Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Kesehatan

Wajib Baca! Semua Perempuan Perlu Tahu PCOS: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

1
×

Wajib Baca! Semua Perempuan Perlu Tahu PCOS: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MCNNEWS.IDSetiap organ di dalam tubuh memiliki peran penting yang saling terkait. Jika satu organ berfungsi tidak optimal, hal ini dapat menyebabkan gangguan atau bahkan masalah pada organ lainnya.

Perubahan hormon, peradangan, atau kondisi medis tertentu juga bisa berdampak pada kesehatan seluruh organ tubuh. Oleh karena itu, menjaga kesehatan organ sangatlah penting.

Example 300x600

Baik laki-laki maupun perempuan memiliki alat reproduksi yang berbeda, namun keduanya dapat mengalami kendala ketika terjadi ketidakseimbangan hormon.

Bagi wanita, salah satu kondisi yang sering muncul adalah sindrom ovarium polikistik ataupolycystic ovarian syndrome (PCOS).

Apa itu PCOS?

Dikutip dari Halodoc, PCOS merupakan kondisi medis di mana sel telur tidak berkembang secara normal akibat ketidakseimbangan hormon.

Saat seseorang menderita PCOS, kelenjar ovarium mereka menghasilkan androgen berlebihan. Padahal, androgen merupakan hormon seks laki-laki yang hanya terdapat dalam jumlah sedikit pada wanita.

Hormon androgen yang berlebih dapat menyebabkan indung telur membentuk banyak kantong yang berisi cairan atau kista.

Oleh karena itu, pada akhirnya sel telur tidak mampu berkembang secara optimal hingga tidak dapat dilepaskan secara teratur. Akibatnya, kondisi ini menyebabkan kesulitan bagi perempuan dalam memiliki anak karena siklus menstruasi yang tidak stabil.

Dilansir dari Cleveland Clinic, wanita dapat mengalami PCOS kapan saja setelah melewati masa remajanya. Kebanyakan kasus ditemukan pada perempuan berusia 20 hingga 30-an, atau diketahui saat mencoba untuk hamil.

Perempuan yang mengalami obesitas atau memiliki anggota keluarga dengan masalah serupa berisiko tinggi mengidap kondisi tersebut.

Gejala dan ciri-ciri

Dilansir dari Alodokter,PCOS bisa muncul sejak siklus haid pertama seorang wanita. Namun, biasanya baru diketahui setelah mereka mengunjungi dokter saat sudah dewasa.

Meskipun demikian, terdapat beberapa tanda yang bisa kita perhatikan sebelum mengunjungi dokter spesialis.

1. Menstruasi tidak teratur

Kondisi ini umumnya ditandai dengan siklus menstruasi yang tidak teratur atau berlangsung lama. Wanita dengan PCOS mungkin hanya mengalami haid kurang dari 8-9 kali dalam setahun. Jarak antara periode menstruasi bisa lebih pendek dari 21 hari atau lebih dari 35 hari, bahkan bisa disertai darah menstruasi yang banyak.

2. Pertumbuhan rambut yang tidak normal

Seseorang yang mengalami kondisi ini bisa tiba-tiba mengalami pertumbuhan rambut di bagian-bagian tubuh lain, seperti lengan, dada, dan perut. Kondisi terbaru ini dikenal sebagai hirsutisme.

3. Jerawat

PCOS dapat memicu munculnya jerawat, khususnya di bagian punggung, dada, dan wajah. Kondisi ini bisa berlangsung sejak masa remaja hingga dewasa, dan umumnya lebih sulit ditangani.

4. Kista pada ovarium

Pasien PCOS umumnya juga mengalami pembesaran pada ovarium. Kondisi ini sering disertai dengan adanya banyak kista di dalam ovarium. Hal ini terjadi karena selama siklus menstruasi, ovarium memproduksi beberapa kantung berisi cairan yang akhirnya membesar. Namun, kantung-kantung tersebut tidak mengalami pematangan, sehingga tetap berada di dalam ovarium.

