mcnnews.id – Harga jengkol di pasaran kini menyentuh angka yang mengejutkan. Dalam beberapa hari terakhir, harga jengkol melonjak hingga Rp 120 ribu per kilogram, bahkan nyaris menyamai harga daging sapi. Kondisi ini membuat banyak konsumen terkejut dan pedagang pasar kewalahan dalam menjual komoditas lokal tersebut.
Selain itu, pedagang di beberapa pasar tradisional menyebutkan bahwa lonjakan harga jengkol dipicu oleh kelangkaan pasokan yang terjadi secara tiba-tiba. Sebelumnya, harga jengkol hanya berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram, namun kini hampir dua kali lipat.

“Sudah seminggu ini harga jengkol naik terus. Sekarang susah dapat barangnya, apalagi dari petani langsung,” ujar Rohman, pedagang di Pasar Ciamis.
1. Penyebab Jengkol Langka dan Mahal
Seiring meningkatnya harga, banyak pihak bertanya-tanya mengenai penyebab utama kelangkaan jengkol. Berdasarkan informasi dari pedagang dan distributor, ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi ini.
Pertama, musim panen yang belum tiba menyebabkan pasokan dari daerah sentra produksi menurun drastis. Kedua, cuaca ekstrem yang melanda beberapa wilayah membuat pohon jengkol sulit berbuah. Ketiga, tingginya permintaan lokal dan luar daerah juga turut memperparah kondisi kelangkaan ini.
Dengan demikian, ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan stok jengkol di pasaran menjadi pemicu utama naiknya harga secara signifikan.
2. Dampak Kenaikan Harga Terhadap Konsumen
Tak bisa dimungkiri, harga jengkol yang tinggi mempengaruhi kebiasaan konsumsi masyarakat. Banyak pembeli memilih mengurangi jumlah pembelian atau bahkan beralih ke bahan makanan lain yang lebih terjangkau.
Sebagai perbandingan, harga daging sapi saat ini berkisar antara Rp 130 ribu hingga Rp 140 ribu per kilogram, hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan harga jengkol. Hal ini membuat sebagian masyarakat menyebut jengkol sebagai “emas hitam” di pasar tradisional.
“Biasanya saya beli sekilo untuk dimasak gulai. Sekarang hanya mampu beli seperempat kilo, itu pun mikir dua kali,” keluh Ani, ibu rumah tangga asal Banjar.
3. Tanggapan Pemerintah dan Upaya Penanganan

Sementara itu, pemerintah daerah melalui Dinas Ketahanan Pangan mengaku tengah memantau perkembangan harga jengkol. Meskipun belum ada kebijakan khusus, pihak berwenang berjanji akan melakukan koordinasi dengan distributor dan petani untuk menstabilkan harga.
Sebagai langkah awal, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau membeli dalam jumlah besar. Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mengonsumsi alternatif pangan lokal seperti tempe, tahu, dan kacang-kacangan lainnya yang kaya nutrisi dan lebih terjangkau.
4. Prediksi Tren Harga ke Depan
Jika melihat tren tahunan, harga jengkol biasanya akan menurun kembali saat musim panen tiba. Oleh sebab itu, para pedagang dan konsumen diharapkan bersabar dan tidak melakukan penimbunan yang justru memperparah situasi.
Selain itu, diperlukan upaya serius dari pemerintah dan pelaku distribusi pangan untuk menciptakan sistem pasokan yang stabil, khususnya bagi komoditas musiman seperti jengkol.
5. Penutup
Kenaikan harga jengkol hingga menyentuh Rp 120 ribu per kilogram menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan komoditas pangan. Meski tergolong bahan makanan sederhana, jengkol ternyata bisa menyaingi harga daging sapi di saat tertentu. Oleh karena itu, perlu sinergi antara pemerintah, petani, pedagang, dan konsumen agar komoditas lokal seperti jengkol tetap terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.























