Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Gaya Hidup

Hari Ibu dan Kisah Rina Zainun: Dari Perlindungan Preman hingga Pemimpin Perempuan Kaltim

6
×

Hari Ibu dan Kisah Rina Zainun: Dari Perlindungan Preman hingga Pemimpin Perempuan Kaltim

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SAMARINDA, MCNNEWS.ID – Rina Zainun, pimpinan Tim Reaksi Cepat (TRC) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalimantan Timur (Kaltim) perlu menatap jauh ketika harus memaknai apa itu hari ibu.

Perempuan berusia 45 tahun melihat foto ketiga anaknya yang terpajang di dinding rumah. 

Example 300x600

Ia memang bukan seorang figur publik. Bukan pejabat. Bukan pula tokoh terkenal. Namun, dia sudah ditempa dengan berbagai keadaan. Mulai dari ditolong preman hingga menjadi garda terdepan penyelamat anak dan perempuan.

“Saya cuma ingin hidup layak dengan anak-anak. Tidak lebih,” ucapnya perlahan.

Kisah Rina Dimulai

Rina lahir dari sebuah keluarga besar di Kutai. Ayahnya berprofesi sebagai kapten kapal, sedangkan ibunya menjual kue.

Rumah kecil mereka pada masa itu selalu ramai dikunjungi oleh para tamu yang bukan termasuk anggota keluarga.

Ibu yang sangat perhatian terhadap sesama. Mulai dari anak yatim, anak yang tidak memiliki keluarga, hingga orang yang mabuk dan tertidur di makam pun dibawa pulang untuk dicuci mandikan.

“Rumah kami mirip dengan tempat istirahat,” katanya sambil mengenang.

Anak keenam dari sepuluh bersaudara masih sangat mengingat, masa kecilnya dibimbing dengan ketat dan rasa empati, yang nantinya akan menjadi bekal hidup saat ia tumbuh menjadi wanita dewasa.

Tangan Preman Datang Tidak Terduga

Perjuangan Rina sebagai seorang ibu yang tangguh dimulai pada tahun 1999, ketika ia memulai masa pernikahannya.

Pada masa itu, ia memilih untuk hidup mandiri bersama suaminya dengan tinggal di sebuah kontrakan kecil. Bahkan, ia sampai berbohong kepada orang tuanya bahwa tempat tersebut adalah fasilitas kantor.

Kehidupan di sana terasa cukup sulit. Pendapatan suaminya tersisa sedikit akibat utang yang masih ada dari masa lalu.

Mereka pernah menghabiskan satu bungkus mi bersama dalam sehari, dan Rina menyembunyikan fakta itu dari orang tuanya.

Makanan yang kenyang hanya bisa ia rasakan setiap hari Jumat. Saat kembali ke rumah ibunya. Ibu tersebut selalu menyisipkan beras atau uang ke tas Rina tanpa diketahui oleh menantunya.

Rina menyimpan semuanya secara mandiri, berusaha mempertahankan harga diri suaminya yang sedang berjuang.

Pada suatu hari, kontrakan tersebut mengalami kebakaran. Kini, giliran para preman yang pernah ia bantu menunjukkan kebaikan mereka. Para preman itu yang menyelamatkan barang-barang tersebut.

Mereka memindahkan lemari, mengambil dokumen penting, menghalangi api hingga petugas tiba.

“Saya menangis, bukan lantaran rumah saya terbakar, melainkan karena orang-orang yang tidak pernah saya duga justru memberi bantuan kepada saya,” katanya.

Setelah itu, ia memulai kembali dari awal. Kembali ke rumah orang tuanya. Menabung secara perlahan hingga mampu membeli rumah yang sederhana.

Jalur kehidupan harus mengarah pada pernikahan yang tidak mungkin dipertahankan. Pada tahun 2016, ia akhirnya bercerai dari suaminya.

Pekerjaan Apa Saja untuk Kebahagiaan Anak

Dengan tiga putri kecil, ia tidak memiliki pilihan selain bertahan.

Rina Zainun menerima segala jenis pekerjaan, mulai dari menjadi asisten rumah tangga, pelayan di dapur, hingga tukang cuci pakaian.

Tangannya sering terasa nyeri, punggungnya sakit, namun ia tidak pernah menunjukkan hal itu kepada anak-anaknya.

Pekerjaan-pekerjaan tersebut ia lakukan secara sembunyi-sembunyi agar orang tuanya tidak mengetahuinya.

“Saya tidak ingin mereka merasa kurang berkecukupan. Yang utama adalah mereka bisa makan,” katanya.

Pada suatu hari, Rina bertemu dengan seorang wanita bernama Yuni dari Yayasan Adi Dharma.

Yuni mengamati usaha Rina dan menawarkan pekerjaan sebagai pendidik PAUD serta TK.

Di dalam kelas kecil tersebut, Rina mengajar anak-anak kecil yang polos dalam hal bernyanyi, menggambar, dan menari.

Melihat kebahagiaan siswa menjadi penyemangat bagi Rina untuk menjadi lebih tangguh.

Namun gaji mengajar tidak memadai, sehingga ia harus mencari pekerjaan tambahan berupa tampil sebagai pemain organ di berbagai desa.

Ia memulai dari awal. Tidak mampu menyanyi, tidak memiliki gaya panggung, serta kurang percaya diri.

Para penyanyi lain sering menganggapnya remeh. Beberapa bahkan membalikkan buku lagu di wajahnya sebagai bentuk ejekan. Namun, ia tetap hadir setiap kali ada panggilan.

