MCNNEWS.ID– Fenomena toxic relationshipkini semakin menimbulkan kekhawatiran. Banyak remaja yang terjebak dalam hubungan yang tidak sehat hingga mengalami gangguan depresi, rasa cemas, bahkan trauma emosional. Hubungan yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman, justru berubah menjadi sumber luka batin yang mengancam kesehatan mental kalangan muda.
Dikutip dari Alodokter dan Halodoc,toxic relationshipdikenal sebagai interaksi yang penuh dengan tindakan merusak. Bentuknya dapat berupa kritik yang berlebihan, penghinaan emosional, atau bahkan ketidakhadiran. hubungan yang beracun ini bisa terjadi dalam hubungan cinta, keluarga, maupun pertemanan.
Salah satu dampak yang jelas terlihat adalah gangguannya terhadap kesehatan mental remaja. Mereka yang terlibat dalam situasi tersebut memiliki risiko tinggi mengalami tekanan berkelanjutan, depresi, serta gangguan kecemasan yang sulit dikelola.
Pemicu utama yang tidak sehat adalah komunikasi yang tidak baik. Kritik yang merendahkan, ejekan, serta ketidakmauan untuk mendengarkan dapat mengurangi rasa percaya diri. Akibatnya, hubungan yang seharusnya memberikan dukungan justru menjadi sumber tekanan.
Dalam jangka panjang, remaja juga berpotensi mengalami isolasi dari lingkungan sosialnya. Banyak dari mereka akhirnya menutup diri, tidak suka berkomunikasi, dan terjebak dalam rasa kesepian. Kondisi ini memperburuk masalah kesehatan mental yang sudah mereka alami.
Selain itu, harga diri remaja juga bisa hancur. Perlakuan yang merendahkan secara terus-menerus membuat mereka merasa tidak berarti. Keraguan terhadap kemampuan pribadi muncul, bahkan menghilangkan keyakinan untuk mengejar mimpi mereka.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders mengungkapkan, toxic relationshiptelah terbukti meningkatkan risiko stres dan kecemasan. Sebaliknya, hubungan yang baik mampu memberikan rasa aman, kenyamanan emosional, serta dorongan untuk berkembang.
Dampak lain yang tidak kalah berbahaya adalah hilangnya kebiasaan baik. Banyak remaja mulai meninggalkan kebiasaan olahraga, pola tidur yang sehat, hingga perawatan diri. Bahkan, sebagian besar mengabaikan kebersihan pribadi karena terlalu tenggelam dalam energi negatif.
Ketidaknyamanan dalam hubungan dapat memicu pola pikir yang negatif. Energi negatif yang dibawa ke kehidupan sehari-hari membuat remaja melihat dunia dengan pandangan pesimis dan penuh tekanan.
Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi tanda-tanda toxic relationshipsejak dini. Ciri-cirinya bisa berupa penghinaan secara lisan, kekerasan fisik, rasa iri yang berlebihan, selalu diawasi oleh pasangan, selalu dicurigai dan dibatasi, hingga kurangnya dukungan emosional dari pasangan.
Untuk mengatasi toxic relationship,terdapat beberapa tahapan yang bisa diambil. Tahap pertama ialah menyadari dan mengakui bahwa hubungan yang sedang dijalani memang termasuk dalam kategori tidak sehat. Selanjutnya, penting untuk meninjau kembali diri dengan bertanya, “Apakah hubungan ini membuat saya kehilangan rasa percaya diri dan merasa tertekan?” sikap tegas juga diperlukan, yaitu dengan berani menyampaikan perasaan secara jujur dan keras.
Di sisi lain, korban sebaiknya menurunkan harapan terhadap pasangan yang beracun, karena perubahan nyata hanya bisa terjadi jika orang tersebut bersedia melakukan perubahan sendiri. Fokus pada diri sendiri juga penting, misalnya dengan melakukan kegiatan yang membuat tenang seperti yoga, meditasi, atau perawatan diri.
Selain itu, batasi waktu yang dihabiskan bersama orang-orang yang hanya menimbulkan stres dan tidak memberikan kebahagiaan. Terakhir, temukan lingkungan pertemanan yang penuh dengan energi positif yang bisa menjadi sistem pendukung untuk keluar dari hubungan yang…toxic.
Toxic relationshiptidak boleh dianggap remeh. Jika dibiarkan, hubungan yang tidak sehat ini dapat merusak masa depan kalangan muda. Dengan kesadaran, dukungan, dan penanganan yang tepat, para remaja bisa kembali membangun hubungan yang baik sambil menjaga kesehatan pikirannya. (*)






















