MCNNEWS.ID
Setiap bulan Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, durasi puasa tidak sama di setiap negara. Letak geografis dan posisi terhadap garis khatulistiwa sangat memengaruhi panjang siang hari. Akibatnya, beberapa negara mengalami waktu puasa yang jauh lebih lama dibandingkan negara-negara tropis seperti Indonesia.
Fenomena ini semakin terasa ketika Ramadhan jatuh pada musim panas di belahan bumi utara. Saat itu, durasi siang hari bisa berlangsung sangat panjang, bahkan mendekati 24 jam di wilayah tertentu. Lalu, negara mana saja yang memiliki waktu puasa terlama di dunia?
Berikut ulasannya.
1. Islandia – Puasa Bisa Mencapai 20 Jam

Islandia menjadi salah satu negara dengan waktu puasa terlama di dunia. Negara yang terletak dekat Lingkar Arktik ini mengalami fenomena “midnight sun” atau matahari tengah malam saat musim panas.
Ketika Ramadhan bertepatan dengan musim panas, umat Muslim di ibu kota Reykjavik dapat berpuasa hingga sekitar 20–21 jam sehari. Matahari hanya terbenam sebentar sebelum kembali terbit.
Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun, sebagian umat Islam di Islandia memilih mengikuti jadwal waktu puasa negara Muslim terdekat atau jadwal Mekkah untuk menjaga kesehatan.
2. Norwegia – Siang Sangat Panjang di Musim Panas

Norwegia juga termasuk negara dengan durasi puasa terpanjang. Di wilayah utara seperti Tromsø, matahari bahkan tidak terbenam selama beberapa minggu saat musim panas.
Jika Ramadhan jatuh pada periode tersebut, waktu puasa bisa mencapai 19–20 jam per hari. Pemerintah setempat biasanya memberikan fleksibilitas kepada umat Muslim untuk mengikuti fatwa yang memudahkan, termasuk mengikuti waktu negara lain yang lebih moderat.
Baca juga : Pemprov Jabar luncurkan program mudik gratis
Dengan populasi Muslim yang terus berkembang, Norwegia menjadi contoh bagaimana komunitas minoritas tetap menjalankan ibadah meski menghadapi kondisi alam yang ekstrem.
3. Finlandia – Puasa Hampir 20 Jam

Finlandia, khususnya di wilayah utara seperti Lapland, juga mengalami siang yang sangat panjang saat musim panas. Durasi puasa di Helsinki bisa mencapai 18–19 jam, sementara di wilayah utara bisa lebih lama lagi.
Fenomena ini terjadi karena posisi Finlandia yang sangat dekat dengan Lingkar Arktik. Semakin ke utara, semakin lama waktu siang hari. Oleh karena itu, umat Muslim di Finlandia sering berdiskusi dengan ulama setempat mengenai metode penentuan waktu puasa yang paling memungkinkan.
4. Swedia – Tantangan Puasa di Eropa Utara

Swedia juga mengalami durasi puasa yang panjang ketika Ramadhan berlangsung di musim panas. Di Stockholm, waktu puasa dapat mencapai sekitar 18–19 jam. Sementara itu, di wilayah utara seperti Kiruna, durasinya bisa lebih lama.
Meskipun demikian, komunitas Muslim di Swedia tetap menjalankan ibadah dengan penuh semangat. Masjid-masjid di kota besar bahkan mengadakan buka puasa bersama untuk mempererat solidaritas dan menjaga semangat kebersamaan.
5. Denmark – Hampir 19 Jam