5. Kulit menggelap

Pasien PCOS mungkin mengalami perubahan warna kulit yang tiba-tiba pada beberapa bagian tubuh. Khususnya di leher, ketiak, lipatan paha, dan area di bawah payudara. Keadaan ini disebut acanthosis nigricans.

Masih terdapat beberapa gejala tambahan yang bisa muncul pada individu yang mengidap PCOS. Namun, ada juga penderita PCOS yang tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun.

Oleh karena itu, banyak di antara mereka tidak menyadari adanya PCOS hingga mencoba untuk memiliki anak.

Penyebab

Sebenarnya penyebab pasti sindrom ovarium polikistik belum diketahui secara pasti. Meskipun faktor genetik bisa berperan, terdapat juga kondisi-kondisi lain yang dapat turut menyebabkan PCOS.

Penyebab paling umum adalah kadar hormon androgen yang tinggi. Akibat dari hormon ini, ovarium tidak mampu melepaskan sel telur, sehingga juga menyebabkan siklus menstruasi yang tidak teratur.

Ditemukan pula bahwa resistensi insulin yang tinggi dapat menyebabkan ovarium menghasilkan hormon androgen. Insulin seharusnya membantu tubuh kita dalam memproses glukosa dan mengubahnya menjadi energi.

Ketika tubuh kita mengalami penolakan terhadap insulin, maka tubuh tidak mampu menyerap insulin secara efisien, yang menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat. Kondisi obesitas juga berkontribusi pada resistensi terhadap insulin.

Orang yang mengidap PCOS seringkali mengalami peradangan kronis yang ringan. Kondisi ini dapat diuji melalui pemeriksaan darah untuk mengetahui tingkat protein C-reaktif (CRP) dan jumlah sel darah putih, sehingga dapat diketahui apakah terdapat peradangan dalam tubuh. Orang dengan sindrom ovarium polikistik cenderung mengalami peradangan jangka panjang yang rendah. Hal ini bisa diperiksa melalui tes darah untuk mengukur kadar protein C-reaktif (CRP) dan sel darah putih, yang akan menunjukkan apakah ada proses peradangan dalam tubuh. Individu yang menderita PCOS biasanya mengalami peradangan kronis yang tidak terlalu parah. Pemeriksaan darah dapat digunakan untuk mengecek kadar protein C-reaktif (CRP) dan jumlah sel darah putih, sehingga dapat diketahui apakah terjadi peradangan di dalam tubuh.

Konsultasi ke dokter

Keadaan ini dapat membuat penderitanya kesulitan dalam mendapatkan kehamilan, sekaligus berisiko mengalami persalinan prematur bagi yang sudah dalam kondisi hamil.

Selain itu, mereka juga berisiko mengalami keguguran, menderita tekanan darah tinggi, serta diabetes selama kehamilan. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin ke dokter kandungan selama masa kehamilan sangat dianjurkan agar kondisi kesehatan ibu dan janin tetap terpantau.

Untuk mengetahui kondisi ini, dokter perlu melakukan beberapa pemeriksaan, seperti tes darah dan ultrasound. Setelah itu, dokter bisa menyarankan berbagai langkah pengobatan.

Dokter mungkin menyarankan pasiennya untuk mengganti pola makan mereka. Hal ini dapat membantu menurunkan risiko kegemukan serta mendukung fungsi insulin.

Dokter juga mampu memberikan resep obat untuk mengatur siklus menstruasi, memperbaiki keseimbangan hormon, hingga pengobatan diabetes. (*)

Penulis

Author Profile
Onwer di  | Web

Berusaha untuk menjadi lebih baik dengan membangun bisnis kuliner dan menjalankan dunia website yang memang menjadi konsen selama ini sejak tahun 1998

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250
Example 728x250