MCNNEWS.ID.CO.ID – JAKARTA PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) menganggap kehadiran Medical Advisory Board (MAB) atau Dewan Penasihat Medis (DPM) mampu mendukung perusahaan dalam mengembangkan inovasi produk di masa depan.
Kepala Layanan Pelanggan dan Pemasaran Prudential Indonesia, Karin Zulkarnaen, menyatakan bahwa masukan dan saran dari DPM tidak hanya berguna dalam hal klaim, tetapi juga dapat menjadi pertimbangan bagi perusahaan dalam merancang produk asuransi di masa depan.
“Maka, bukan hanya untuk kepentingan klaim. Kami juga dapat memperoleh banyak masukan dari Dewan Penasihat Medis dan dimasukkan ke dalam produk-produk atau desain kami di masa depan,” katanya saat diwawancarai di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (2/11/2025).
Karin menjelaskan bahwa pada dasarnya tren medis terus mengalami perubahan. Ia memberikan contoh, 30 tahun yang lalu, seseorang yang menjalani operasi akan mendapatkan perawatan yang lebih luas, namun kini trennya lebih cepat dan cukup dengan operasi berukuran kecil saja.
Dengan demikian, Karin menyatakan bahwa tren di bidang medis yang selalu berubah akan memaksa perusahaan untuk terus melakukan inovasi dalam pengembangan produk ke depannya. Oleh karena itu, menurutnya, Dewan Penasihat Medis juga dapat memberikan kontribusi dalam hal ini.
“Mungkin produk-produk kami perlu lebih kreatif lagi ke depannya. Kami menerima saran dari Dewan Penasihat Medis, sehingga perkembangan produk kami tidak hanya berdasarkan masa lalu, tetapi juga bisa melihat masa depan,” katanya.
Di sisi lain, Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth menyatakan bahwa DPM memiliki peran yang sangat penting dalam memperkuat ekosistem asuransi kesehatan, termasuk dalam proses pengajuan klaim. Ia menjelaskan bahwa keberadaan DPM bertujuan untuk memastikan tidak terjadinya penggunaan berlebihan dalam perawatan serta meninjau pengobatan yang diberikan oleh dokter kepada pasien atau nasabah Prudential.
“Oleh karena itu, kami membutuhkan bantuan atau saran dari para ahli melalui proses utilization review. Hal ini telah ditetapkan dan harus dilaksanakan. Jadi, kami akan memberikan data-data kepada para profesor (yang tergabung dalam DPM), agar mereka dapat melihat perkembangannya,” katanya.
Jika ditemukan hal yang tidak sesuai dengan prosedur, Yosie menyampaikan bahwa DPM nantinya dapat memberikan saran kepada perusahaan asuransi mengenai perbaikan yang harus dilakukan.
“Mereka pasti bisa menyampaikan jika terjadi perubahan, sehingga dapat diberikan saran yang tepat. Jadi, harapan itu. Karena intinya adalah memperkuat ekosistem asuransi kesehatan yang selama ini mungkin mengalami banyak ketidakstabilan dengan tren klaim yang sangat tinggi,” ujar Yosie.
Selanjutnya, Yosie menyampaikan bahwa kehadiran DPM tidak akan mengurangi proses klaim kesehatan yang dilakukan oleh nasabah. Ia menegaskan bahwa DPM juga memiliki peran penting dalam memberikan manfaat tambahan bagi nasabah, seperti layanan perawatan dan pengobatan yang sesuai.
Selanjutnya, Prudential Indonesia secara resmi mendirikan Dewan Penasihat Medis sendiri. Yosie menjelaskan alasan Prudential Indonesia membentuk DPM secara mandiri karena Prudential merupakan perusahaan asuransi besar yang memiliki jumlah klaim kesehatan yang juga besar.
“Maka, perusahaan kami sudah sangat besar (ukuran perusahaan). Kami menyadari bahwa nanti jika berbagi (membentuk DPM secara bersama), tentu akan mengganggu rekan-rekan lainnya. Kompleksitas bisnis kami juga mungkin berbeda dengan rekan-rekan yang lain. Jadi, kami memutuskan untuk berdiri sendiri,” katanya.
Yosie juga menyebutkan bahwa DPM yang dibentuk akan digunakan oleh Prudential Indonesia dan Prudential Syariah. Mengenai struktur anggota, ia menjelaskan bahwa DPM yang dibentuk oleh Prudential Indonesia terdiri dari 3 dokter spesialis, yaitu Abdul Muthalib yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam, Muhammad Yamin sebagai dokter spesialis jantung, serta Andri Maruli Tua Lubis yang merupakan dokter spesialis ortopedi. Mereka nantinya akan berperan dalam melakukan peninjauan medis dan memberikan saran kepada Prudential Indonesia.
“Maka, terdapat dokter spesialis penyakit dalam, spesialis jantung, serta spesialis ortopedi,” katanya.
Yosie menjelaskan bahwa fokus utama Prudential Indonesia dalam mengisi DPM adalah dengan 3 dokter spesialis, yang tidak dapat dipisahkan dari tingginya jumlah klaim kesehatan. Sampai bulan September 2025, total klaim yang telah dibayarkan oleh perusahaan mencapai Rp 11,6 triliun. Klaim tersebut meliputi klaim jiwa, klaim kesehatan, klaim penyakit mematikan, dan lainnya.
“Maka, kami melihat bahwa karena klaim-klaim yang tinggi tersebut, kami memprioritaskan tiga subspesialis, yaitu kanker, jantung, dan ortopedi. Jadi, cukup mencakup berbagai spesialis yang berbeda agar saling melengkapi,” kata Yosie.
Penulis
Shanny Ratman adalah seorang wirausahawan dan pengelola media yang telah menekuni dunia usaha sejak 1997. Berstatus menikah, ia memulai karier sebagai Captain Restaurant di Inasuki Japanese Restaurant, Bandung. Tahun 1999, ia merintis usaha kuliner dengan berjualan makanan Eropa di kawasan Cibadak, Bandung, lalu pada 2001 membuka warung makan di Ciamis.
Pengalamannya berkembang ke bidang event organizer sebagai crew EO di Bandung sejak 2015. Pada 2018, ia mengikuti pelatihan entrepreneur bersama EntrepreneurID secara online dan menjalankan bisnis online hingga 2020. Tahun 2022, ia kembali ke Ciamis untuk mengembangkan bisnis kuliner, dan sejak 2023 aktif berkolaborasi membuka usaha kuliner yang terus berjalan hingga kini.
Selain itu, sejak 2025 Shanny turut membangun dan mengelola portal berita mcnnews.id sebagai admin. Dengan pengalaman di bidang kuliner, event, bisnis digital, dan media, ia dikenal sebagai pribadi adaptif, konsisten, dan berorientasi pada kolaborasi serta pengembangan usaha berkelanjutan.













