Tahun 2025 menjadi masa yang penuh ketidakstabilan dalam dunia kerja di sebagian besar wilayah global. Banyak perusahaan besar dari berbagai bidang, mulai dari teknologi, logistik, hingga industri manufaktur, mengambil tindakan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran.
Peristiwa ini dipengaruhi oleh tekanan ekonomi global, perubahan arah strategi perusahaan, dan pemasukan besar-besaran dalam bidang kecerdasan buatan (AI). Berikut daftar perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja terbaru tahun 2025 beserta alasan di baliknya.
1. Gelombang pemutusan hubungan kerja besar pada tahun 2025
Melansir laporan Reuters, faktor utama yang menyebabkan pemutusan hubungan kerja besar-besaran tahun ini antara lain perlambatan ekonomi global, penurunan permintaan pasar, serta meningkatnya investasi dalam AI yang mengubah pola kebutuhan tenaga kerja.
Perusahaan kini menghadapi tantangan baru, yaitu mempertahankan tenaga kerja yang besar dengan biaya mahal atau beralih anggaran ke sistem otomatis dan infrastruktur teknologi. Banyak CEO akhirnya memutuskan untuk memilih opsi yang kedua.
Berikut merupakan daftar 15 perusahaan besar yang melakukan pemutusan hubungan kerja sepanjang tahun 2025.
1. Amazon
Raksasa e-commerceIni mengurangi sekitar 14.000 posisi karyawan perusahaan (sekitar 4% dari tenaga kerja global). CEO Andy Jassy menyatakan bahwa beberapa peran akan digantikan oleh sistem berbasis AI generatif. Hal ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam upaya efisiensi biaya.
2. UPS (United Parcel Service)
Perusahaan pengiriman UPS mengalami pengurangan tenaga kerja terbesar dengan 48.000 karyawan terkena dampaknya hanya dalam sembilan bulan pertama tahun 2025. Perusahaan juga menghentikan operasional 93 gedung guna mengurangi biaya operasional setelah harga sahamnya turun sebesar 20%.
3. Nestlé
Perusahaan asal Swiss ini akan mengurangi 16.000 posisi di seluruh dunia dalam dua tahun mendatang. Pemutusan hubungan kerja ini disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku, seperti kopi dan kakao, serta beban tarif impor dari Amerika Serikat.
4. Microsoft
Setelah dua tahun relatif tenang, penyediaoperating system(OS), Microsoft kembali menggelar dua gelombang pemutusan hubungan kerja yang menyebabkan 15.000 karyawan terkena dampaknya, termasuk di dalamnya divisi Xbox dan manajemen.
5. Target
Perusahaan ritel besar asal Amerika Serikat ini mengurangi 1.800 posisi karyawan perusahaan (sekitar 8% dari jumlah staf global). Menurut Chief Operating Officer Michael Fiddelke, restrukturisasi diperlukan agar proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan kinerja penjualan dapat pulih.
6. Intel
Perusahaan chip ini mengurangi jumlah karyawan intinya sebesar 15%, dari 99.500 menjadi 75.000 orang. Pengurangan ini terjadi akibat menurunnya permintaan global serta ketinggalan dari kompetitor seperti Nvidia dan AMD.
7. BP
Perusahaan energi besar asal Inggris mengurangi 7.700 karyawan (pekerja dan kontraktor). Proses restrukturisasi dilakukan guna memperkuat kompetitif dan efisiensi perusahaan di tengah perubahan harga minyak global.
8. Chevron
Sebagai bagian dari pengintegrasian akuisisi Hess, Chevron berencana mengurangi 15–20% tenaga kerja secara global hingga tahun 2026. Perusahaan menargetkan peningkatan efisiensi sebesar US$3 miliar.
9. Lufthansa Group
Perusahaan penerbangan Eropa, Lufthansa Group, mengumumkan rencana untuk memangkas 4.000 posisi administratif di Jerman, dengan alasan perubahan digital dan otomatisasi dalam proses kerja.
10. Novo Nordisk
Perusahaan farmasi asal Denmark ini mengakhiri kontrak kerja sebanyak 9.000 karyawan (11% dari jumlah tenaga kerja secara global). Proses restrukturisasi dilakukan guna meningkatkan efisiensi dalam produksi obat diabetes dan obesitas seperti Ozempic serta Wegovy.
11. Estée Lauder
Perusahaan kosmetik global ini mengurangi antara 5.800 hingga 7.000 posisi dalam dua tahun sebagai bagian dari inisiatif pemulihan keuntungan. Fokus utamanya adalah pada penyesuaian ukuran dan pengeluaran layanan tertentu.
12. Burberry
Perusahaan mode asal Inggris ini menghilangkan 1.700 posisi di seluruh dunia, yaitu sekitar 18% dari jumlah karyawan. Restrukturisasi ini diharapkan mampu menghemat hingga £100 juta pada tahun 2027.