Dia tampil di acara kecil, pesta ulang tahun, kegiatan desa, bahkan di panggung sederhana yang roboh akibat hujan.

Perjuangan seorang ibu tidak berakhir di sini. Rina pernah menjadi korban pencurian berkali-kali, hingga mengalami patah kaki dan luka memar di perutnya.

Saat situasi mulai membaik, Rina memulai usaha kecil dari rumah dengan menjual donat, mi hun goreng, nasi bekepor, nasi samin, tumpeng, hingga nasi kotak.

Rizki datang secara perlahan. Pesanan yang tidak terduga tiba dari hotel, kantor, dan sekolah.

Ia menerima segalanya dengan rasa syukur, karena bagi dirinya, segala tindakan yang ia lakukan berujung pada satu hal: ketiga putrinya.

Membuat Rumah yang Penuh dengan Kisah

Rina memiliki metode khusus dalam mendidik anak-anaknya. Ia menciptakan rumah yang penuh dengan ruang-ruang penuh kisah.

Setiap malam, mereka duduk bersama selama paling sedikit 30 menit — meskipun hanya membicarakan tugas kuliah, teman, masalah sekolah, atau sekadar berbincang ringan.

Ia juga mengajarkan pendidikan seks kepada anak-anak sejak dini, menekankan bahwa tubuh mereka bernilai dan tidak semua orang yang dekat dapat diandalkan.

Sekarang ketiga putrinya berkembang menjadi wanita yang kuat. Putri pertama bekerja di sebuah perusahaan. Putri kedua sedang bersiap untuk lulus sebagai sarjana hukum.

Anak ketiga yang sedang menempuh studi psikologi, aktif dalam kegiatan organisasi, dan sering mendampingi ibunya dalam kegiatan sosial. “Mereka mengatakan merasa bangga kepada saya,” katanya dengan lembut.

Apakah dia pernah membayangkan anak-anaknya menjadi orang dewasa?

Mendengar pertanyaan tersebut, Rina diam. Ia berusaha tersenyum, namun suaranya goyah. Selanjutnya, air mata yang mengalir. Bukan hanya satu atau dua tetes, melainkan deras. Sejenak hening.

Mempertahankan Keamanan Anak dan Wanita 

Selain tugasnya sebagai ibu, sejak tahun 2019 Rina diamanahkan untuk memimpin TRC PPA Kaltim.

Ia menangani ratusan kasus kekerasan, mulai dari KDRT, anak yang terlantar, pemerkosaan, anak korban bullying, perempuan yang dianiaya oleh suaminya, hingga keluarga yang hancur tanpa tempat untuk melapor.

Ia langsung turun ke lapangan. Menemani korban dalam pemeriksaan medis, mendampingi pengajuan laporan polisi, menjadi perantara dalam keluarga, berunding dengan RT, Babinsa, bahkan dengan pelaku.

Ia menghabiskan malam-malam tanpa tidur hanya untuk memastikan seorang perempuan atau seorang anak tidak kembali ke tempat yang berisiko.

Bagi dia, pekerjaan bukanlah tentang posisi. Ia secara tegas melarang anggota TRC untuk meminta uang. “Mereka sudah mengalami kesulitan. Jangan diberatkan lagi,” tegasnya.

Namun, meskipun telah membantu banyak korban melalui perannya, Rina tetap merupakan seorang ibu.

Seorang wanita yang bertahan bukan karena ingin menjadi tangguh, melainkan karena tidak memiliki pilihan selain menjadi kuat.

Seorang ibu yang sering menahan air mata di kamarnya agar anak-anak tidak melihatnya. Seorang ibu yang hanya tidur selama tiga jam tetapi selalu bangun paling awal, seorang ibu yang pernah terjatuh berulang kali namun selalu bangkit kembali demi tiga putri kecil yang kini telah menjadi wanita dewasa.

Bagi Rina, kekuatan seorang ibu ialah mampu menjadi tempat berlindung bagi banyak jiwa.

Tidak hanya untuk anak-anaknya, tetapi juga bagi perempuan dan anak-anak lain yang datang dengan luka.

Penulis

Author Profile
Onwer di  | Web

Shanny Ratman adalah seorang wirausahawan dan pengelola media yang telah menekuni dunia usaha sejak 1997. Berstatus menikah, ia memulai karier sebagai Captain Restaurant di Inasuki Japanese Restaurant, Bandung. Tahun 1999, ia merintis usaha kuliner dengan berjualan makanan Eropa di kawasan Cibadak, Bandung, lalu pada 2001 membuka warung makan di Ciamis.

Pengalamannya berkembang ke bidang event organizer sebagai crew EO di Bandung sejak 2015. Pada 2018, ia mengikuti pelatihan entrepreneur bersama EntrepreneurID secara online dan menjalankan bisnis online hingga 2020. Tahun 2022, ia kembali ke Ciamis untuk mengembangkan bisnis kuliner, dan sejak 2023 aktif berkolaborasi membuka usaha kuliner yang terus berjalan hingga kini.

Selain itu, sejak 2025 Shanny turut membangun dan mengelola portal berita mcnnews.id sebagai admin. Dengan pengalaman di bidang kuliner, event, bisnis digital, dan media, ia dikenal sebagai pribadi adaptif, konsisten, dan berorientasi pada kolaborasi serta pengembangan usaha berkelanjutan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250