Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Artikel

Teh Sehat untuk Donasi

3
×

Teh Sehat untuk Donasi

Sebarkan artikel ini
teh sehat
Example 468x60

Tradisi Minum Teh dalam Kehidupan Sehari-hari

Teh panas yang disajikan Mbah Samin di meja kantor guru menjadi simbol kekuatan dan semangat bagi para guru. Setiap hari, ketika teh itu tiba, rasanya ada sesuatu yang kurang jika tidak mendapatkannya. Mbah Samin adalah salah satu penjaga sekolah yang berusia sekitar 70 tahun. Ia selalu senang ketika kami mengucapkan terima kasih setiap kali ia menyajikan teh. Bahkan, wajahnya terlihat lebih cerah ketika kami meminum teh hingga habis.

Di rumah, minum teh sudah menjadi tradisi sejak saya kecil. Setiap pagi, ibu selalu merebus air menggunakan tungku dengan kayu bakar. Menurut ibu, cara ini lebih cepat mendidih dibanding menggunakan kompor. Meskipun hanya kebiasaan, ia tetap memilih metode ini karena dari dulu hingga sekarang ia lebih nyaman memasak dengan kayu bakar.

Example 300x600

Setelah air mendidih, ibu menuangkan air ke dalam teko yang telah diisi daun teh. Sebagian air digunakan untuk mengisi termos, dan sisa air direbus lagi jika diperlukan. Nenek yang bangun sejak pagi buta selalu menunggu teh dari ibu. Saat saya masih sekolah, nenek selalu membuatkan teh manis sebelum berangkat ke sekolah. Kini, bahkan hingga sekarang, jika pagi belum minum teh, rasa tubuh terasa tidak sehat. Minum teh tidak hanya memberikan energi dan semangat, tapi juga diyakini sebagai cara menjaga kesehatan tubuh.

Pengalaman dengan Penjual Teh Sukawa

Suatu ketika, desa saya kedatangan sales penjual teh. Warga berkumpul di rumah Bu RT untuk mendengarkan presentasi tentang produk mereka. Teh yang ditawarkan bernama Sukawa dengan harga 200.000 rupiah, bisa dicicil selama tiga bulan. Sales tersebut menyatakan bahwa teh ini mampu mengatasi berbagai penyakit seperti menurunkan kolesterol, menjaga tekanan darah, serta kesehatan jantung dan tulang.

Banyak warga, termasuk ibu saya, membeli teh ini karena percaya akan manfaatnya. Bahkan warga dengan ekonomi menengah ke bawah pun ikut membeli. Ada yang membeli karena gengsi atau sungkan jika tidak membeli. Ibu mengatakan bahwa penjual menyebutkan takaran teh hanya satu sendok, bukan sepucuk. Namun, setelah mencoba, saya merasa teh terlalu encer. Saya kemudian membaca petunjuk di toples dan menemukan bahwa sebenarnya takarannya satu sendok, bukan sepucuk. Saya langsung memberitahu ibu tentang kesalahan tersebut.

Tanpa sepengetahuan ibu, saya mencampur teh Sukawa dengan teh Dandang agar segera habis karena masa kedaluwarsanya tinggal tiga bulan.

Tradisi Jagong dan Perbedaan Budaya di Daerah

Di Wonogiri, teh tidak hanya digunakan untuk minum, tetapi juga untuk jagong. Jagong adalah istilah dalam bahasa Jawa yang artinya menghadiri acara hajatan seperti pernikahan, sunatan, atau lahiran. Di daerah lain, istilah ini dikenal sebagai kondangan.

Suami saya berasal dari Grobogan, Purwodadi. Meskipun sama-sama di Provinsi Jawa Tengah, tradisi jagong di daerahnya berbeda. Di sana, tamu biasanya hanya membawa sedikit, seperti minyak dan kerupuk. Sementara di daerah saya, jika menghadiri undangan, kita harus membawa banyak barang seperti beras, gula, teh Dandang, minyak, dan kelapa.

Barang yang dibawa akan dicatat dan dikembalikan saat kita memiliki acara. Beras, gula, teh, dan minyak biasanya dijual ke tengkulak agar bisa diganti dengan uang. Ibu sering membeli beras, gula, dan teh ke tengkulak karena harganya lebih murah.

Ketika pulang dari jagong, kita akan mendapatkan nasi dan lauk sesuai barang yang dibawa. Jika membawa beras, gula, dan teh, maka akan diberi nasi dua giling, daging sapi, tahu, dan bihun. Jika hanya membawa beras, hanya diberi nasi satu giling, tahu, dan bihun.

Suami saya juga mengatakan bahwa di daerahnya tidak ada tradisi menyajikan teh panas saat jagong karena dianggap ribet. Hanya air putih gelasan saja yang disajikan. Di daerah saya, teh panas merupakan simbol penghormatan kepada tamu. Saat ada tamu seperti menjenguk orang sakit, pengajian, syukuran, atau menjenguk orang melahirkan, pasti diberi hidangan teh panas.

Teh sebagai Simbol Budaya dan Bisnis

Minum teh telah menjadi simbol budaya di daerah saya. Tak heran jika di pinggir jalan banyak penjual franchise teh. Salah satu yang terkenal adalah Ginastel, produk teh asli dari Sukoharjo. Kata “Ginastel” berasal dari leGi (manis), PaNas (panas), dan kenTel (kental), yang menggambarkan karakteristik teh racikan khas Solo.

Es teh Ginastel sangat diminati karena rasanya segar dan nikmat, terlebih saat cuaca panas. Harganya terjangkau, hanya 3000 rupiah per gelas. Jika memesan banyak, penjual biasanya mau mengantarkan dan memberi bonus. Di tempat langganan saya, setiap membeli lima es teh Ginastel, saya mendapatkan bonus satu es teh lagi.

Itulah pengalaman saya dalam dunia ngeteh. Mulai dari tradisi keluarga hingga bisnis teh yang terus berkembang.


Penulis

Author Profile
Onwer di  | Web

Berusaha untuk menjadi lebih baik dengan membangun bisnis kuliner dan menjalankan dunia website yang memang menjadi konsen selama ini sejak tahun 1998

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250
Example 728x250