Kab Tasikmalaya, MCNNEWS.ID
Tabir gelap menyelimuti SMP IT Al-Faaruuq, Kabupaten Tasikmalaya. Sekolah yang seharusnya menjadi pilar pendidikan karakter ini kini diguncang Diduga isu miring terkait tata kelola administrasi dan dugaan penyimpangan dana negara.
Mulai dari pemecatan siswa secara sepihak, nasib guru honorer yang terhimpit, hingga mencuatnya fenomena “siswa fiktif” di data Dapodik.
Jeritan Guru Honorer: Gaji Per Semester
Kesejahteraan tenaga pengajar di SMP IT Al-Faaruuq berada di titik nadir. Para guru honorer mengaku hanya menerima upah setiap enam bulan sekali atau per semester—sebuah sistem penggajian yang dianggap tidak manusiawi di tengah himpitan ekonomi.
“Kami merasa sangat terbebani. Bayangkan, enam bulan baru cair. Idealnya sebulan sekali, atau paling lama tiga bulan agar dapur tetap bisa mengepul,” keluh salah satu guru honorer dengan tawa getir saat diwawancarai.
Misteri Siswa “Siluman” dan Dapodik
Kecurigaan publik semakin menguat saat data internal sekolah bocor. Beberapa pengajar mengaku menemukan nama-nama siswa di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan absensi kelas, namun sosok fisiknya tak pernah menampakkan diri di sekolah.
“Saya sudah tujuh bulan mengajar di sini, tapi ada nama-nama siswa di Dapodik yang tidak pernah saya lihat tatap mukanya. Orangnya tidak ada, tapi namanya muncul terus saat ujian,” ungkap sumber tersebut.
Meski pihak sekolah dikabarkan sempat mendatangi rumah siswa yang bersangkutan, nyatanya mereka tetap tidak bersekolah namun namanya tetap “dipelihara” dalam sistem. Muncul dugaan kuat, nama-nama ini tetap dipertahankan demi mengamankan kucuran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Komite Sekolah: Hanya Jadi “Tukang Tanda Tangan”
Ironisnya, peran Komite Sekolah yang seharusnya menjadi pengawas justru dikebiri. Cucu, Ketua Komite SMP IT Al-Faaruuq, membeberkan fakta mengejutkan bahwa dirinya tidak pernah memegang SK resmi selama tujuh tahun menjabat.
“Komunikasi dengan Kepala Sekolah dan Ketua Yayasan sangat minim. Kami tidak pernah diajak bicara soal pendaftaran siswa baru atau kegiatan sekolah. Saya hanya dicari kalau sekolah butuh tanda tangan laporan, itu pun dokumennya diantar ke rumah,” ujar Cucu dengan nada tegang.
Dinas Pendidikan Mulai “Turun Gunung”
Merespons kegaduhan Adanya Dugaan Siswa Fiktip, Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya tidak tinggal diam. Kepala Bidang (Kabid) SMP, Cucu Ano Lesmana, menegaskan akan melakukan investigasi menyeluruh.
“Kami akan turun tangan. Mulai dari sistem penggajian yang tidak wajar hingga isu siswa fiktif. Kami akan lakukan konfirmasi dan investigasi untuk memastikan kebenaran dugaan ini. Jika terbukti, tindakan tegas akan diambil sesuai peraturan yang berlaku,” tegas Cucu.
Sementara , Kasi Pendidikan yang diutus ke lapangan menyatakan telah memerintahkan pihak sekolah untuk memanggil kembali siswa yang dikeluarkan secara sepihak. Terkait dugaan korupsi dana BOS melalui siswa fiktif, pihaknya akan berkoordinasi dengan Tim Khusus Dana BOS.
Sorotan Pengamat: Pelanggaran Serius
Johan, seorang pemerhati pendidikan, menilai apa yang terjadi di SMP IT Al-Faaruuq adalah potret buruk Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
“Sangat miris. Bagaimana guru bisa mengajar dengan maksimal jika kesejahteraannya Terabaikan? Terlebih soal dugaan siswa fiktif, jika data Dapodik tidak sinkron dengan fisik siswa tapi dana BOS tetap cair, itu adalah pelanggaran hukum karena merugikan keuangan negara,” tutup Johan tegas.
Kini, publik menunggu nyali Dinas Pendidikan untuk membongkar tuntas praktik “sekolah gelap” ini dan mengembalikan integritas dunia pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya.
Penulis Robi D
Editor Shanny R























