawetkan dengan cara dikeringkan tidak mudah larut, mampu mempertahankan rasa, serta mengembang.
Baru pada tahun 1906, permen karet yang bisa mengembang sebesar balon atau bubble gum pertama kali dirilis dengan nama Blibber Blubber. Produk tersebut dianggap sempurna dan dipasarkan pada tahun 1928.
Selanjutnya, permen karet dari chicle menggeser popularitas permen karet yang berasal dari getah cemara atau parafin manis. Selain terkesan ketinggalan zaman, dua jenis tersebut memiliki rasa yang kurang lembut.
Secara umum, permen karet terdiri dari bahan dasar, gula, sirup jagung, bahan pelunak, dan rasa. Bahan dasarnya adalah yang memberikan tekstur kenyal dan tidak larut saat dikunyah, yang bisa berasal dari berbagai jenis lilin, resin (getah yang lengket), atau lateks (getah yang tidak lengket), misalnya chicle tadi.
Dibandingkan chewing gum, getah dasar dalam bubble gum lebih kuat, lebih fleksibel, dan dapat direnggangkan. Gula dalam permen karet selain berfungsi sebagai pemanis, juga memiliki tujuan tertentu yaitu mencegah setiap potong saling menempel saat dikemas.
Sementara sirup jagung, selain berfungsi sebagai pemanis, juga memberikan rasa segar dan tekstur yang kenyal. Bahan pelembut, seperti produk minyak nabati, menghasilkan campuran yang lebih merata serta menjaga kelembutan.
Terlebih setelah ditambahkan rasa, baik itu dari mentol maupun buah-buahan, permen karet semakin lezat. Pada pertengahan tahun 1960-an, mulai diproduksi chewing gum tanpa pemanis. Jenis ini umumnya menggunakan bahan pemanis alami dan sintetis seperti sorbitol, mannitol, aspartam, atau sakarin.
Begitu manisnya, sampai berpotensi merusak gigi, banyak dokter gigi menyarankan pasien untuk mengonsumsi permen karet tanpa gula. Sebaliknya, menurut penelitian, gula dalam permen karet akan terpisah dari bahan-bahan lainnya. Terlebih lagi, air liur selama proses mengunyah memiliki efek mencuci, sehingga mengurangi risiko kerusakan gigi.
Setelah Perang Dunia II, berbagai jenis lilin, plastik, atau karet sintetis mulai menggantikan chicle. Selanjutnya, dengan penggunaan pemanis sintetis, permen karet mulai menemukan pasar yang besar di Amerika Serikat pada akhir abad ke-20.
Penulis
Shanny Ratman adalah seorang wirausahawan dan pengelola media yang telah menekuni dunia usaha sejak 1997. Berstatus menikah, ia memulai karier sebagai Captain Restaurant di Inasuki Japanese Restaurant, Bandung. Tahun 1999, ia merintis usaha kuliner dengan berjualan makanan Eropa di kawasan Cibadak, Bandung, lalu pada 2001 membuka warung makan di Ciamis.
Pengalamannya berkembang ke bidang event organizer sebagai crew EO di Bandung sejak 2015. Pada 2018, ia mengikuti pelatihan entrepreneur bersama EntrepreneurID secara online dan menjalankan bisnis online hingga 2020. Tahun 2022, ia kembali ke Ciamis untuk mengembangkan bisnis kuliner, dan sejak 2023 aktif berkolaborasi membuka usaha kuliner yang terus berjalan hingga kini.
Selain itu, sejak 2025 Shanny turut membangun dan mengelola portal berita mcnnews.id sebagai admin. Dengan pengalaman di bidang kuliner, event, bisnis digital, dan media, ia dikenal sebagai pribadi adaptif, konsisten, dan berorientasi pada kolaborasi serta pengembangan usaha berkelanjutan.













