MCNNEWS.ID, JAKARTA — Isu penggabungan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) dengan Pelita Air kembali muncul setelah sempat tidak terdengar selama dua tahun terakhir.
Berdasarkan catatan MCNNEWS.ID, Selasa (7/11/2023), Kementerian BUMN sedang mempertimbangkan penggabungan antara anak perusahaan Garuda, yaitu Citilink dengan Pelita Air dengan dua model yang berbeda.
Pertama, lisensi penerbangan rutin Pelita Air akan dialihkan ke Citilink, yang merupakan anak perusahaan Garuda Indonesia.Kedua, ketiga perusahaan penerbangan pelat merah tersebut akan diintegrasikan ke dalam Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata, yaitu InJourney.
Namun, keadaan ini tergantung pada kemampuan Garuda dalam melakukan penataan ulang. Pemerintah akan meninjau hingga akhir tahun mengenai kinerja keuangan GIAA.
Sayangnya, rencana penggabungan antara Citilink dan Pelita Air yang mulai beredar sejak 2023 masih belum jelas hingga akhir 2024.
Pada masa itu, kesiapan Garuda dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam mempercepat langkah korporasi Citilink dan Pelita Air. Namun, pelaksanaannya juga akan dipengaruhi oleh keputusan pemimpin utama di Indonesia.
Wakil Menteri BUMN Dony Oskaria menegaskan masa depan GIAA, serta rencana penggabungan PT Citilink Indonesia dengan Pelita Air akan menunggu petunjuk Presiden RI Prabowo Subianto.
Dony menyebutkan bahwa langkah-langkah perusahaan penerbangan pelat merah akan dibahas lebih lanjut bersama Presiden Prabowo dan Menteri BUMN Erick Thohir.
“Kami akan mengikuti petunjuk dari Bapak Presiden Prabowo mengenai bagaimana nantinya ke depannya, Garuda, Citilink, dan juga Pelita. Jelas kami akan menunggu petunjuk dari Bapak Presiden dan Menteri,” katanya, Senin (21/10/2024).
Hampir setahun kemudian, wacana penggabungan kembali muncul. Kali ini giliran PT Pertamina (Persero) yang menginisiasi penggabungan dengan Garuda sebagai bentuk spin-off anak usahanya, Pelita Air.
Kepala Eksekutif PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri mengatakan bahwa proses pemisahan perusahaan tersebut akan dilakukan di bawah pengawasan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.
“Sebagai contoh, untuk airlinekami sedang melakukan tahap awal negosiasi mengenai penggabungan Pelita Air dengan Garuda Indonesia,” ujar Simon dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (11/9/2025).
Menurutnya, pengembangan spin-off dilakukan agar Pertamina dapat lebih berkonsentrasi pada bisnis utamanya, yaitu minyak dan gas, serta energi yang dapat diperbarui.
Secara terpisah, Direktur Utama Garuda IndonesiaWamildan Tsani menyatakan perusahaan tetap berfokus pada program pemulihan kinerja dengan memperkuat modal sendiri, perbaikan armada, pemulihan lingkungan bisnis, serta peningkatan jumlah penumpang.
Menurutnya, diskusi mengenai konsolidasi BUMN di sektor penerbangan hingga saat ini masih berada pada tahap awal. Perusahaan juga terus berkoordinasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan terkait isu tersebut.
“Perseroan saat ini sedang dalam tahap awal diskusi dengan pihak-pihak yang terkait,” katanya dalam pengungkapan informasi, Selasa (16/9/2025).
Usulan penggabungan ini tampaknya kali ini dianggap serius oleh Kementerian BUMN, yang menyatakan bahwa proses penyederhanaan bisnis Garuda dan Pelita akan berada di bawah pengawasan Danantara.
Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan bahwa pihaknya hanya akan bertindak sebagai pihak yang memberikan persetujuan akhir, sementara proses analisis dan pelaksanaan teknis akan dilakukan oleh Danantara sebagai holding operasional perusahaan pelat merah.
“Kami dari Kementerian BUMN akan mengikuti kebijakan yang akan diambil oleh Danantara. Jika kami hanya memberikan persetujuan akhir, maka proses analisisnya dilakukan oleh Danantara,” katanya di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/9/2025).
Menurutnya, skema penggabungan Garuda–Pelita merupakan bagian dari perubahan sektor penerbangan yang dijalankan pemerintah melalui Danantara. Erick menyatakan bahwa pihaknya sepenuhnya mendukung tindakan yang diambil oleh konglomerat tersebut.






















