PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mendapatkan peringkat risiko sedang terkait kinerja Environmental, Social, and Governance (ESG) dari lembaga internasional Morningstar Sustainalytics. Direktur Utama ENRG, Syailendra S Bakrie menyatakan bahwa pencapaian ini sebagai bentuk pengakuan terhadap komitmen perusahaan dalam meningkatkan standar keberlanjutan di industri energi.
Syailendra menyatakan bahwa hasil penilaian tersebut menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi tingkat risiko yang sedang terkait potensi dampak lingkungan, sosial, maupun tata kelola terhadap keberlanjutan operasionalnya. Di waktu yang sama, ENRG meraih peringkat A+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia atau PEFINDO berdasarkan kinerja keuangan perusahaan pada semester pertama.
“Perseroan saat ini berada di peringkat ke 12 dari 276 perusahaan minyak dan gas global yang menunjukkan kemajuan EMP dalam memadukan aspek keberlanjutan ke dalam operasional,” kata Syailendra sebagaimana dilaporkan Selasa (16/9).
EMP menekankan bahwa perusahaan tetap berkomitmen pada pengelolaan bisnis yang berkelanjutan, termasuk melalui peningkatan efisiensi energi, penerapan tata kelola yang jujur, serta partisipasi sosial terhadap masyarakat di area operasionalnya.
Pada perdagangan Senin (15/9), harga saham ENRG terus menguat dengan kenaikan sebesar 5,74% atau 35 poin menjadi Rp 645. Kenaikan ini terjadi setelah dirilisnya laporan keuangan Energi Mega yang menunjukkan peningkatan laba bersih selama semester pertama tahun 2025.
Mengacu pada data perdagangan Bursa Efek Indonesia, hsecarayear to dateatau dihitung sejak awal tahun, saham ENRG telah naik 166%. Peningkatan harga yang besar terjadi dalam tiga bulan terakhir, di mana saham ENRG meningkat sebesar 182,41%.
Energi Mega Persada adalah perusahaan yang termasuk dalam Grup Bakrie, bergerak di sektor hulu minyak dan gas bumi, serta beroperasi di Indonesia dan Mozambik. Keluarga Bakrie mengendalikan ENRG melalui PT Shima Global Kapital dengan kepemilikan saham sebesar 15,9%. Pemegang saham terbesar lainnya adalah PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) dengan kepemilikan saham sebesar 22,5%.
Berdasarkan pantauan MCNNEWS.ID,Sejak akhir Mei, perusahaan aktif melakukan berbagai tindakan korporasi seperti menambah 25% kepemilikan saham di Kontrak Kerja Sama Kangean dari Japan Petroleum Exploration Co., Ltd. (JAPEX). Tindakan lainnya adalah membentuk kemitraan strategis dengan JAPEX guna mempercepat pengembangan Blok Gas Gebang di Sumatera Utara.
Perseroan juga melakukan tindakan korporasi untuk meningkatkan modal usaha melalui Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHETD) atauprivate placementDengan tindakan tersebut, perusahaan menerbitkan sebanyak mungkin 1,17 miliar saham baru Kelas B dengan nilai nominal Rp 100 per saham dan harga pelaksanaan Rp 288 per saham.
Peningkatan harga saham juga terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak global yang naik 1,42% menjadi US$ 69 per barel dalam perdagangan Selasa (2/9), setelah Amerika Serikat menerapkan sanksi baru yang mengarah pada aliran pendapatan minyak Iran.
Kinerja Keuangan dan Proyeksi Harga Saham ENRG
Sentimen peningkatan harga saham ENRG juga dihasilkan dari laporan keuangan semester pertama 2025 perusahaan yang mencatatkan laba bersih sebesar US$ 35,72 juta atau sekitar Rp 579,85 miliar. Angka ini meningkat sebesar 6,53% dibandingkan laba bersih perusahaan pada semester yang sama tahun sebelumnya yaitu US$ 33,53 juta.
Selain itu, penjualan bersih perusahaan juga meningkat menjadi US$ 239,11 juta dibandingkan dengan US$ 201,89 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Biaya pemasaran juga mengalami kenaikan seiring dengan pertumbuhan pendapatan. Biaya pemasaran naik menjadi US$ 154,60 juta dari US$ 137,26 juta secara yoy.
Analis Riset Retail CGS Sekuritas, Andrian Alamsyah Saputra menyatakan saham ENRG diperkirakan akan terus mengalami kenaikan dengan tingkatresistancedalam kisaran Rp 625-640. Sementara tingkatsupportberada di kisaran Rp 595-580 dengan target harga terdekat di Rp 625-640.
Supportmerupakan wilayah harga saham tertentu yang dianggap sebagai titik terendah pada suatu masa. Ketika menyentuhsupport, harga biasanya akan kembali meningkat karena daya beli saham meningkat.
Sedangkan resistancemerupakan tingkat harga saham tertentu yang dianggap sebagai titik puncak. Ketika saham mencapai level ini, biasanya terjadi penjualan yang signifikan hingga laju kenaikan harga terhambat.
“Saya juga melihat indikator stochastic yang menunjukkan adanya momentum golden cross, sehingga berharap harga ENRG masih memiliki peluang untuk terus meningkat,” katanya.
















