Denmark juga termasuk dalam daftar negara dengan waktu puasa terlama. Di Kopenhagen, durasi puasa saat musim panas bisa mencapai 18–19 jam.
Karena letaknya di Eropa Utara, Denmark mengalami perubahan durasi siang yang cukup ekstrem antara musim dingin dan musim panas. Oleh sebab itu, lama puasa di negara ini sangat bergantung pada siklus tahunan kalender Hijriah yang terus bergeser sekitar 10–11 hari lebih awal setiap tahunnya.
Mengapa Waktu Puasa Bisa Sangat Lama?
Secara ilmiah, panjang pendeknya waktu puasa bergantung pada rotasi bumi dan kemiringan sumbu bumi terhadap matahari. Negara-negara yang berada jauh dari garis khatulistiwa mengalami variasi panjang siang dan malam yang ekstrem.
Ketika musim panas tiba di belahan bumi utara, wilayah dekat kutub mengalami siang yang sangat panjang. Bahkan, di beberapa tempat, matahari tidak terbenam sama sekali selama periode tertentu.
Sebaliknya, saat musim dingin, siang hari menjadi sangat pendek. Itulah sebabnya, jika Ramadhan jatuh pada musim dingin di Eropa Utara, durasi puasa bisa jauh lebih singkat, bahkan hanya sekitar 6–8 jam.
Perbandingan dengan Indonesia
Sebagai negara tropis yang berada di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki durasi siang dan malam yang relatif stabil sepanjang tahun. Waktu puasa di Indonesia rata-rata berlangsung sekitar 13–14 jam.
Perbedaan ini menunjukkan betapa luasnya variasi pengalaman berpuasa di berbagai belahan dunia. Meski durasinya berbeda, semangat dan esensi ibadah tetap sama.
Bagaimana Umat Muslim Mengatasinya?
Menghadapi waktu puasa yang sangat panjang tentu membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Oleh karena itu, umat Muslim di negara-negara dengan puasa terlama biasanya:
- Mengatur pola makan sahur dengan nutrisi seimbang.
- Memperbanyak konsumsi air saat berbuka.
- Mengurangi aktivitas fisik berat.
- Mengikuti fatwa ulama terkait fleksibilitas waktu puasa.
Selain itu, solidaritas komunitas juga menjadi kunci. Buka puasa bersama dan kegiatan Ramadhan di masjid membantu menjaga semangat kebersamaan.
Fenomena yang Terus Berubah
Perlu diketahui, durasi puasa terlama tidak selalu terjadi di negara yang sama setiap tahun. Kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan membuat Ramadhan terus bergeser mengikuti musim.
Artinya, sekitar 15–20 tahun mendatang, negara-negara di belahan bumi selatan justru bisa mengalami waktu puasa yang lebih panjang ketika Ramadhan jatuh pada musim panas mereka.
Dengan demikian, fenomena negara dengan waktu puasa terlama akan terus berubah mengikuti siklus alam.
Kesimpulan
Negara-negara seperti Islandia, Norwegia, Finlandia, Swedia, dan Denmark menjadi contoh wilayah dengan waktu puasa terlama di dunia, terutama ketika Ramadhan berlangsung di musim panas. Durasi puasa di negara-negara tersebut bahkan bisa menembus 20 jam per hari.
Meskipun menghadapi tantangan alam yang ekstrem, umat Muslim di berbagai belahan dunia tetap menjalankan ibadah dengan penuh keteguhan. Perbedaan durasi puasa justru memperlihatkan betapa Islam hadir dalam keberagaman kondisi geografis dan budaya.
Pada akhirnya, panjang atau pendeknya waktu puasa bukanlah ukuran utama. Yang terpenting adalah ketulusan niat, kekuatan iman, serta semangat berbagi dan menahan diri selama bulan suci Ramadhan.
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook
Penulis
Shanny Ratman adalah seorang wirausahawan dan pengelola media yang telah menekuni dunia usaha sejak 1997. Berstatus menikah, ia memulai karier sebagai Captain Restaurant di Inasuki Japanese Restaurant, Bandung. Tahun 1999, ia merintis usaha kuliner dengan berjualan makanan Eropa di kawasan Cibadak, Bandung, lalu pada 2001 membuka warung makan di Ciamis.
Pengalamannya berkembang ke bidang event organizer sebagai crew EO di Bandung sejak 2015. Pada 2018, ia mengikuti pelatihan entrepreneur bersama EntrepreneurID secara online dan menjalankan bisnis online hingga 2020. Tahun 2022, ia kembali ke Ciamis untuk mengembangkan bisnis kuliner, dan sejak 2023 aktif berkolaborasi membuka usaha kuliner yang terus berjalan hingga kini.
Selain itu, sejak 2025 Shanny turut membangun dan mengelola portal berita mcnnews.id sebagai admin. Dengan pengalaman di bidang kuliner, event, bisnis digital, dan media, ia dikenal sebagai pribadi adaptif, konsisten, dan berorientasi pada kolaborasi serta pengembangan usaha berkelanjutan.














