● Perawat mengelola 80% layanan kesehatan dasar di Indonesia, termasuk untuk ibu dan anak.
● Perawat memiliki risiko tinggi mengalami kelelahan emosional karena dihadapkan pada tugas administratif dan harus merawat ribuan pasien hampir sepanjang hari.
● Pemerintah harus mengembangkan kebijakan yang bertujuan mengurangi beban administratif serta memperkuat dukungan psikologis bagi bidan.
Peran penting dalam meningkatkan kesehatan ibu, anak, dan keluarga Indonesia diemban oleh bidan.
Sebuah studi di Indonesia (2022) menunjukkan bahwa sekitar 80% layanan kesehatan primer ditangani oleh bidan. Hal ini mencakup layanan kesehatan ibu dan anak (KIA) yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pendampingan persalinan, perawatan setelah melahirkan, serta perawatan bayi baru lahir.
Angka ini menunjukkan peran penting bidan sebagai pelaku utama pelayanan kesehatan di tengah masyarakat. Namun, di balik angka tersebut, terdapat usaha dan dedikasi yang sering kali tidak mendapat perhatian dari publik.
Antara komitmen dan tanggung jawab ganda dalam pekerjaan
Di Desa Uzuzozo, Nusa Tenggara Timur, bidan Theresia Dwiaudina Sari Putri (dikenal sebagai Dinny), menunjukkan bahwa tugas seorang bidan bukan hanya pekerjaan, tetapi juga panggilan jiwa.
Setelah bertugas di kampung halamannya, ia menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya fasilitas, kesulitan dalam akses, serta ketidakpercayaan masyarakat terhadap dukun bayi.
Meski menghadapi rintangan, Dinny tidak menyerah. Iamembangun kepercayaan wargaDengan mengajak para dukun tradisional, serta membantu ibu hamil sejak awal kehamilan hingga setelah melahirkan. Ia juga melakukan pendataan gizi anak balita, promosi keluarga berencana (KB), serta memberikan edukasi tentang sanitasi dan kesehatan lingkungan.
Hasilnya, angka stunting di Desa Uzuzozo menurun drastis. Semua proses persalinan kini dilakukan di fasilitas kesehatan.
Dinny adalah gambaran seorang bidan di Indonesia yang menghadapi tantangan yang sangat rumit.
Menurut Kementerian KesehatanSecara ideal, diperlukan 2 bidan untuk melayani 1.000 penduduk. Namun kenyataannya, jumlah bidan di beberapa provinsi masih jauh dari angka yang diharapkan.
Di daerah-daerah yang padat, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,rasionyahanya berkisar antara 1,1 hingga 1,3 bidan untuk setiap 1.000 penduduk.
Sementara di daerah terpencil(contoh: Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya, dan Papua Pegunungan) tingkatnya sangat rendah, yaitu kurang dari 1 bidan per 1.000 penduduk.
Pada situasi ini, jam kerja bidan hampir tidak memiliki batas waktu. Bidan diharuskan selalu siap merespons panggilan darurat, membantu persalinan di luar jam kerja, serta memberikan perawatan terus-menerus kepada pasien.
Selain itu, bidan juga sibuk dengan berbagai tugas administratif, seperti pelaporan harian, pengisian formulir, serta pencatatan indikator program yang harus disampaikan ke puskesmas atau dinas kesehatan.
Masalah kesehatan mental dan mutu pelayanan
Tugas yang terlalu berat berisiko membuat bidan mengalamikelelahan terus-menerus dan tekanan mental (burnout).
Sejumlah penelitian mengungkap peningkatan risiko burnout pada bidan paling banyak dipicu oleh faktor administratif dan manajerial.
Burnout tidak hanya memengaruhi secara fisiknamun juga dapat mempengaruhi kemampuan bidan dalam mengambil keputusan klinis yang tepat, serta menjaga hubungan yang baik dengan rekan kerja.
Penelitian di Indonesia (2024) menunjukkan bahwa kelelahan yang dirasakan oleh bidan juga bisamengurangi kualitas pelayananMisalnya, bidan dapat melewatkan prosedur penting seperti pencatatan perkembangan bayi dan penyuluhan menyusui.
