Gorontalo, MCNnews.id, Terletak di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, terdapat sebuah destinasi wisata yang tak hanya menyuguhkan keindahan alam, tapi juga cerita kebersamaan dan kearifan lokal warga setempat.
Namanya Pantai Dulanga di Kabupaten Gorontalo, salah satu kawasan wisata yang jaraknya hanya sekitar 11 kilometer atau sekitar 23 menit perjalanan dari pusat Kota Gorontalo.
Hamparan pasir putih berpadu dengan deburan ombak dan suasana sejuk menjadi daya tarik utama pantai ini.
Tidak heran jika Pantai Dulanga kerap menjadi pilihan untuk berlibur hingga sekadar melepas penat.
Biaya masuknya pun ramah di kantong hanya Rp5 ribu per orang, dengan tarif parkir motor Rp5 ribu dan mobil Rp10 ribu.
Bagi pengunjung yang ingin berkemah, tersedia area camping dengan tarif Rp25 ribu.
Selain menawarkan panorama alam yang memanjakan mata, fasilitas di Pantai Dulanga juga cukup lengkap.
Tersedia gazebo yang bisa disewa seharga Rp75 ribu per hari, dengan kapasitas 4 hingga 6 orang.
Area ini juga dilengkapi ayunan dan beberapa wahana sederhana yang cocok untuk bersantai.
Tersedia juga toilet umum, lapak usaha milik warga hingga musala yang dapat digunakan pengunjung untuk beribadah.

Sebab, Pantai Dulanga juga dikenal sebagai kawasan wisata religi.
Karena itu, pihak pengelola menerapkan aturan ketat demi menjaga kesakralan tempat ini.
“Karena dikenal dengan wisata religi pihak pengelola melarang keras minuman keras masuk ke dalam kawasan wisata tersebut Apapun alasannya,” ungkap Yamin Nusi, Pengelola Pantai Dulanga, Minggu (6/7/2025)..
Yang membuat Pantai Dulanga istimewa bukan hanya keindahannya, tapi semangat swadaya masyarakat dalam mengelola kawasan ini.
Sejak pertama kali diinisiasi pada tahun 2014, warga setempat bersama para pemuda Desa Bongo bahu-membahu membangun kawasan ini.
Dukungan dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) pada 2018 juga semakin memperkuat eksistensi Pantai Dulanga.
Hingga pada akhirnya diresmikan oleh Bupati Gorontalo saat itu, Nelson Pomalingo.
“Jadi masyarakat dan rema muda di komplek sini merembuk, untuk mengembangkan wisata ini, secara belahan,” ujarnya.
Meskipun pemerintah daerah dan Dinas Pariwisata sudah mulai memberikan intervensi dan dukungan, konsep utama Pantai Dulanga tetap mengedepankan partisipasi masyarakat sebagai investor utama.
Bahkan, meski ada tawaran investasi besar dari pihak luar, seperti hotel ternama di Gorontalo, pengelola tetap teguh menolak demi menjaga prinsip pengelolaan berbasis swadaya masyarakat.
Caranya pun unik dan sederhana, warga yang memiliki kelebihan dana diajak berinvestasi dengan membangun gazebo.
“Konsep ini sengaja kita terapkan dengan cara kita undang masyarakat merembuk, dan bagi masyarakat yang memiliki kelebihan dapat berinvestasi. Caranya yakni memberikan modal untuk pembangunan gazebo,” jelas Yamin.
Setiap kepala keluarga yang ingin berinvestasi cukup menyediakan modal sebesar Rp2,5 juta untuk pembangunan satu unit gazebo di Pantai Dulanga.
Saat ini, sudah ada 17 kepala keluarga yang ikut berinvestasi, dan keuntungan dari sewa gazebo tersebut dibagi rata sesuai kesepakatan awal.
Keuntungan yang dihasilkan dari pengelolaan kawasan wisata ini juga diatur secara teknis melalui peraturan desa.
Pembagian hasil tidak hanya dinikmati oleh investor, tetapi juga disalurkan untuk pemerintah desa dan dana sosial masyarakat.
“Pembagiannya untuk masyarakat sebagai investor, berbagi ke pemerintah Desa untuk pengelola, dan untuk dana sosial yang disisihkan sebesar 10 persen,” tambah Yamin.
Pantai Dulanga bukan sekadar destinasi wisata biasa.
Di balik keindahan pasir putih dan laut birunya, tersimpan semangat gotong royong, kemandirian, dan kepedulian sosial masyarakat Gorontalo.
Pantai ini menjadi bukti bahwa wisata bukan hanya soal hiburan, tapi juga pemberdayaan dan kebersamaan. (*)





