13. Perusahaan Procter & Gamble (P&G)
P&G berencana mengurangi 7.000 posisi di seluruh dunia (6% dari jumlah karyawan) guna meningkatkan efisiensi perusahaan dalam dua tahun mendatang.
14. Blue Origin
Perusahaan luar angkasa milik Jeff Bezos mengurangi jumlah karyawan sebesar 10% agar dapat lebih fokus mengalokasikan sumber daya pada produksi roket dan inovasi teknologi peluncuran.
15. Automattic (WordPress, Tumblr)
Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat ini melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 16% dari seluruh karyawan global. CEO Matt Mullenweg menyatakan tindakan ini diperlukan agar perusahaan tetap efisien, menguntungkan, dan mampu melakukan investasi untuk masa depan.
2. Daftar perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja dan jumlah karyawan yang terkena dampaknya
Berikut daftar perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja sepanjang tahun 2025.
-
UPS (United Parcel Service): 48.000 karyawan
-
Nestlé: 16.000 karyawan
-
Amazon: 14.000 karyawan
-
Chevron: 15-20% karyawan
-
BP: 7.700 karyawan
-
Novo Nordisk: 9.000 karyawan
-
Procter & Gamble (P&G): 7.000 karyawan
-
Estée Lauder: 7.000 karyawan
-
Intel: 5.000 karyawan
-
Burberry: 1.700 karyawan
-
Target: 1.800 karyawan
-
Microsoft: 15.000 karyawan
-
Lufthansa Group: 4.000 karyawan
-
Blue Origin: 10% dari tenaga kerja (jumlahnya tidak diketahui)
-
Automattic (WordPress, Tumblr): 16% dari tenaga kerja (jumlah tidak diketahui)
-
Bridgewater Associates: 90 karyawan
-
Coty: 700 karyawan
-
CrowdStrike: 500 karyawan
-
Bumble: 240 karyawan
-
Blok (Square, Afterpay, Cash App, Tidal): 1.000 karyawan
-
BlackRock: 200 karyawan
-
Best Buy: tidak disebutkan
-
Fiverr: 250 karyawan
-
Geico: 30.000 karyawan
-
Grubhub: 500 karyawan
-
Hewlett Packard Enterprise (HPE): 2.500 karyawan
-
Adidas: 500 karyawan
-
Ally Financial: 500 karyawan
-
Boeing: 400 karyawan
-
ConocoPhillips: 2.600–3.250 karyawan
-
Disney: beberapa ratus karyawan
-
Meta Platforms (Facebook): ratusan karyawan
-
Pemerintah Federal (AS): ribuan karyawan
3. Peristiwa pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran dan akibatnya
Gelombang pemutusan hubungan kerja pada tahun 2025 menunjukkan perubahan signifikan dalam dunia kerja saat ini. Teknologi AI telah mendorong perusahaan untuk terus mengalihkan anggaran tenaga kerja ke pengembangan teknologi. Banyakperusahaanmelakukan investasi besar pada sistem otomatis, meskipun harus mengurangi ribuan karyawan selama prosesnya.
Peristiwa ini menghasilkan tren “low-hiring, low-firingdi mana perusahaan menghentikan perekrutan baru sambil berusaha menghindari pemutusan hubungan kerja tambahan, sehingga menyebabkan kestabilan di pasar tenaga kerja. Dari sudut pandang ekonomi global, situasi ini dapat melemahkan keyakinan konsumen dan memperlambat laju pertumbuhan.
Namun, di sisi lain, muncul kesempatan yang baru di bidangbig data, fintech, dan kecerdasan buatan (AI), bidang yang diperkirakan oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF) akan berkembang pesat hingga tahun 2030. Bagi kamu yang sedang memulai karier, penyesuaian terhadap keterampilan teknologi menjadi kunci untuk bertahan di era perubahan ini.
Berikut adalah pembahasan mengenai daftar perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja terbaru tahun 2025.
Pertanyaan Umum mengenai Daftar Perusahaan yang Lakukan Pemutusan Hubungan Kerja Tahun 2025
-
Mengapa banyak perusahaan besar melakukan pemutusan hubungan kerja pada tahun 2025?Karena gabungan dari perlambatan pertumbuhan ekonomi, kenaikan biaya operasional, serta kebutuhan investasi besar dalam bidang AI dan digitalisasi.
-
Apakah pemutusan hubungan kerja ini hanya terjadi di bidang teknologi?Tidak. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga terjadi di bidang logistik, energi, manufaktur, hingga mode dan farmasi.
-
Apakah kecenderungan pemutusan hubungan kerja ini akan terus berlangsung pada tahun 2026?Mungkin benar. Banyak perusahaan masih berada di tahap restrukturisasi dan efisiensi setelah investasi dalam AI, sehingga kemungkinan pengurangan tenaga kerja tetap ada.
























