MCNNEWS.ID Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan keprihatinannya terhadap nasib ribuan guru madrasah yang hingga kini masih menerima gaji sangat minim, bahkan ada yang tidak menerima gaji sama sekali. Dalam kunjungan kerjanya ke salah satu madrasah di daerah, ia menyoroti fakta menyedihkan bahwa ada guru yang hanya dibayar Rp 100 ribu per bulan.
“Ini sangat tidak manusiawi. Kita tidak bisa biarkan guru yang mencerdaskan anak-anak bangsa, terutama dalam bidang agama, hidup dalam kondisi seperti ini,” ujar Nasaruddin Umar.
1. Pentingnya Peran Guru Madrasah dalam Pendidikan
Guru madrasah memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan nilai-nilai keagamaan bagi generasi muda. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan akhlak dan nilai-nilai Islam yang moderat. Namun, dedikasi mereka belum diimbangi dengan kesejahteraan yang layak.
Melalui pernyataan resminya, Menag menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk memperbaiki nasib para guru madrasah, khususnya yang berstatus non-ASN atau honorer.
2. Rencana Pemerintah untuk Perbaikan Kesejahteraan
Sebagai langkah konkret, Kementerian Agama tengah mengupayakan alokasi anggaran tambahan dan program afirmatif untuk meningkatkan kesejahteraan guru madrasah. Menag juga menyebutkan pentingnya kerja sama dengan pemerintah daerah agar pembiayaan pendidikan, termasuk insentif untuk guru, bisa lebih merata dan berkeadilan.
“Kita sedang dorong agar para guru ini mendapatkan tunjangan yang layak. Tidak hanya dari pusat, tapi juga dari APBD di daerah masing-masing,” lanjut Nasaruddin Umar.
3. Perlu Kolaborasi dan Kepedulian Semua Pihak
Selain itu, Menag juga mengajak semua pihak, baik lembaga pendidikan swasta maupun organisasi masyarakat, untuk bersama-sama memberikan perhatian terhadap nasib para guru madrasah. Pemerintah, DPR, dan sektor swasta harus berkolaborasi agar masalah ini tidak terus berlarut.
Menurut data Kementerian Agama, ribuan guru madrasah non-ASN di Indonesia masih mengandalkan honor bulanan yang sangat kecil. Bahkan, banyak di antara mereka yang hanya menerima imbalan sukarela dari siswa atau komite sekolah.























