Jika mendengar istilah “utang sehat”, terasa cukup menenangkan, bukan? Seperti ada jenis pinjaman yang justru bisa memperbaiki keadaan keuanganmu. Contohnya utang untuk membeli rumah, biaya pendidikan, atau modal usaha yang mampu menghasilkan keuntungan. Secara teori, hal ini terdengar logis, namun dalam praktiknya tidak semudah itu.
Utang tetap merupakan kewajiban, yang berarti kamu memiliki tanggung jawab untuk membayar cicilan secara rutin beserta bunga dan biaya tambahan. Jika salah mengambil langkah, utang yang disebut sehat justru bisa menjadi beban keuangan yang berkepanjangan. Terlebih jika digunakan untuk investasi yang memiliki risiko tinggi, sementara kemampuan pembayaran kamu terbatas.
Sebelum tergoda dengan istilah tersebut, sebaiknya kamu lebih dahulu memahami berbagai risiko yang sebenarnya tersembunyi di balik pinjaman yang sering disebut sebagai “utang sehat”.
1. Cicilan yang harus dibayar mungkin melebihi kemampuanmu
Banyak orang menganggap bahwa selama bunga pinjaman lebih rendah daripada keuntungan yang diharapkan dari investasi, maka itu tergolong aman. Namun, belum tentu besaran cicilan bulanan sesuai dengan kondisi keuangan Anda.
Seorang ahli keuangan, Daphne Lye dariMoneyOwl, menekankan bahwa sebaiknya rasio utangmu tidak melebihi 35% dari penghasilan bulanan. Jika lebih, keuangan harian bisa menjadi ketat. Akhirnya kamu mungkin stres karena merasa gaji hanya digunakan untuk membayar cicilan.
2. Bahaya dalam berinvestasi sering kali lebih besar daripada yang terlihat
Meminjam uang untuk berinvestasi memang terlihat menggiurkan. Jikareturn investasinya lebih besar daripada bunga pinjaman, kamu mendapat keuntungan.
Tetapi pasar tersebut tidak dapat diprediksi. Lawrence Tan,senior manager di Institute for Financial Literacy,mengingatkan bahwa mengambil pinjaman sekaligus berinvestasi sama artinya dengan memperbesar risiko. Ketika investasi mengalami kerugian, cicilan tetap harus dibayarkan. Akhirnya kamu tidak hanya tidak mendapatkan keuntungan, tetapi justru mengalami kerugian karena harus menggunakan dana lain untuk menutupi kerugian tersebut.
3. Biaya tambahan sering mengejutkan orang
Pinjaman tidak hanya terbatas pada bunga. Terdapat biaya administrasi, denda keterlambatan, bahkan denda jika kamu membayar lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.
Mark Tan, head of commercial di MoneySmart Financial, mengingatkan bahwa banyak orang terjebak karena tidak mempertimbangkan biaya tambahan ini dari awal. Akibatnya, jumlah uang yang dikeluarkan bisa jauh melebihi perkiraan. Jika tidak waspada, pinjaman yang awalnya terasa ringan bisa berubah menjadi beban berat.
4. Tenor panjang dapat menimbulkan kerugian secara psikologis
Mengambil kredit dengan jangka waktu yang panjang memang membuat cicilan terasa lebih mudah. Namun, dampaknya, beban hutang akan terus mengganggu dalam periode yang lama.
Mark Tan menyarankan untuk memilih jangka waktu pinjaman yang sependek mungkin sesuai dengan kemampuan pembayaran, karena semakin lama tenor, semakin besar jumlah bunga total yang harus dibayarkan. Selain risiko keuangan, secara psikologis kamu mungkin merasa terbebani oleh utang yang berlangsung bertahun-tahun, sehingga mengurangi fleksibilitas keuanganmu.
5. Kehilangan kemampuan untuk mengatur keuangan secara fleksibel
Jika sebagian besar penghasilanmu telah digunakan untuk pembayaran cicilan, maka kemampuan keuanganmu menjadi terbatas. Kamu akan kesulitan menyisihkan dana darurat atau tabungan untuk keperluan yang tidak terduga.
Daphne Lye juga menegaskan bahwa melunasi utang terlalu cepat bisa membawa risiko, karena uangmu akan terjebak dalam aset yang tidak mudah dicairkan, seperti properti. Jika tiba-tiba membutuhkan dana mendadak, kamu mungkin kesulitan karena seluruh dana sudah digunakan untuk pembayaran cicilan.
Istilah “utang sehat” memang membuat pinjaman terdengar lebih ramah, namun kenyataannya risiko tetap tinggi. Mulai dari cicilan yang bisa memberatkan, investasi yang tidak menjamin, hingga biaya tambahan yang sering kali tidak terhitung dengan benar.
Sebelum membuat keputusan, kamu harus benar-benar mengevaluasi situasi keuangan pribadimu. Ingatlah, pinjaman dikatakan sehat hanya jika sesuai dengan kemampuanmu dan tidak membuatmu kehilangan kendali atas keuanganmu sendiri. Oleh karena itu, jangan mudah tergiur dengan label menarik “utang sehat”, ya.
Cara Efektif Mengatasi Utang: Ikuti 5 Tahapan Metode Stack Ini 5 Kesalahan Serius yang Sering Terjadi Saat Menerapkan Metode Snowball dalam Melunasi Hutang 5 Tanda Kamu Sudah Tersangkut dalam Siklus Hutang Konsumsi



