Dalam jangka panjangTekanan semacam ini bahkan dapat menurunkan semangat kerja, meningkatkan tingkat pengunduran diri dari bidan, serta menghambat proses regenerasi tenaga kesehatan di masyarakat.
Sayangnya, banyak bidan tidak memiliki tempat untuk menyampaikan tekanan yang mereka alami akibat kurangnya sistem pelaporan yang aman. Layanan konseling dalam lingkungan kerja juga jarang tersedia.
Butuh kebijakan yang berpihak
Untuk menghadapi tantangan ini, Indonesia harus menyusun kebijakan yang menjaga kesejahteraan bidan. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan adanya dukungan struktural, mulai dari pengadaan tenaga pendukung hingga penyediaan fasilitas kerja yang memadai.
Beberapa beban administratif yang berlebihan perlu dilihat kembali agar bidan dapat lebih fokus dalam memberikan layanan kesehatan kepada ibu dan anak.
Sudah waktunya pemerintah mengambil kebijakan untuk mengurangi beban administrasi yang menumpuk, memperkuat bantuan psikososial, serta memberikan insentif yang sesuai dengan kondisi kerja di lapangan.
Kebijakan insentif harus disesuaikan dengan kondisi dan lokasi tugas. Tujuannya adalah agar bidan yang bekerja di daerah terpencil mendapatkan penghargaan yang lebih pantas.
Kesehatan mental dari perawat juga harus mendapat perhatian. Langkah pertama yang dapat dilakukan, seperti menyediakan konsultasi, membentuk komunitas diskusi antarperawat, serta memberikan pelatihan agar mereka mampu mengelola tekanan dengan efektif.
Sudah saatnya tenaga bidan menerima dukungan yang layak, sehingga mereka tidak terus-menerus memikul beban berat sendirian. Bidan pantas mendapatkan fasilitas yang memadai, dukungan emosional yang nyata, serta penghargaan yang seimbang.
Hal ini sesuai dengan amanat UU No. 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan, yang menekankanperlunya perlindungan dan penghargaan atas profesionalisme bidan.
Karena, di balik usaha mereka yang gigih, tersimpan harapan besar terhadap masa depan kesehatan ibu dan anak di Indonesia.
Artikel ini pertama kali diterbitkan diThe Conversation, situs berita non-profit yang menyebarkan ilmu pengetahuan akademis dan para peneliti.
- Memahami gangguan spektrum autisme: Makna pentingnya menghargai keragaman individu yang ‘neurodivergen’
- Apakah detoks dopamin layak dilakukan?
Anissa Rizkianti tidak bekerja, tidak menjadi konsultan, tidak memiliki saham, maupun menerima dana dari perusahaan atau organisasi apa pun yang akan memperoleh keuntungan dari artikel ini, serta menyatakan bahwa ia tidak memiliki hubungan afiliasi selain yang telah disebut di atas.
Penulis
Shanny Ratman adalah seorang wirausahawan dan pengelola media yang telah menekuni dunia usaha sejak 1997. Berstatus menikah, ia memulai karier sebagai Captain Restaurant di Inasuki Japanese Restaurant, Bandung. Tahun 1999, ia merintis usaha kuliner dengan berjualan makanan Eropa di kawasan Cibadak, Bandung, lalu pada 2001 membuka warung makan di Ciamis.
Pengalamannya berkembang ke bidang event organizer sebagai crew EO di Bandung sejak 2015. Pada 2018, ia mengikuti pelatihan entrepreneur bersama EntrepreneurID secara online dan menjalankan bisnis online hingga 2020. Tahun 2022, ia kembali ke Ciamis untuk mengembangkan bisnis kuliner, dan sejak 2023 aktif berkolaborasi membuka usaha kuliner yang terus berjalan hingga kini.
Selain itu, sejak 2025 Shanny turut membangun dan mengelola portal berita mcnnews.id sebagai admin. Dengan pengalaman di bidang kuliner, event, bisnis digital, dan media, ia dikenal sebagai pribadi adaptif, konsisten, dan berorientasi pada kolaborasi serta pengembangan usaha berkelanjutan.






























