MCNNEWS.ID– Asma adalah salah satu jenis penyakit pernapasan kronis yang sangat dipengaruhi oleh kondisi udara. Paparan polusi udara tidak hanya memperparah gejala asma, tetapi juga bisa menyebabkan serangan yang berbahaya.
Bahkan, penelitian mengungkapkan bahwa paparan polusi dari masa kehamilan hingga masa kanak-kanak dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami asma di masa depan. Oleh karena itu, pengawasan kualitas udara menjadi sangat penting bagi penderita asma agar bisa menjaga kesehatan mereka.
Melansir Medical News Today,Pencemaran udara dapat memicu peradangan di saluran pernapasan, menyebabkan penyempitan, pembengkakan, dan iritasi yang umum dialami oleh penderita asma. Ketika tingkat polusi meningkat, lapisan saluran napas menjadi lebih rentan, sehingga lebih mudah mengalami serangan.
Hal ini juga diakibatkan oleh zat racun dalam polusi yang mampu menyebabkan stres oksidatif, yakni keadaan di mana tubuh mengandung terlalu banyak radikal bebas dan kurangnya antioksidan untuk menetralisirnya.
Stres oksidatif yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan kerusakan jaringan, peradangan jangka panjang, serta meningkatkan sensitivitas saluran pernapasan. Keadaan ini membuat penderita asma lebih mudah bereaksi terhadap rangsangan kecil, seperti debu atau asap kendaraan, yang akhirnya memperparah gejala mereka.
Ozon, salah satu polutan yang sering ditemukan, merupakan penyebab utama serangan asma. Zat ini mampu mengurangi fungsi paru-paru, menyebabkan kesulitan dalam bernapas, dan membuat penderita kesulitan untuk menghirup udara dengan dalam.
Apakah Pencemaran Udara Dapat Menimbulkan Penyakit Asma?
Selain memperburuk gejala, pencemaran udara juga bisa menjadi salah satu penyebab munculnya asma. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 menunjukkan bahwa paparan polusi udara, baik di dalam maupun di luar ruangan, dapat berkontribusi terhadap perkembangan asma, khususnya pada individu dengan kepekaan genetik tertentu.
Paparan polusi lalu lintas, khususnya selama trimester kedua kehamilan, dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan anak mengalami asma. Selain itu, anak-anak yang terpapar polusi sejak usia dini cenderung lebih rentan mengidap asma hingga masa remaja. Selain polusi kendaraan, paparan asap rokok pada ibu hamil juga bisa meningkatkan risiko bayi lahir dengan kecenderungan terhadap asma.
Jenis Zat Polutan yang Mempengaruhi Asma
Berbagai jenis polutan udara memengaruhi saluran pernapasan secara berbeda. MengutipMedical News Today,Ozon, oksida nitrogen, dan partikel halus (PM2.5) adalah tiga jenis polutan utama yang paling sering dikaitkan dengan penyakit asma. Zat-zat ini memicu peradangan, stres oksidatif, serta kepekaan berlebih pada saluran pernapasan.
Partikel halus (PM2.5) terdiri dari butiran padat atau cair yang kecil, seperti debu, asap, jelaga, dan partikel logam. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini mampu masuk hingga ke alveoli, yaitu kantung udara dalam paru-paru, sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih parah. Partikel yang berukuran lebih besar, misalnya debu jalan atau serpihan tanah, biasanya tertahan di saluran pernapasan bagian atas. Penelitian tahun 2017 menunjukkan bahwa paparan partikel kasar juga meningkatkan risiko asma serta kebutuhan untuk dirawat inap pada penderita.
Kasus Studi Mengenai Polusi Udara dan Penyakit Asma
Banyak penelitian menunjukkan hubungan erat antara polusi udara dan asma. Sebuah penelitian pada 2017 mengungkapkan bahwa paparan komponen polusi lalu lintas berkaitan positif dengan munculnya gejala asma. Studi retrospektif lainnya menemukan bahwa polusi udara menjadi faktor risiko tersendiri yang bisa memperparah gejala asma, bahkan tanpa adanya infeksi virus.
Penelitian di Denmark menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar konsentrasi PM2.5 yang lebih tinggi memiliki risiko mengalami batuk rejan yang berkepanjangan dan berkembang menjadi asma. Temuan penelitian ini memperkuat bukti bahwa polusi udara memiliki peran signifikan dalam memperparah atau menyebabkan asma baru pada kelompok yang rentan.
Pentingnya Memantau Kualitas Udara
Di Amerika Serikat, kualitas udara diawasi menggunakan Indeks Kualitas Udara (AQI) yang mencerminkan tingkat pencemaran di suatu daerah. Untuk penderita asma, angka AQI yang melebihi 101 sudah dianggap berisiko, sedangkan angka antara 50 hingga 100 juga dapat memperparah gejala pada orang yang rentan. Data ini umumnya bisa ditemukan di situs resmi pemerintah, laporan cuaca, atau aplikasi khusus untuk pemantauan kualitas udara.
Banyak kota memiliki hari khusus yang disebut Action Days, di mana tingkat polusi mencapai tingkat yang membahayakan. Warna kuning menunjukkan risiko sedang bagi orang yang rentan, oranye berarti bahaya bagi kelompok tertentu, sementara merah menandakan udara tidak sehat bagi masyarakat umum. Dengan memahami indikator ini, penderita asma dapat lebih waspada dan mengambil langkah pencegahan.
Cara Mengamankan Diri dari Pencemaran Udara
Mengurangi potensi paparan polusi udara dapat dilakukan dengan cara sederhana. Mengikuti prediksi kualitas udara harian dan menghindari kegiatan di luar ruangan saat tingkat polusi tinggi sangat disarankan. Selain itu, penderita asma sebaiknya menghindari berolahraga dekat jalan yang ramai kendaraan.
Kebiasaan dalam kehidupan juga memengaruhi kualitas udara. Mengurangi penggunaan energi, memakai transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki bisa menekan jumlah emisi yang dihasilkan. Di sisi lain, kebiasaan negatif seperti membakar sampah, merokok di dalam ruangan, atau menggunakan bahan kimia rumah tangga secara berlebihan sebaiknya dihindari.
Faktor-Faktor Lain yang Mempengaruhi Asma
Selain pencemaran, kondisi cuaca juga bisa memicu serangan asma. Udara yang panas dan lembap, badai petir, serta cuaca dingin dan kering sering kali menyebabkan saluran pernapasan menjadi lebih rentan. Kondisi lingkungan di dalam rumah juga sangat berpengaruh. Produk pembersih, bahan konstruksi, perabot rumah tangga, hingga kelembapan berlebih dapat menciptakan polusi udara di dalam ruangan yang memperparah gejala asma. (*)






















