
Beberapa tahun terakhir, perkembangan “kehidupan” yang ditampilkan di media sosial dapat dikatakan mengalami perubahan arah.
Perubahan yang dahulu berisi pekerjaan lembur,hangout hingga larut, sampai konsumsi junkfoodmulai berubah dengan tangkapan layar sesi olahraga yang beragam. Mulai dari perkembangan latihan lari, sesi padel di akhir pekan, video pilates yang menarik, hingga unggahan“first Hyrox Race”. Olahraga kini tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga materi konten.
Dua jenis konten tersebut memang terasa berbeda secara jelas. Masyarakat semakin menyadari betapa pentingnya kegiatan fisik sebagai bagian dari gaya hidup. Namun, di balik tren ini, muncul sebuah fenomena yang jarang dibicarakan secara mendalam: rasa takut ketinggalan dalam olahraga. Bukan karena tidak ingin sehat, tetapi karena takut ketinggalan dari apa yang terlihat biasa di media sosial.
Sebagai pengguna media sosial, kita tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga menghadapi standar. Dan standar tersebut secara perlahan menciptakan tekanan.
Sosial Media dan Ilusi “Semua Orang Sibuk”
Data global dari Laporan Tren Olahraga Strava Tahun 2025menunjukkan bahwa komunitas Strava kini memiliki lebih dari 180 juta pengguna, dengan miliaran kegiatan olahraga yang tercatat dalam satu tahun. Bahkan 75% Gen Z mengatakanevent atau racesebagai dorongan utama mereka dalam berolahraga.
Di media sosial, angka ini sering dianggap sebagai berita positif dan diwujudkan dalam visual yang sama: semua orang terlihat aktif, konsisten, dan berkembang. Yang jarang muncul adalah proses jatuh dan bangkit, jeda, atau masa berhenti akibat cedera tubuh. Pada titik ini, media sosial bekerja dengan prinsip pamer, bukan realitas. Akibatnya, olahraga berubah menjadi sebuah tampilan sosial. Muncul tekanan untuk ikut berolahraga tertentu, mengikuti tren yang sedang populer, atau membeli peralatan mahal agar “tidak ketinggalan”.
Tekanan Sosial yang Tidak Terlihat
Masalah utama yang muncul dari FOMO olahraga tidak terletak pada olahraganya sendiri, melainkan pada makna yang diciptakan melalui komunikasi digital. Kita mulai membandingkan diri dengan orang lain: jarak lari, bentuk tubuh, frekuensi berlatih, bahkan jenis olahraga yang diikuti. Laporan Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) 2024 menunjukkan bahwa meskipun partisipasi dalam olahraga meningkat, Indeks Pembangunan Olahraga Indonesia masih berada pada angka 0,334 dari skala 1. Artinya, ekosistem olahraga termasuk literasi fisik belum sepenuhnya siap menghadapi perkembangan tren yang cepat.
Ketakutan Kehilangan (FOMO) dalam Olahraga adalah Masalah Komunikasi
Dari sudut pandang komunikasi, FOMO muncul dari narasi bersama. Jika olahraga terus disampaikan hanya sebagai prestasi dan keindahan, maka FOMO akan tetap dihasilkan, bahkan oleh mereka yang berusaha baik dalam mempromosikan gaya hidup sehat. Tekanan sosial terbentuk melalui pesan yang sering diulang, gambar yang sama, serta pengertian “aktif” yang sempit. Jika olahraga terus digambarkan hanya sebagai pencapaian, siapa yang lebih cepat, lebih kuat, atau olahraganya lebih ekstrem, maka tekanan sosial akan tetap muncul.
Mengganti Gaya Komunikasi Kita Mengenai Olahraga
Jika FOMO menjadi hambatan dalam komunikasi olahraga, kita dapat memulai dengan mengubah narasi yang dibangun dari fokus pada hasil menjadi perhatian terhadap proses. Media,brand, dan komunitas perlu lebih sering menunjukkan tahapan latihan, istirahat, pemulihan, bahkan kegagalan. Istirahat bukan berarti gagal. Menyampaikan jeda sebagai bagian dari proses olahraga justru dapat membantu mengurangi tekanan serta risiko cedera. Laporan IPO 2024 juga menunjukkan bahwa olahraga partisipatif seperti jalan kaki dan lari ringan menjadi kontributor utama aktivitas olahraga masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pesan ini penting untuk dipahami oleh masyarakat agar menyadari bahwa olahraga tidak harus selalu intens, mahal, dan bersifat kompetitif.
Meskipun tren olahraga di media sosial merupakan kesempatan, namun hal ini juga membawa tantangan jika tidak dilakukan secara seimbang. Olahraga seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup yang menenangkan, bukan sumber kecemasan. Media sosial dapat menjadi pemicu semangat, tetapi juga bisa menjadi tekanan sosial yang tidak disadari. Pada dasarnya, olahraga yang sehat adalah yang dapat dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang, bukan yang hanya terlihat menarik dalam waktu singkat.





















