Apa Itu Doom Scrolling dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental
Di tengah era digital yang penuh informasi, banyak orang sering kali membuka ponsel untuk mencari berita. Namun, kebiasaan ini sering kali berubah menjadi kecanduan. Tangan sulit melepaskan layar, terus menggulir berita negatif tentang bencana, krisis, atau konflik dunia. Inilah yang dikenal sebagai doom scrolling, yaitu kebiasaan menggulir berita negatif secara berlebihan hingga memengaruhi psikologis.
Penelitian dari University of Florida menunjukkan bahwa doom scrolling bukan sekadar tren bahasa, melainkan perilaku unik yang berbeda dari sekadar mencari berita. Awalnya, seseorang melakukan ini agar tetap up-to-date, namun lambat laun berubah menjadi obsesi. Mereka terus-menerus mencari kabar buruk meski sudah sadar bahwa hal itu membuat perasaan semakin tertekan.
Yang menarik, penelitian ini juga menemukan bahwa doom scrolling lebih sering terjadi pada usia muda dan cenderung lebih banyak dilakukan oleh laki-laki. Meski begitu, dampaknya tidak mengenal batas usia. Siapa pun bisa terjebak dalam lingkaran ini.
Hubungan antara Kecemasan dan Doom Scrolling
Pertanyaannya adalah apakah doom scrolling menyebabkan kecemasan, ataukah kecemasan yang memicu doom scrolling? Para peneliti menyebutkan bahwa keduanya saling mempengaruhi sehingga menciptakan siklus yang sulit diputus. Artinya, kecemasan dapat memperparah kebiasaan ini, sementara doom scrolling juga memperburuk kondisi mental seseorang.
Studi lain yang dipublikasikan di PMC mengembangkan doom scrolling scale, sebuah instrumen untuk mengukur sejauh mana seseorang terjebak dalam perilaku ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doom scrolling memiliki hubungan erat dengan sifat kepribadian tertentu, seperti neurotisisme (mudah cemas), kebutuhan tinggi akan informasi, dan rasa takut ketinggalan (FOMO). Orang dengan skor doom scrolling tinggi juga melaporkan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk, mulai dari stres hingga gejala depresi.
Lebih jauh lagi, ScienceDirect menambahkan dimensi lain, yakni doom scrolling dapat memicu existential anxiety, yaitu kecemasan mendalam terkait makna hidup, rasa kehilangan kendali, hingga ketakutan akan masa depan. Ini menunjukkan bahwa doom scrolling bukan hanya sekadar kebiasaan buruk, tapi bisa mengguncang aspek fundamental psikologis manusia.
Dampak Jangka Panjang dari Doom Scrolling
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas hidup, memengaruhi kepercayaan terhadap dunia luar, dan bahkan menciptakan rasa putus asa kolektif. Fenomena ini menunjukkan bahwa doom scrolling lebih kompleks dari yang terlihat. Ia bukan hanya tentang konsumsi berita, melainkan cerminan interaksi antara sifat pribadi, kecemasan sosial, dan cara media digital mendistribusikan informasi.
Algoritma media sosial sering kali menonjolkan konten sensasional dan negatif, yang semakin memperpanjang kebiasaan doom scrolling. Dampaknya jelas, yakni tidur terganggu, produktivitas menurun, hingga munculnya perasaan putus asa. Bahkan dalam beberapa kasus, doom scrolling mengikis kemampuan untuk menikmati momen positif, karena pikiran terus dibanjiri kabar buruk.
Cara Mengurangi Kebiasaan Doom Scrolling
Namun, tak sedikit pula orang yang mulai sadar bahwa doom scrolling tidak sehat dan berusaha mengurangi kebiasaan ini. Para ahli menyarankan strategi sederhana seperti membatasi waktu konsumsi berita, mengurangi notifikasi, mencari konten positif sebagai penyeimbang, dan melatih kesadaran diri. Cara-cara kecil ini terbukti efektif untuk memutus siklus negatif doom scrolling dan mengembalikan keseimbangan psikologis.
Pada akhirnya, doom scrolling adalah refleksi dari era digital yang penuh ketidakpastian. Ia menunjukkan betapa mudahnya manusia terjebak dalam arus informasi negatif, dan betapa pentingnya membangun kesadaran untuk memilah berita yang benar-benar bermanfaat. Doom scrolling bisa terlihat remeh, namun dampaknya pada kesehatan mental sangat nyata. Jadi, sebelum jari kembali menggulir tanpa henti, tanyakan pada diri sendiri, apakah informasi ini membuat kita lebih tenang, atau justru lebih cemas? Karena di balik layar ponsel, kesehatan mental kita tetaplah hal yang paling berharga.






















