MCNNEWS.IDDi tepi pantai yang damai di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, seorang pria berdiri sambil memandang hutan bakau yang hijau dan tumbuh subur di antara lumpur serta perubahan pasang surut air laut. Namanya Wiyatmoko. Ia bukan seorang pejabat atau pengusaha besar. Namun bagi sebagian masyarakat pesisir, ia adalah sosok yang menggabungkan cinta terhadap alam dengan tindakan nyata.
“Tanam pohon bakau, lindungi kepiting. Itu adalah kebaikan alam jika kita bersedia bertindak,” tulisnya dalam unggahan media sosial yang kini banyak disebarkan. Kalimat sederhana ini menjadi mantra bagi siapa pun yang percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tanah liat kecil di tepi laut.
Wiyatmoko, pengamat lingkungan yang lebih senang dipanggil “teman bakau”, telah menanam ribuan pohon di sepanjang garis pantai Tolitoli. Ia tidak bekerja sendirian. Di belakangnya terdapat teman-teman muda, para nelayan, serta siswa sekolah yang ia ajak untuk menanam sambil belajar.
“Kami tidak sedang mengerjakan proyek, hanya ingin meninggalkan sesuatu yang bisa berkembang setelah kami pergi,” katanya di sebuah kafe sederhana di kawasan Masjid Agung Al-Mubarak, Tolitoli, pada sore hari. Di meja, secangkir kopi yang dingin mulai berembun sementara matanya tetap menatap ke arah laut.
Di sebuah kabupaten kecil, di mana pantai menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, Wiyatmoko berpendapat bahwa ekosistem adalah warisan, bukan sekadar aset. Ia memahami betul bagaimana satu hektare hutan bakau mampu bertindak sebagai penghalang alami terhadap erosi dan menjadi tempat tinggal bagi ribuan makhluk laut.
Berdasarkan catatan komunitasnya, lebih dari seratus hektar daerah pesisir telah ditanami kembali dengan pohon bakau. Tidak ada dukungan finansial besar, tidak ada perayaan yang mewah. Semuanya berlangsung perlahan, tetapi konsisten—seperti cara alam bekerja.
“Jika satu orang menanam seribu pohon, dan seribu orang menanam satu pohon, hasilnya sama,” katanya dengan pelan. Prinsip sederhana ini menjadi landasan pergerakannya. Ia tidak menunggu kebijakan, tidak menantikan anggaran, hanya keyakinan bahwa kebaikan lingkungan selalu kembali kepada manusia.
Di Tolitoli, nama Wiyatmoko mulai dikenal bukan karena pidatinya, melainkan karena jejak lumpur di kakinya. Di setiap akar bakau yang tumbuh, terdapat karya tangannya. Di setiap kepiting yang kembali ke sarangnya, ada bukti dari kesabarannya.
Wakil Bupati Tolitoli, Moh. Besar Bantilan, yang juga terkenal peduli terhadap lingkungan, menyebut Wiyatmoko sebagai “contoh kecil dari perubahan besar yang bisa muncul dari hati.” Pada kesempatan tertentu, ia mengatakan, “Wiyatmoko dan teman-temannya layak dihargai. Mereka tidak hanya menanam pohon, tetapi menanam kesadaran.”
Namun, pendekatan Bantilan dalam mencintai lingkungan sedikit berbeda. Sebagai seorang politisi yang juga seorang petani di waktu senggangnya, ia lebih memilih berkebun, menanam pohon buah, serta mengajarkan warga desa untuk memanfaatkan pekarangan rumah mereka. “Bagi saya, berkebun adalah meditasi. Nilainya sama dengan menanam bakau,” ujarnya.
Dua pendekatan ini—pohon bakau di pesisir dan kebun di darat—menggambarkan bahwa cinta terhadap bumi memiliki berbagai wujud. Di Tolitoli, rasa cinta itu tidak hanya berkembang di dalam laboratorium atau acara seminar, tetapi juga di tanah liat dan tanah, di akar serta daun yang terus berkembang.
Pada percakapan malam itu, Wiyatmoko sempat mengenang masa kecilnya. Ia besar di tepi pantai, di mana setiap badai selalu membawa bahaya. “Dulu, rumah kami sering terendam air laut. Setelah pohon bakau tumbuh, lautan menjadi lebih ramah,” katanya sambil tersenyum.
Ia memahami bahwa perjuangan ini tidak akan berakhir di generasinya. Ia berharap, suatu saat nanti, Tolitoli dikenal bukan hanya karena keindahan lautnya, tetapi juga karena masyarakat yang menjaga laut dengan penuh kasih.
“Jika kita berhenti menanam, kita berhenti berharap,” ujarnya menyelesaikan percakapan. Kalimat itu terasa menggantung di udara, sederhana namun tajam, seperti akar bakau yang menembus lumpur untuk mencari kehidupan.
Di tengah perubahan iklim yang semakin tidak pasti, kisah seperti Wiyatmoko mengingatkan bahwa alam tidak meminta banyak—hanya sedikit kebaikan yang tulus. Dan di Tolitoli, di antara suara ombak dan aroma lumpur laut, kebaikan itu masih berkembang, perlahan namun pasti.***






















