MCNNEWS.ID, Saat kebanyakan teman sebayanya mulai hidup mandiri dan menyewa tempat tinggal di kota-kota besar, Lamar Mangal (28 tahun) memilih jalur yang berbeda. Jalur ini mungkin umum di sebagian besar negara miskin dan berkembang, termasuk Indonesia, tetapi tidak di negara-negara maju.
Hidup di rumah orang tua setelah dewasa bukanlah kebiasaan masyarakat di negara-negara maju. Kini, ‘mengorbankan kemandirian’ semakin diminati agar bisa menghemat pengeluaran. Cerita Mangal disampaikan Reuters, Senin (1/12/2025) ia kini tinggal kembali di rumah ayahnya di Milton Keynes, Inggris.
“Pada saat itu, saya benar-benar berencana untuk menyisihkan sebanyak mungkin,” ujar pria yang bekerja sebagai Account Manager di sebuah perusahaan teknologi.
Keputusan itu memungkinkannya menyisihkan hingga 80 persen penghasilannya untuk tabungan dan investasi. Mangal menabung sekitar 1.000 pound hingga 1.400 dolar AS, atau sekitar Rp 22.100.000 hingga Rp 30.940.000 setiap bulan saat tinggal bersama ayahnya.
Sekarang, ia telah membangun kekayaan bersih sebesar enam digit pound, dan berada di jalur untuk bisa pensiun pada usia 50-an. Mangal menyatakan tantangan ayahnya dalam membeli rumah menjadi sumber inspirasi utama baginya untuk menabung.
“Saya berpikir, saya tidak ingin berada dalam situasi di mana saya tidak mampu membeli sebuah rumah,” katanya.
Meski sekarang telah tinggal bersama kekasihnya setelah ayahnya pindah ke Amerika Serikat, ia menyatakan bahwa ia tetap akan tinggal di rumah orang tua jika masih memungkinkan.
Berdasarkan data tahun 2025, rata-rata harga rumah di seluruh Inggris mencapai sekitar 299.862 pound atau sekitar Rp6,63 miliar, sementara harga rata-rata nasional bisa jauh lebih tinggi di kota-kota besar, tergantung pada ukuran dan lokasi properti tersebut.
Hidup di Rumah Orang Tua Menjadi Trending
Di berbagai negara, semakin banyak pemuda memutuskan untuk tinggal lebih lama di rumah orang tua akibat kenaikan harga sewa dan kondisi pasar kerja yang tidak menentu. Hal ini menyulitkan proses kepemilikan rumah. Sebuah penelitian EY terhadap 10.000 responden berusia 18 hingga 34 tahun di 10 negara menunjukkan bahwa rata-rata 60 persen pemuda masih tinggal bersama orang tua atau pengasuh.
Di Korea, angkanya lebih tinggi, yaitu 78 persen. Kelompok pemuda bahkan memiliki julukan, yaitu “Suku Kangguru.” Di Amerika Serikat, angkanya sebesar 46 persen, dan mereka disebut “boomerang kids” karena seperti boomerang yang selalu kembali.
Alex King, pendiri perusahaan edukasi keuangan Generation Money yang berbasis di London, menyatakan bahwa meski tinggal di rumah orang tua kini semakin dianggap wajar sebagai cara untuk mempercepat tabungan, pilihan ini juga memiliki tantangan.
“Banyak orang memiliki rencana tinggal bersama orang tua selama satu atau dua tahun, menabung, lalu pindah atau mencoba membeli rumah, tetapi ketika mereka mulai mampu menabung, sangat sulit untuk meninggalkan kebiasaan hidup tersebut,” katanya.
Raja mengingatkan agar jangan terlalu nyaman dengan kemudahan hidup di rumah orang tua, karena perpindahan ke pembayaran sewa atau cicilan rumah akan memerlukan penyesuaian.
Selain itu, usahakan untuk berkontribusi dengan cara membeli bahan makanan atau membantu biaya utilitas. Hal ini menciptakan kebiasaan keuangan yang baik dan menjadi fondasi yang kuat ketika tiba saatnya pindah.
Di Indonesia, tinggal di rumah orang tua sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum, bahkan setelah seseorang bekerja. Seseorang biasanya meninggalkan rumah orang tua ketika menikah atau pergi merantau karena tuntutan pekerjaan. Bahkan pasangan yang sudah menikah bisa tetap tinggal di rumah orang tua salah satu pihak, agar dapat menabung untuk membeli rumah sendiri.






















