Perjalanan yang Penuh Emosi
Perjalanan menggunakan transportasi umum bukan hanya sekadar proses fisika, seperti perpindahan benda dari satu titik ke titik lain. Proses ini juga melibatkan berbagai aspek psikologis atau emosional. Dalam perjalanan, kita sering mengalami fluktuasi emosi yang bisa sangat intens, mirip dengan jalur jalan tol yang penuh belokan dan naik-turun.
Beberapa waktu lalu, saya mengalami pengalaman yang sangat menarik dalam perjalanan pagi hari. Tepatnya pada hari Kamis, 8 Agustus 2025. Ceritanya dimulai ketika istriku dan saya menyewa mobil daring dari aplikator X untuk menuju Stasiun Kebayoran Lama. Rencananya, kami akan naik kereta komuter pukul 06.41 WIB ke Rangkasbitung, tujuan akhir adalah Gua Maria Bukit Kanada (GMBK), tempat kami ingin berziarah.
Awalnya, semua berjalan lancar. Sopir tiba tepat waktu, ramah, dan mobil bersih. Namun, situasi berubah saat sopir membelokkan mobil ke kanan di pertigaan, alih-alih ke kiri seperti biasanya. Jalur yang dipilih lebih padat dan memiliki delapan lampu lalu lintas, sedangkan jalur kiri hanya memiliki lima lampu lalu lintas. Ini membuat saya merasa tidak nyaman.
Saya mencoba menenangkan diri, berpikir mungkin jalur yang dipilih lebih nyaman. Namun, ternyata tidak. Sopir terus main ponsel sambil menguap, membuat laju mobil tersendat. Emosi saya mulai memuncak, dan saya merasa kesal. Istriku mencoba menenangkan saya, tetapi situasi semakin memburuk.
Setelah beberapa kali memutar balik dan menghadapi kemacetan, akhirnya kami sampai di stasiun. Meski tiba di lokasi yang tidak seharusnya, kami masih berhasil naik kereta. Kami hampir ketinggalan, tetapi untungnya masih mampu berlari ke peron.
Rekonsiliasi di Kereta Komuter
Di dalam gerbong kereta komuter, suasana jauh lebih tenang dibandingkan kereta dari arah sebaliknya yang penuh sesak. Kami duduk nyaman dan mesin pendingin memberikan udara sejuk yang membantu mendinginkan pikiran. Saat itu, saya mulai merenung tentang pengalaman buruk di awal pagi tadi.
Saya merasa bersalah karena tidak mampu menahan emosi. Seharusnya, perjalanan ke Gua Maria Bukit Kanada dilakukan dengan hati yang tenang dan damai. Saya juga menyadari bahwa saya sendiri tidak memberi petunjuk jalan yang benar kepada sopir, yang bisa menjadi kesalahan juga.
Dengan perasaan bersalah, saya berdoa dalam hati agar Tuhan mengampuni dosa-dosa yang telah saya lakukan. Kereta melaju tenang, membawa saya ke Rangkasbitung, seorang pendosa yang sedang mencari rekonsiliasi.
Hati Adem Naik Angkot
Setiba di Stasiun Rangkasbitung, kami langsung mencari angkot untuk menuju Gua Maria Bukit Kanada. Supir angkot yang sudah kenal kami menawarkan tumpangan. Di dalam angkot, suasana sangat tenang dan nyaman. Tidak ada kegaduhan seperti di kota-kota besar.
Supir angkot itu ramah dan kami berbincang-bincang tentang hal-hal ringan. Angkot langsung berjalan setelah kami naik, tanpa menunggu penumpang lain. Hal ini membuat saya merasa dihargai sebagai penumpang.
Meskipun aroma kota agraris terasa, saya merasa tenang. Angin sepoi-sepoi yang masuk dari jendela angkot membuat tubuh terasa segar. Rasa kesal terhadap sopir mobil sewaan tadi perlahan hilang.
Saat angkot berhenti di depan gerbang Gua Maria Bukit Kanada, hati saya sudah siap menyambut Bunda Maria. Ave Maria!























